TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Ada pertemuan yang mengingatkan kita bahwa di balik senyum getir seseorang, tersimpan luka yang tak pernah ia ceritakan. Itulah yang dirasakan Jestham ketika melihat seorang bapak tua duduk termenung di becak kayuhnya. Langkahnya pelan, tubuhnya renta, namun ia tetap setia menunggu sewa yang tak kunjung datang. "Bapak, lagi ngapain?" sapa Jestham lembut. Dengan suara parau, bapak itu menjawab, "Bagaimana gak sedih ini hari, sepi kali Bu." Jestham terdiam. Ia tahu, di balik kalimat sederhana itu, ada perjuangan yang berat.

Melihat kesedihan di wajah sang bapak, Jestham tergerak. "Bapak, saya ada rezeki dari Tuhan, kita belanja sembako sepuasnya mau nggak?" tawarnya. Bapak itu langsung mengadahkan tangan, mengucap syukur berkali-kali. Tanpa pikir panjang, ia mengikuti Jestham menuju minimarket terdekat. Sesampainya di sana, sang bapak mengaku sesuatu yang membuat hati Jestham tercekat. "Saya belum pernah masuk ke sini, Bu. Baru sekali ini," ujarnya polos. Sebuah pengakuan sederhana yang menggambarkan betapa jauh jarak antara kesehariannya dan kemewahan sebuah minimarket.

Sujud Syukur di Lantai Minimarket:
Jestham membantu bapak becak tukang becak memasukkan beras dan kebutuhan pokok ke dalam keranjang belanjaan di minimarket.

Di dalam toko, Jestham bertanya, "Kebutuhan rumah yang paling penting saat ini apa?" Bapak itu menjawab dengan suara bergetar, "Beras, minyak, habis total, kami beli sekilo dua kilo." Jestham pun mempersilakannya mengambil satu per satu kebutuhan pokok. "Silakan ambil, Bapak," ucapnya sambil terus menambahkan beras ke keranjang. Saat ditanya berapa orang di rumah, bapak itu menjawab tiga orang, dan juga mengaku pernah tidak bisa makan sama sekali. Mendengar itu, Jestham menambahkan beberapa karung beras lagi. Tiba-tiba, bapak itu berkata dengan suara lirih, "Saya nggak cerita yang enggak-enggak, kenyataannya, Bu." Air matanya mulai menggenang. "Uang kontrakan pun belum ada. Di caci maki orang saya."

Jestham menenangkan sang bapak dan mengajaknya melanjutkan belanja. Mereka menuju rak mi instan. Namun bapak itu ragu. "Saya nggak berani mengambil berlebihan, karena apa yang ada di situ saya terima," ujarnya penuh syukur. Jestham tersenyum dan meyakinkan, "Rezeki loh, Bapak. Nggak apa-apa yaa." Ia pun menambahkan minyak goreng, sabun, telur, dan berbagai kebutuhan pokok lainnya ke dalam keranjang. Melihat semua yang terkumpul, bapak itu tak kuasa menahan haru. "Saya mau berdoa dulu, Bu," pintanya. Jestham mempersilakan. Dengan tangan menadah, bapak itu memanjatkan doa syukur, air matanya jatuh membasahi pipi. "Alhamdulillah ya Bapak, rezeki hari ini. Ini kita mau bayar dulu, setelah itu bisa Bapak bawa pulang ya, Bapak," ucap Jestham lembut.

Jestham membantu bapak becak tukang becak
Tak kuasa menahan rasa haru, bapak becak kayuh ini berdoa dengan linangan air mata atas rezeki yang diterimanya.

Sembari menunggu pembayaran, mereka kembali berbincang. Bapak berusia 63 tahun itu bercerita bahwa ia memiliki dua orang anak, namun satu telah meninggal. Ia sangat ingin menyekolahkan anaknya setinggi-tingginya, tapi tak mampu karena keterbatasannya sebagai tukang becak. Jestham mendengarkan dengan seksama. Lalu, bapak itu teringat sesuatu. "Iya, yang punya kontrakan sudah datang, perlu uang 2 juta lebih. Saya cuma bisa bilang nanti lah bulan 10 kami bayar lunas. Mau di usirnya saya," ujarnya getir. Ia juga menceritakan bagaimana tadi ia mencari sewa, bingung harus mencari ke mana lagi. Jestham hanya bisa mengangguk, merasakan beban yang begitu berat di pundak seorang bapak tua.

Jestham kemudian memperhatikan sesuatu. "Bapak, saya minta maaf saya minta izin Bapak, baju belakangnya koyak. Saya minta maaf mau tanya, baju di rumah sehari-hari pakai tidak ada ya, Bapak?" tanyanya hati-hati. Bapak itu menjawab bahwa di rumah hanya ada tiga sampai empat pakaian saja. Jestham pun berkata, "Bapak tadi kan katanya mau pakai uang untuk bayar kontrakan, ini saya ada sedikit rezeki." Belum sempat Jestham melanjutkan, bapak itu sudah terisak. Ia tak menyangka akan mendapat bantuan seperti ini. "Nggak pernah ada orang sebaik ini ke saya, Bu," ucapnya sambil menangis. "Rezeki hari ini ya, Bapak. Mana tau bisa juga untuk bantu beli baju ya, Bapak," ucap Jestham menenangkan.

 

Tiba-tiba, sesuatu yang tak terduga terjadi. Bapak itu langsung bersujud di lantai minimarket. "Alhamdulillah, makasih ya Bu, makasih udah membantu saya. Ya Allah hamba bersujud syukur kepada Engkau ya Allah," tangisnya pecah. Ia benar-benar tak kuasa menahan haru. Jestham tertegun, hatinya teriris melihat pemandangan itu. Dengan lembut ia berkata, "Berkah buat kita semua ya, Bapak. Bapak saya doakan sehat selalu. Semoga apa yang diberi sama Tuhan hari ini bisa membantu Bapak, ya." Bapak itu masih tersedu, masih bersujud, masih mengucap syukur berulang-ulang.

 

Sebelum berpisah, Jestham memastikan semua barang sudah dibayar. "Bapak, ini barang-barang semua sudah dibayar Koko. Nanti Bapak boleh bawa pulang. Semoga anak-anak semua di rumah senang ya, Bapak," ucapnya sambil berpamitan. Bapak itu mengangguk, matanya masih basah, namun senyumnya kini merekah. "Alhamdulillah, terima kasih banyak yaa, Bu," ucapnya dengan suara bergetar.

Kisah ini mengajarkan kita bahwa sujud syukur bukan hanya dilakukan di atas sajadah, tapi juga bisa terjadi di mana pun, ketika seseorang merasa benar-benar tidak lagi sendiri. Bapak becak kayuh itu mungkin tidak memiliki banyak hal di dunia ini, tapi ia memiliki hati yang penuh syukur. Dan Jestham, dengan ketulusannya, telah menjadi perantara rezeki yang mengubah harinya. Semoga kita semua selalu diberi kepekaan untuk melihat mereka yang membutuhkan, dan keberanian untuk menjadi alasan senyum bagi sesama. (11/05/26)


Referensi
https://www.tiktok.com/@jesicathamrin/video/7638900669482601736

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.