Sampah plastik yang terbawa ke laut melalui sungai dan saluran air dapat dikurangi dengan mengubah kebiasaan dan mengelola sampah dengan tepat.
TRIBUNNEWSMAKER.COM - Botol plastik yang dibuang sembarangan di jalan tidak selalu berhenti di tempat tersebut. Sampah itu bisa terbawa melalui saluran air, sungai, hingga akhirnya masuk ke laut. Prosesnya sering terjadi tanpa disadari sehingga mudah diabaikan. Namun, jika berlangsung terus-menerus, sampah yang awalnya terlihat sedikit dapat menumpuk dan memperburuk pencemaran laut.
Di Indonesia, persoalan sampah laut menjadi tantangan yang cukup besar. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyebut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) memperkirakan timbulan sampah nasional pada 2025 mencapai sekitar 50,06 juta ton. Sekitar 40 persen di antaranya tidak terkelola, sementara sekitar 16,02 juta ton sampah diperkirakan masuk ke perairan Indonesia. KKP juga menyebut sekitar 80 persen sampah laut berasal dari daratan.
Dikutip TribunNewsmaker.com dari Justdial.com pada Jumat 25 September 2026, masalah ini bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Sampah dari rumah, jalan, pasar, kawasan perkotaan, sungai, hingga aktivitas pesisir dapat berkontribusi terhadap pencemaran laut. Karena itu, memahami bagaimana sampah berpindah dari daratan ke laut menjadi langkah penting untuk mengurangi masalah tersebut.
Sampah plastik tidak tiba-tiba muncul di laut. Sampah tersebut dapat berpindah dari daratan ke perairan melalui rangkaian aktivitas sehari-hari yang sering tidak terlihat. Pengelolaan sampah yang belum optimal, kebiasaan membuang sampah sembarangan, dan tempat pembuangan yang tidak dikelola dengan baik dapat meningkatkan risiko sampah masuk ke saluran air dan sungai.
Sungai kemudian dapat menjadi jalur yang membawa sampah menuju laut. Studi Bank Dunia mengenai Indonesia memperkirakan sekitar 346.500 ton sampah plastik per tahun dapat masuk ke laut dari sumber berbasis daratan, dengan kisaran perkiraan 201.100 hingga 552.300 ton. Studi tersebut juga menemukan bahwa sekitar 83 persen sampah plastik yang bocor dari daratan ke laut dibawa melalui sungai, sedangkan sekitar 17?rasal dari pembuangan langsung atau aliran dari kawasan pesisir.
Sebagian besar sampah plastik di laut tidak bermula dari laut. Sampah tersebut dapat berpindah dari daratan melalui kebiasaan sehari-hari dan sistem pengelolaan sampah yang belum berjalan optimal.
Sistem Pengelolaan Sampah yang Belum Optimal
Tidak semua wilayah memiliki sistem pengumpulan, pemilahan, pengolahan, dan pembuangan sampah yang memadai. Ketika sampah tidak dikumpulkan atau dikelola dengan baik, plastik dapat masuk ke lingkungan dan terbawa menuju saluran air.
Data SIPSN yang dikumpulkan dari 278 kabupaten/kota untuk 2025 mencatat sekitar 29,20 juta ton timbulan sampah per tahun. Dari data tersebut, sekitar 67,1% tercatat belum terkelola. Angka ini merupakan data dari daerah yang melaporkan ke SIPSN, sehingga tidak dapat dianggap sebagai gambaran lengkap seluruh Indonesia.
Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya memperkuat sistem pengelolaan sampah dari sumbernya, termasuk pengumpulan dan pemilahan sebelum sampah berpotensi masuk ke sungai dan laut.
Budaya Penggunaan Plastik Sekali Pakai
Kantong belanja, botol minuman, kemasan makanan, dan berbagai produk sekali pakai sudah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. Penggunaannya yang praktis membuat plastik sekali pakai sulit dipisahkan dari kehidupan masyarakat.
Namun, ketika produk tersebut hanya digunakan sebentar lalu dibuang, jumlah sampah yang dihasilkan dapat terus bertambah. Jika tidak dikelola dengan baik, sampah plastik tersebut berpotensi masuk ke lingkungan dan akhirnya terbawa ke perairan.
Aktivitas Industri dan Perikanan
Jaring ikan, tali plastik, kemasan, dan berbagai material dari aktivitas perikanan maupun industri juga dapat menjadi bagian dari sampah laut. Peralatan penangkapan ikan yang hilang, tertinggal, atau dibuang juga menjadi salah satu sumber sampah laut yang perlu diperhatikan. Bank Dunia mencatat alat penangkapan ikan yang hilang atau dibuang sebagai salah satu sumber penting sampah laut di Indonesia.
Material tersebut cukup kuat dan tahan lama sehingga dapat bertahan di lingkungan dalam waktu lama. Ketika terfragmentasi, material plastik juga dapat berubah menjadi potongan yang lebih kecil dan meningkatkan pencemaran.
Limpasan Air dan Saluran Drainase
Ketika hujan turun, sampah plastik yang berada di jalan atau lingkungan sekitar dapat terbawa aliran air menuju selokan dan saluran drainase. Dari sana, sampah dapat masuk ke sungai dan akhirnya menuju laut.
Proses ini mungkin terlihat sederhana, tetapi terjadi berulang kali. Karena itu, kebiasaan membuang sampah pada tempatnya dan memastikan sampah dikelola dengan baik dapat membantu mengurangi kemungkinan sampah berpindah dari lingkungan sekitar menuju perairan.
DAMPAK PENCEMARAN PLASTIK
Dampaknya tidak selalu terlihat secara langsung. Namun, seiring waktu, sampah plastik dapat memengaruhi ekosistem laut, biota, rantai makanan, serta kehidupan masyarakat yang bergantung pada laut.
Dampak pada Biota Laut
Hewan laut dapat mengira plastik sebagai makanan. Penyu, misalnya, dapat menelan kantong plastik yang menyerupai makanan, sementara burung dan ikan dapat menelan potongan plastik atau mikroplastik.
Sampah juga dapat menjerat hewan laut. Kondisi tersebut dapat menyebabkan luka, mengganggu kemampuan hewan untuk bergerak atau mencari makan, hingga menyebabkan kematian.
Mengganggu Rantai Makanan
Ketika mikroplastik masuk ke dalam tubuh organisme berukuran kecil, material tersebut dapat berpindah melalui rantai makanan ketika organisme tersebut dimakan oleh hewan yang lebih besar.
Kondisi ini membuat persoalan mikroplastik tidak hanya berkaitan dengan sampah yang terlihat di permukaan laut. Pencemaran tersebut dapat menyebar melalui ekosistem dan menjadi semakin sulit dilacak.
Merusak Ekosistem
Sampah plastik yang menumpuk di wilayah pesisir dan laut dapat mengganggu berbagai ekosistem, termasuk mangrove, padang lamun, terumbu karang, dan habitat pesisir lainnya.
Plastik yang menempel atau menumpuk di kawasan tersebut dapat mengganggu proses alami ekosistem dan menambah tekanan terhadap lingkungan laut yang juga menghadapi berbagai ancaman lain.
Dampak Ekonomi dan Sosial
Pencemaran laut juga dapat berdampak pada masyarakat yang menggantungkan hidup dari laut. Nelayan, pelaku usaha wisata, dan masyarakat pesisir dapat terkena dampak ketika kondisi pantai dan perairan memburuk.
Pantai yang dipenuhi sampah dapat mengurangi daya tarik wisata, sedangkan sampah di perairan dapat mengganggu aktivitas perikanan dan menambah biaya pembersihan.
Mengatasi pencemaran plastik di laut tidak cukup dilakukan dengan satu cara. Upaya tersebut membutuhkan perubahan kebiasaan, sistem pengelolaan sampah yang lebih baik, serta keterlibatan masyarakat, pemerintah, dan pelaku usaha.
Kurangi dan Pikirkan Kembali Penggunaan Plastik
Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dapat menjadi langkah sederhana. Bawa tas belanja, botol minum, dan wadah makanan yang dapat digunakan berulang kali untuk mengurangi jumlah sampah sehari-hari.
Kebiasaan kecil tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi jika dilakukan banyak orang secara konsisten, jumlah plastik yang masuk ke aliran sampah dapat berkurang.
Memilih produk yang dapat digunakan kembali dan mengurangi kemasan yang tidak diperlukan juga dapat membantu mengurangi penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari.
Perbaiki Sistem Pengelolaan Sampah
Pengumpulan, pemilahan, pengolahan, dan daur ulang sampah yang lebih baik dapat membantu mencegah sampah masuk ke sungai dan badan air lainnya.
Data SIPSN 2024 dari 317 kabupaten/kota menunjukkan sekitar 34,21 juta ton timbulan sampah per tahun, dengan 40,26% tercatat belum terkelola. Data ini kembali menegaskan pentingnya memperkuat pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga hingga fasilitas pengolahan.
Upaya tersebut juga perlu memperhatikan wilayah yang memiliki risiko kebocoran sampah lebih tinggi, termasuk kawasan yang berada di sekitar sungai, pesisir, dan permukiman.
Dukung Kegiatan Bersih Pantai dan Laut
Kegiatan bersih pantai dan laut dapat membantu mengangkat sampah yang sudah terlanjur berada di lingkungan pesisir. Kegiatan seperti ini memang tidak menyelesaikan sumber masalah, tetapi dapat mengurangi sampah yang sudah ada sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat.
KKP mencatat melalui program Bulan Cinta Laut, pada 2024 terkumpul sekitar 744,6 ton sampah dari 22 lokasi dengan melibatkan 1.763 nelayan. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan 171,78 ton pada 2023 dan 89,44 ton pada 2022.
Keterlibatan masyarakat dalam kegiatan bersih pantai juga dapat menjadi bagian dari upaya menjaga lingkungan pesisir secara berkelanjutan.
Dorong Produksi yang Lebih Bertanggung Jawab
Produsen dan pelaku usaha juga memiliki peran dalam mengurangi sampah plastik. Mengurangi kemasan yang tidak diperlukan, menggunakan material yang lebih mudah digunakan kembali atau didaur ulang, serta merancang produk dengan mempertimbangkan pengelolaan setelah digunakan dapat membantu mengurangi sampah sejak dari sumbernya.
Baca juga: Tekan Sampah Plastik, Plt Bupati Sukoharjo Dorong Penguatan Industri Daur Ulang PET
Upaya ini sejalan dengan pendekatan ekonomi sirkular yang mendorong pengurangan penggunaan plastik, penggunaan kembali, pemulihan, dan daur ulang material. Bank Dunia juga merekomendasikan pengurangan plastik sekali pakai serta perbaikan pengelolaan sampah sebagai bagian dari upaya mencegah kebocoran plastik ke laut.
KESIMPULAN
Sampah plastik di laut bukan hanya persoalan sampah yang terlihat di pantai. Masalah ini berkaitan dengan pola konsumsi, cara membuang sampah, sistem pengelolaan sampah, aktivitas di sungai dan pesisir, hingga kegiatan industri dan perikanan.
Di Indonesia, data terbaru menunjukkan bahwa pengelolaan sampah masih menjadi tantangan besar. Karena itu, upaya mengurangi pencemaran laut perlu dimulai dari sumbernya. Mengurangi plastik sekali pakai, menggunakan kembali barang yang masih bisa dipakai, memilah sampah, membuangnya pada tempat yang tepat, serta mendukung kegiatan bersih lingkungan merupakan beberapa langkah yang dapat dilakukan sehari-hari.
Perubahannya tidak harus langsung besar. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membantu mengurangi jumlah sampah yang berpotensi masuk ke saluran air, sungai, dan akhirnya ke laut. Yang terpenting, persoalan sampah plastik tidak dianggap sebagai masalah orang lain, tetapi sebagai tanggung jawab bersama untuk menjaga laut Indonesia. ( TribunNewsmaker.com - Luthfiah Shafa Afifah )
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.