TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Goefisika atau BMKG menyebut saat ini wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) masih berada di musim kemarau.
Memasuki awal Oktober 2026, BMKG memantau angin monsoon timur masih aktif yang menyababkan musim kemarau dan menurunya pertumbuhan awan hujan di wilayah NTT.
Suhu udara juga masih terpantau rendah saat malam -dini hari berkisar 14-34 derajat Celcius dengan kelembapan 44-93 persen.
Sejumlah wilayah dijuga diperingatkan waspada terhadap angin kencang yang sifatnya kering. Karena berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Baca juga: BMKG: Musim Hujan NTT Datang Lebih Lambat, Waspada Kekeringan hingga November
Berdasarkan prakiraan BMKG, cuaca wilayah NTT umumnya cerah-cerah berawan.
Pada periode 3 - 5 Oktober 2026, cuaca Pulau Timor, Rote, Sabu, Adonara, Solor, Lembata, Alor umumnya verah berawan - berawan.
Cuaca di Pulau Flores hingga Sumba berpotensi hujan ringan.
BMKG mengungkapkan kondisi kering masih berlangsung di sejumlah wilayah Indonesia. Hal ini tercermin dari hasil monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) hingga Dasarian II September 2026 yang menunjukkan masih banyak wilayah mengalami HTH kategori panjang hingga ekstrem panjang, dengan 1.474 titik tercatat dalam kategori ekstrem panjang.
Baca juga: Dalam 24 Jam, Gunung Lewotobi 2 Kali Hembusan 39 Kali Gempa Tektonik Jauh
Kondisi kering di sebagian wilayah tersebut berimplikasi pada masih tingginya jumlah titik panas (hotspot). Pada 30 September 2026 pukul 00.00–23.00 WIB, terdeteksi sebanyak 159 titik panas di Sumatera, 193 titik di Kalimantan, serta 322 titik di wilayah Papua dan Maluku.
Banyaknya titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi tersebut mengindikasikan adanya anomali suhu permukaan yang berpotensi berkaitan dengan kejadian kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah yang mengalami kondisi kering dan periode tanpa hujan cukup panjang. (Sumber:BMKG)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.