Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO — Ketahanan pasokan air atau water security tidak hanya menyangkut ketersediaan air dalam kondisi normal.
Persoalan tersebut juga berkaitan dengan kemampuan rumah tangga, fasilitas usaha, dan institusi mempertahankan akses air ketika terjadi gangguan.
Konsep itu menjadi salah satu pendekatan yang dibawa teknologi pemurnian air asal Jepang, Sesera, melalui konsep phase-free.
Peralatan yang digunakan sehari-hari dirancang agar tetap dapat dimanfaatkan ketika terjadi kondisi darurat.
"Produk ini mengusung konsep phase-free, yakni peralatan yang digunakan dalam kehidupan normal sekaligus dapat dimanfaatkan ketika terjadi bencana," kata Axton Chandra, distributor Sesera untuk Indonesia, kepada Tribunnews.com, Jumat (2/10/2026).
Menurut informasi pada situs resmi Sesera, perangkat tersebut tidak membutuhkan listrik.
Baca juga: Punya Potensi Kapasitas 55 MW, Bagaimana Kebutuhan Air dalam Pengembangan PLTP Ungaran Jateng?
Ketika pasokan air melalui keran terganggu, pompa injak dapat digunakan sebagai mekanisme pengoperasian dalam kondisi darurat.
Konsep tersebut memperlihatkan perubahan pendekatan dalam menghadapi risiko gangguan air. '
Kesiapsiagaan tidak hanya dilakukan dengan menyimpan air, tetapi juga dengan memastikan terdapat cara untuk memperoleh dan mengolah air ketika sistem pasokan utama tidak dapat digunakan.
Gangguan pasokan air dapat berdampak lebih luas daripada sekadar kebutuhan minum.
Rumah tangga membutuhkan air untuk memasak dan membersihkan bahan makanan, sementara restoran, hotel, sekolah, fasilitas kesehatan, kantor hingga pabrik memiliki kebutuhan air yang berkaitan langsung dengan aktivitas mereka.
Karena itu, aspek air juga dapat masuk dalam perencanaan business continuity, terutama bagi kegiatan yang tidak dapat berhenti sepenuhnya ketika terjadi gangguan infrastruktur.
"Perusahaan Jepang di Indonesia juga menjadi sasaran potensial kami melalui pendekatan kesiapsiagaan bencana dan rencana keberlangsungan usaha atau business continuity plan," ujar Axton.
Di Jepang, menurut Axton, pemanfaatan perangkat tersebut antara lain terdapat di sejumlah restoran di Tokyo, Hyogo, Tochigi dan Gunma.
Penggunaan dalam kondisi normal menjadi bagian dari konsep phase-free. Perangkat tidak hanya disimpan sebagai perlengkapan darurat, tetapi digunakan dalam aktivitas sehari-hari sehingga pengguna terbiasa dengan cara pengoperasian sebelum kondisi darurat terjadi.
"Di Jepang, pemanfaatannya juga menjangkau usaha makanan. Sejumlah restoran sebagai lokasi pengguna SESERA, antara lain di Tokyo, Hyogo, Tochigi, dan Gunma," katanya.
Bukan Sekadar Menyimpan Air
Dalam konteks water security, kesiapan menghadapi gangguan pasokan tidak hanya bergantung pada jumlah air yang disimpan.
Kualitas sumber air, kemampuan pengolahan, kebutuhan listrik, kapasitas penyimpanan dan prosedur penggunaan juga menjadi faktor yang perlu diperhitungkan.
Sesera mencoba mengambil posisi pada aspek pengolahan tersebut.
Perangkatnya disebut dapat beroperasi tanpa listrik dan menggunakan pompa injak ketika pasokan melalui keran tidak tersedia.
Namun, penggunaan sumber air dalam kondisi darurat tetap memiliki batasan.
Untuk penggunaan normal, produsen mengarahkan pengguna memakai air yang memenuhi standar kualitas air keran. Sementara penggunaan sumber air lain saat keadaan darurat harus mengikuti petunjuk dan batasan yang ditetapkan produsen.
Dengan demikian, perangkat pemurnian tidak serta-merta berarti seluruh sumber air dapat digunakan tanpa memperhatikan kualitas dan karakteristik sumbernya.
Axton mengatakan sejumlah restoran dan perumahan di Indonesia telah menggunakan perangkat tersebut.
Ia melihat pendekatan water security dapat menjadi salah satu konteks untuk memperkenalkan teknologi pemurnian air di Indonesia.
Namun, penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi setempat.
Ketersediaan sumber air, kualitas air baku, pola konsumsi, biaya pemeliharaan dan kebutuhan penggantian kartrid menjadi bagian yang perlu diperhitungkan.
Perbandingan biaya dengan penggunaan air kemasan juga, menurutnya, perlu dilihat secara menyeluruh. Penghitungan tidak cukup hanya membandingkan harga pembelian air, tetapi juga perlu memasukkan harga perangkat, penggantian kartrid, volume pemakaian dan karakteristik sumber air.
Pendekatan tersebut penting agar pembahasan mengenai teknologi pemurnian air tidak berhenti pada klaim penghematan, tetapi dapat menunjukkan biaya dan manfaatnya dalam penggunaan jangka panjang.
Untuk mendapatkan gambaran penggunaan yang lebih konkret, terdapat gagasan melakukan uji coba terhadap 20 keluarga selama 30 hari.
Axton menegaskan program tersebut masih berupa usulan dan belum terlaksana.
Jika direalisasikan, pengujian dapat melihat sejumlah aspek, mulai dari pola penggunaan air, perawatan perangkat, pengeluaran, hingga kendala yang muncul selama pemakaian.
Data tersebut juga dapat membantu melihat apakah konsep phase-free benar-benar mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan tetap relevan ketika terjadi gangguan pasokan.
Pada akhirnya, isu water security tidak hanya berbicara tentang teknologi. Ketahanan air membutuhkan kombinasi antara ketersediaan sumber air, kualitas, infrastruktur, perilaku penggunaan, serta kesiapan menghadapi kondisi darurat.
Teknologi pemurnian menjadi salah satu bagian dari rangkaian tersebut, sementara efektivitasnya tetap bergantung pada kondisi sumber air dan kebutuhan pengguna.
Diskusi beasiswa dan loker di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.