Oleh: R. K. Ariyandi

(Praktisi Perbankan Banjarmasin)

 

BANJARMASINPOST.CO.ID - SUDAHKAH Anda menikmati kopi hari ini?

Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Namun di Banjarmasin, secangkir kopi belakangan membawa cerita yang lebih panjang daripada sekadar soal rasa.

Pagi hari, ada orang yang mampir sebelum berangkat bekerja. Menjelang siang, beberapa meja mulai diisi percakapan tentang pekerjaan dan usaha. Sore hingga malam, pengunjungnya semakin beragam. Mahasiswa datang membawa laptop, pegawai singgah sepulang kerja, pedagang bertemu kawannya, komunitas kecil menyusun kegiatan. Anak-anak muda bercanda di satu sudut, sementara pelanggan lain menikmati kopi sambil berbincang santai. Pemandangan seperti itu semakin mudah dijumpai.

Warung kopi di Banjarmasin hadir dalam banyak rupa. Ada coffee shop dengan mesin espresso dan interior yang dirancang menarik. Ada kedai rumahan. Ada pula lapak sederhana dengan beberapa kursi yang tetap ramai oleh pelanggan. Belakangan, model pop-up coffee shop ikut memberi warna baru. Lokasi yang ramai sebagai tempat berkumpul pun terus berubah.

Beberapa tahun lalu, kawasan Kota Lama atau Bandarmasih Tempo Doeloe sempat menjadi salah satu tujuan warga untuk menikmati kopi, kuliner, dan suasana malam. Kini keramaiannya tidak seperti sebelumnya, sementara titik-titik baru tumbuh di berbagai sudut Banjarmasin.

Jalan Brigjen Katamso menjadi salah satu contohnya. Pada malam hari, kawasan itu ramai oleh lapak kopi dan orang-orang yang datang untuk duduk serta berbincang. Warganet bahkan menjulukinya “Blok M-nya” Banjarmasin.

Perubahan itu menarik untuk diperhatikan. Kebutuhan masyarakat untuk bertemu tetap ada, sedangkan pilihan tempatnya terus mengikuti perkembangan kota, kemudahan akses, harga, dan selera.

Karena itu, ketika saya menyebut Banjarmasin sebagai “kota seribu warung kopi”, angka seribu tidak dimaksudkan sebagai jumlah sebenarnya. Banjarmasin tetap dikenal sebagai Kota Seribu Sungai. Sebutan dalam tulisan ini hanya menggambarkan betapa dekatnya warung kopi dengan kehidupan sehari-hari warga.

Jumlah yang ada pun sudah cukup menarik. Sebuah penelitian Universitas Lambung Mangkurat yang terbit pada 2025 mengutip pernyataan Ketua PHRI Kota Banjarmasin bahwa jumlah kedai kopi di kota ini berkisar 300 hingga 400 kedai. Angka tersebut bukan hasil sensus resmi, tetapi memberi gambaran bahwa usaha kopi di Banjarmasin telah berkembang cukup luas. Namun jumlah kedai hanyalah bagian yang terlihat.

Kopi memang diminum, tetapi yang membuat orang bertahan lebih lama sering kali adalah percakapannya.

Sosiolog Ray Oldenburg memperkenalkan konsep third place atau ruang ketiga. Rumah menjadi ruang pertama, tempat bekerja menjadi ruang kedua, sedangkan manusia juga membutuhkan tempat lain untuk bertemu, berbincang, dan membangun hubungan sosial. Kafe dan kedai kopi termasuk salah satu contohnya. Gagasan itu terasa dekat dengan keseharian Banjarmasin.

Di meja kopi, percakapan jarang memiliki agenda resmi. Cerita sepak bola dapat berlanjut ke urusan pekerjaan. Obrolan tentang harga kebutuhan sehari-hari bisa berubah menjadi pembicaraan mengenai usaha. Teman lama bertemu kembali. Orang yang sebelumnya tidak saling mengenal pun dapat berkenalan melalui seorang kawan. Tidak setiap obrolan harus menghasilkan sesuatu yang besar.

Bagi sebagian orang, warung kopi cukup menjadi tempat melepas penat setelah bekerja. Pada kesempatan lain, percakapan sederhana dapat melahirkan informasi pekerjaan, ide usaha, kegiatan sosial, atau sebuah komunitas. Banyak hubungan tumbuh dari pertemuan kecil yang terjadi berulang kali.

Bagi masyarakat Banjar, kedekatan seperti itu bukan sesuatu yang asing. Kita mengenal badingsanakan, rasa kekerabatan yang membuat hubungan antarmanusia terasa dekat. Sejak dulu, rumah, pasar, tepian sungai, dan warung sederhana menjadi tempat orang bertemu dan bertukar kabar. Bentuk tempatnya berubah mengikuti zaman, tetapi kebutuhan untuk saling terhubung tetap ada. Kini warung kopi menjadi salah satu pilihan ruang pertemuan itu.

Di balik suasana santai, ada aktivitas ekonomi yang ikut bergerak. Sebuah kedai menghubungkan pemilik usaha dengan pekerja, pemasok bahan baku, pembuat kue, penjual makanan, jasa desain, percetakan, hingga layanan pengantaran. Secangkir kopi yang sampai di meja pelanggan melewati cukup banyak tangan. Geliat ini akan lebih berarti jika ikut memberi ruang bagi produk dan pelaku lokal.

Wadai dan produk kuliner Banjar buatan UMKM bisa mendapat tempat di etalase. Pelaku kreatif lokal dapat terlibat dalam desain, fotografi, musik, atau promosi. Sebagian kedai juga dapat menjadi tempat diskusi buku, kegiatan komunitas, pertunjukan kecil, atau pertemuan anak muda yang sedang merintis usaha. Dengan begitu, kedai kopi ikut membawa cerita tentang Banjarmasin.

Pertumbuhan usaha tentu perlu dijaga agar sehat. Pelaku usaha perlu mempertahankan kualitas produk, kebersihan, pelayanan, serta pengelolaan keuangan. Mereka juga perlu memahami perubahan kebutuhan pelanggan. Ketika pilihan semakin banyak, karakter sebuah kedai menjadi salah satu alasan orang memilih untuk kembali.

Perkembangan seperti ini tentu tidak harus berjalan sendiri. Pemerintah kota, perguruan tinggi, komunitas, perbankan, dan pelaku usaha dapat mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing. Pembinaan usaha, literasi keuangan, pemanfaatan transaksi digital, serta penguatan produk lokal dapat membantu usaha tumbuh lebih kuat. Pemerintah Kota Banjarmasin sendiri telah memiliki pengalaman melalui program Urban Inkubator bagi pelaku usaha kuliner.

Pertumbuhan warung kopi tidak perlu membuat semuanya tampil sama. Coffee shop modern boleh tumbuh. Lapak sederhana tetap mempunyai pelanggan. Kedai rumahan dapat menemukan pasarnya sendiri. Keragaman seperti inilah yang memberi warna pada kehidupan kota. Barangkali karena itu, warung kopi sebaiknya tidak hanya dilihat dari berapa cangkir yang terjual atau berapa tempat baru yang dibuka.

Perhatikan juga orang-orang yang datang dan cerita yang mereka bawa. Ada dua sahabat yang kembali bertemu setelah lama tidak berjumpa. Ada pedagang yang menutup hari dengan kopi bersama kawannya. Ada mahasiswa yang menyelesaikan tugas. Ada seseorang yang membuka laptop dan mulai menyusun rencana usahanya.

Di antara sungai yang menyimpan sejarah panjang Banjarmasin dan jalan-jalan yang semakin sibuk, pertemuan-pertemuan kecil seperti itu terus berlangsung. Jadi, ketika saya menyebut Banjarmasin sebagai “kota seribu warung kopi”, saya tidak sedang mengajak kita menghitung warung satu per satu. Yang lebih menarik adalah melihat berapa banyak cerita yang bermula dari sebuah meja. Sebab sebuah kota tidak hanya tumbuh melalui jalan, bangunan, dan kegiatan ekonomi. Kota juga tumbuh ketika manusianya masih mempunyai tempat untuk bertemu, saling mendengar, lalu pulang membawa satu cerita baru. (*)

 

 

Di antara sungai yang menyimpan sejarah panjang Banjarmasin dan jalan-jalan yang semakin sibuk, pertemuan-pertemuan kecil seperti itu terus berlangsung. Jadi, ketika saya menyebut Banjarmasin sebagai “kota seribu warung kopi”, saya tidak sedang mengajak kita menghitung warung satu per satu.

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.