Jakarta -
Kualitas wisata edukasi (edutrip) penting untuk ditingkatkan agar kebutuhan akan wisata dengan aspek pendidikan dapat terpenuhi.
Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar Ni Made Ayu Marthini mengatakan peningkatan kualitas itu difokuskan kepada sejumlah aspek utama, salah satunya penguatan wisata berbasis pengalaman.
Made menilai penyelarasan antara potensi desa wisata dan kebutuhan sekolah menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan daya saing wisata edukasi.
Pengelola desa wisata didorong untuk menyediakan paket pembelajaran aktif yang dapat dihubungkan dengan mata pelajaran sekolah, seperti sains, kebudayaan, ilmu sosial, ekologi, hingga kewirausahaan.
Dengan konsep tersebut, para siswa dapat berekreasi sambil belajar langsung dari lingkungan, budaya, aktivitas ekonomi, dan kehidupan masyarakat di desa wisata.
Aspek lain yang menjadi perhatian adalah pemenuhan standar keselamatan, meliputi prosedur keselamatan, manajemen risiko, serta kesiapsiagaan yang sesuai dengan kebutuhan peserta rombongan wisata edukasi.
"Promosi wisata edukasi dan pemenuhan kualifikasi destinasi merupakan dua pilar utama dalam pengembangan wisata edukasi di desa wisata. Dengan demikian, desa wisata dapat menjadi mitra pembelajaran yang terpercaya bagi institusi pendidikan," ujar Made seperti dikutip Antara, Jumat (9/10/2026).
Saat ini, ada enam desa wisata yang dikembangkan untuk wisata edukasi. Keenam desa itu adalah Desa Wisata Kreatif Terong (Belitung, Kepulauan Bangka Belitung), Desa Wisata Krebet (Bantul, D.I. Yogyakarta), Desa Wisata Les (Buleleng, Bali), Desa Wisata Sudaji (Buleleng, Bali), Desa Wisata Bugisan (Klaten, Jawa Tengah), dan Desa Wisata Selamanik (Ciamis, Jawa Barat).
Pengenalan enam desa wisata itu dimaksudkan untuk memperkenalkan keberagaman desa wisata bukan hanya sebagai tempat berwisata, melainkan juga sebagai ruang belajar untuk mengenal budaya, alam, lingkungan, serta kehidupan masyarakat secara langsung.