Oleh: Burhanuddin, S.Pd.I., MA.
KITA sering salah mengukur kualitas sekolah. Kita melihatnya dari megahnya gedung, dari jumlah piala di etalase, atau dari tebalnya berkas administrasi yang rapi di atas meja kurikulum maupun kepala sekolah.
Padahal, mutu pendidikan yang sesungguhnya justru hidup di tempat-tempat yang jarang kita periksa: tentang bagaimana cara guru membagi waktu, bagaimana cara ia menyapa murid, memilah dan memilih kosa kata inspiratif, pentunjuk ruang dan aktivitas hingga cat titik kumpul bencana yang sudah pudar, tak luput juga tentang saus sachet yang dijual di kantin sekolah.
Supervisi akademik seharusnya bukan sekadar ritual memeriksa Modul Ajar dan mencocokkan Capaian Pembelajaran (CP).
Jika hanya itu, kita hanya akan menjadi auditor kertas. Jantung pendidikan ada di dua hal yang tampak bertolak belakang: pengalaman-pengembangan diri salam belajar di dalam kelas dan manajerial detail di luar ruangan kelas. Keduanya harus bertemu dan terintegrasi serta memiliki ruang inpirasi yang kuat pula.
Hampir semua guru hari ini sudah didorong dan diharapkan mampu menyusun Modul Ajar yang diturunkan dari CP.
Secara administratif, ini sebuah kemajuan yang diharapkan sebagai sebuah kinerja.
Namun persoalan mendasarnya bergeser ke arah yang lebih dalam seperti apakah distribusi waktu di dalamnya logis dan manusiawi?
Seringkali satu CP yang seharusnya memberi ruang eksplorasi selama dengan memerlukan waktu lebih dalam dalam pembelajaran, dipadatkan menjadi dalam singkat demi mengejar ketuntasan materi.
Kadang kala Modul menjadi tebal, tujuan pembelajaran berderet, tapi nadi kehidupan pembelajarannya terengah-engah.
Pembelajaran mendalam menuntut keberanian untuk penyusunan prosesi pembelajaran yang bertumbuh secara bertahap.
CP seharusnya dipahami sebagai kompas/panduan, bukan sebagai beban target yang harus diselesaikan dalam suatu takaran waktu yang amat terbatas pula.
Guru juga memerlukan ruang upgrade diri agar elegan dalam memaknai Capaian Pembelajaran untuk diturunkan secara teknis menjadi Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) dengan memberikan ruan jeda, memberikan kesempatan bagi anak untuk berada diruang bingung, hingga akhirnya murid juga berkembang dan berkesempatan untuk menemukan "pengetahuan" yang dialami secara bertahap dengan proses yang baik.
Inilah yang kemudian menyambung pada pertanyaan yang jauh lebih sulit: Bagaimana membangun pembelajaran baik di kelas maupun diluar kelas dengan pendekatan yang menarik ?
Pembelajaran yang menarik tidak lahir dari proyektor canggih atau media yang mahal. Ia lahir dari relasi, hubungan interpersonal yang kuat, baik dibangun dari ruang kelas maupun diluar kelas, hingga tumbuh nya relasi yang harmonis tentunya dengan nyaman, dan tentram.
Pendekatan itu tentunya akan menuntun murid berani berinteraksi dengan guru tanpa takut disalahkan, hubungan ini menjadi suatu prasyarat mutlak untuk dibangun dalam proses pembelajaran.
Diantara nya membangun konsep Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) dan Growth Mindset bekerja secara sederhana.
Selain itu, juga masih ada tantangan bagi guru dan murid, yaitu aspek kenyamanan tidak boleh menjadi kenyamanan yang pasif.
Kelas yang baik harus punya alur mendalam: ada fase murid dibuat bingung, ada fase mereka berdebat, dan ada fase mereka menemukan jawaban sendiri dari proses pembelajaran yang berkembang.
Tugas guru hari ini bukan lagi menutup pelajaran dengan pertanyaan “Sudah paham semua?”, melainkan membuka dengan pertanyaan “Bagian mana yang masih membuat kalian penasaran?” dari situlah makna pembelajaran telah dilalui, yaitu adanya pemaknaan Sebuah proses, pergeseran dari mengajar menjadi mendidik terjadi.
Di ranah manajerial, penyakit lama masih berulang: supervisi akademik berhenti di observasi. Padahal esensinya ada pada satu kata yang sering disingkat dalam laporan: tindjut, tindak lanjut.
Ruang GTK dan Rumah Pendidikan sudah diisi, sertifikat sudah diunduh. Lalu apa? Refleksi kinerja guru tidak boleh menjadi formalitas tahunan.
Ia harus menjadi forum dialog yang berkomunikasi dengan bijak dengan berkolaborasi dan bermitra dengan rekan guru dan interaksi lainnya.
Misalnya, seminggu setelah supervisi, guru mempresentasikan satu perbaikan kecil yang ia coba di kelasnya, bersedia berdiskusi dan dikoreksi tentunya. Bukan hanya sebagai aktivitas rutin diruang kelas semata.
Tanpa tindak lanjut, Ruang GTK hanya akan menjadi perpustakaan digital yang sepi.
Guru perlu didorong untuk melihat dan mempelajari platform itu, bukan sebagai tempat mengejar jam pelatihan, tapi sebagai tempat mencuri satu ide yang bisa langsung diterapkan besok pagi. Upgrade diri adalah etos kerja, bukan beban administrasi.
Adanya sekolah yang menerima siswa dengan berkebutuhan khusus, maka lahirlah komitmen untuk menjadi sekolah inklusif, tentu nya ini suatu komitmen mulia. Namun inklusif tidak boleh berhenti pada spanduk penerimaan.
Inklusivitas yang jujur diuji pada sarana paling dasar: kesadaran berinteraksi dengan murid berkebutuhan khusus, lalu memperhatikan apakah sudah tersedia jamban ramah bagi murid disabilitas? Apakah kamar mandi aman, bersih, dan memiliki privasi? Apakah akses jalannya tidak licin dan sebagainya?
Kita tidak bisa menuntut guru melakukan pembelajaran berdiferensiasi jika infrastruktur sekolah masih seragam dan tidak ramah.
Kurikulum yang berdiferensiasi harus ditopang oleh sarana yang berdiferensiasi pula.
Hal yang sama berlaku untuk dua hal yang sering dianggap sebagai pelengkap: UKS dan kerja sama dengan lintas instansi lainya.
Usaha Kesehatan Sekolah di banyak tempat sudah ada, tapi belum naik kelas. Ia butuh Standar Operasional Prosedur (SOP) yang jelas dan yang paling mendasar: pemisahan ruang putra dan putri dengan penanda yang tegas. Ini bukan soal formalitas, ini soal etika dan rasa aman bagi murid, baik laki laki maupun perempuan.
Begitu pula dengan adanya MoU sebagai instrumen kolaboratif. Sekolah hari ini tidak bisa berjalan sendiri.
MoU dengan Puskesmas / Dinkes misalnya untuk pembinaan UKS, dengan BPBD berguna mitigasi bencana, dengan dunia usaha untuk Projek produk hasil pembelajaran,
maka MoU yang baik bukan diukur dari jumlahnya yang banyak dan ditandatangani di atas materai, tapi dari seberapa hidup aktivitas didalamnya dijalankan dan berdampak bagi semua pihak.
Ada dua detail yang sering luput karena dianggap kecil, padahal menjadi sangat menentukan budaya yang sehat dan pencegahan di sekolah.
Pertama, soal kebencanaan. Titik kumpul bencana di banyak sekolah masih berupa spanduk kain yang diikat di tiang dan sudah robek dimakan hujan.
Seharusnya ia dibuat permanen, dicat di lantai dengan warna kontras, terlihat dari semua penjuru. Begitu juga Alat Pemadam Api Ringan (APAR) di laboratorium tidak boleh menjadi pajangan akreditasi. Ia harus disimulasikan penggunaannya oleh guru dan siswa, terutama menjelang masa kedaluwarsa.
Budaya aman tidak lahir dari spanduk, ia lahir dari simulasi yang berulang hingga murid mendapatkan rekama kolektif yang kuat.
Kedua, dan ini yang paling serius, soal kantin. Di sebuah kunjungan, ditemukan kantin yang masih menyediakan saus curah tanpa merek, mestinya, arahan di sekolah harus tegas: jangan disediakan.
Mengapa soal saus menjadi penting dalam opini pendidikan? Karena kantin adalah bagian dari ekosistem pembelajaran.
Kita mengajarkan gaya hidup sehat dan berkelanjutan, namun kita membiarkan murid mengonsumsi saus dengan kandungan natrium dan pengawet tak terukur di jam istirahat.
Apa yang masuk ke dalam tubuh murid akan menentukan cara otaknya bekerja. Konsistensi antara ajaran dan sajian adalah bentuk keteladanan paling jujur.
Pada akhirnya, stigma tentang sekolah besar dan sekolah kecil menjadi tidak relevan. Sekolah yang besar bisa kosong secara pedagogis jika abai pada detail.
Sebaliknya, sekolah yang dianggap kecil bisa menjadi teladan justru karena ia teliti merawat hal-hal baik walaupun kecil: kerapian lingkungan di belakang kelas, kebersihan sudut baca, hingga keberanian melarang saus karena berbahaya.
Mutu pendidikan tidak ditentukan oleh luas tanah, melainkan oleh kedalaman perhatian kita pada detail-detail yang selama ini kita anggap sepele..
Semoga kedepan sekolah kita senantiasa tumbuh menjadi sekolah yang melahirkan generasi terbaik yang membanggakan. Tentunya. Amin. (*)
*) Penulis adalah Guru SMA Negeri 16 Banda Aceh
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.