Jakarta -
Anak sering menyipitkan mata saat melihat papan tulis, sementara orang tua mulai kesulitan melihat dengan jelas? Gangguan penglihatan bisa dialami pada berbagai usia, tetapi masalah yang perlu diwaspadai tidak selalu sama.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyoroti dua kelompok dalam penanganan gangguan penglihatan, yakni anak dan remaja serta orang dewasa dan lansia. Pada anak, kelainan refraksi menjadi salah satu masalah yang perlu diperhatikan. Sementara pada kelompok usia lanjut, katarak menjadi perhatian karena dapat menyebabkan kebutaan.
Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI, dr Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, menjelaskan perbedaan masalah tersebut dalam media briefing Hari Penglihatan Sedunia 2026.
"Jadi, masalah kita tuh ada dua ya, masalah kebutaan pada lansia serta masalah pada anak dan remaja," ujar Nadia.
Kelainan Refraksi Jadi Perhatian pada Anak
Kelainan refraksi merupakan gangguan yang membuat penglihatan tidak terfokus dengan baik. Kondisi ini mencakup rabun jauh, rabun dekat, dan astigmatisme atau mata silinder. Sebagian kelainan refraksi dapat dikoreksi menggunakan kacamata sesuai hasil pemeriksaan.
Data CKG sekolah periode 1 Januari hingga 2 September 2026 mencatat sebanyak 288.408 peserta atau 3,12 persen dari 9.241.377 peserta yang menjalani pemeriksaan tajam penglihatan mengalami gangguan penglihatan dengan hasil di bawah 6/9.
Temuan ini menunjukkan pentingnya pemeriksaan mata pada anak usia sekolah. Namun, hasil skrining belum otomatis memastikan jenis gangguan yang dialami setiap anak sehingga pemeriksaan lanjutan tetap diperlukan.
Dalam sambutannya, Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes RI, dr Andi Saguni, MA, mengingatkan bahwa anak belum tentu menyadari atau mampu menyampaikan gangguan penglihatan yang dialaminya.
"Anak belum tentu menyadari atau mampu menyampaikan bahwa penglihatannya terganggu," ujar Andi.
Ia juga mengingatkan orang tua dan guru untuk memperhatikan perubahan perilaku anak, seperti sering menyipitkan mata, mendekatkan buku atau layar, hingga kesulitan melihat tulisan di papan.
Menurut Andi, deteksi sejak dini penting agar gangguan penglihatan tidak menghambat kesempatan anak untuk belajar dan berkembang.
Katarak Jadi Perhatian pada Dewasa dan Lansia
Sementara pada kelompok dewasa dan lansia, Nadia menyoroti katarak sebagai salah satu masalah utama yang dapat menyebabkan kebutaan.
"Utamanya penyakitnya katarak kalau pada orang tua," kata Nadia.
Katarak terjadi ketika lensa mata menjadi keruh sehingga penglihatan berangsur kabur. Kondisi ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan membutuhkan pemeriksaan untuk menentukan penanganan yang tepat.
Data CKG periode 1 Januari hingga 2 September 2026 menunjukkan sebanyak 353.186 peserta berusia 40 tahun ke atas masuk kategori curiga katarak. Jumlah tersebut setara dengan 2,59 persen dari 13.618.207 peserta yang menjalani skrining katarak.
Temuan tersebut masih berupa hasil skrining, bukan diagnosis akhir. Peserta yang dicurigai mengalami katarak perlu menjalani pemeriksaan lanjutan untuk memastikan kondisi matanya.
Sementara itu, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat proporsi katarak sebagai penyebab disabilitas secara nasional sebesar 19,2% dalam grafik yang disajikan Kemenkes. Angkanya bervariasi antarprovinsi.
Angka tersebut menggambarkan kontribusi katarak dalam konteks disabilitas, bukan prevalensi katarak pada seluruh penduduk Indonesia. Meski begitu, data ini menjadi salah satu gambaran pentingnya penanganan katarak agar gangguan penglihatan tidak berujung pada disabilitas yang menghambat aktivitas sehari-hari.
Skrining Mata Harus Dilanjutkan dengan Penanganan
Menemukan gangguan sejak dini merupakan langkah awal. Pasien yang terdeteksi mengalami gangguan tetap perlu mendapatkan pemeriksaan lanjutan dan penanganan sesuai kebutuhannya.
Andi menegaskan bahwa skrining di layanan kesehatan primer dapat membantu menemukan sejumlah gangguan mata.
"Di tingkat pelayanan kesehatan primer, skrining mata dapat membantu menemukan gangguan tajam penglihatan atau visus dan kelainan refraksi, serta mengenali kecurigaan terhadap katarak, glaukoma, retinopati, maupun gangguan penglihatan berat yang memerlukan pemeriksaan dan tindak lanjut lebih lanjut dan tepat," ujar Andi.
Ia juga menekankan pentingnya kesinambungan pelayanan setelah skrining.
"Namun perlu kita tekankan bahwa skrining bukanlah tujuan akhir. Yang kita inginkan adalah sebuah kesinambungan pelayanan, yakni masyarakat diskrining, gangguan ditemukan, kemudian ditindaklanjuti sesuai kebutuhan dan kompetensi pelayanan," tuturnya.
Dalam sambutannya, Andi turut mengimbau untuk tidak menunggu sampai gangguan penglihatan semakin berat sebelum memeriksakan mata.
"Jangan menunggu mata bermasalah, kenali tanda gangguan penglihatan, lakukan skrining dan pemeriksaan secara berkala, dan segera tindak lanjuti apabila ditemukan gangguan," kata Andi.
Upaya menjaga kesehatan mata pun membutuhkan dukungan berbagai pihak, mulai dari tenaga kesehatan, sekolah, maupun keluarga. Pemeriksaan berkala, deteksi dini, dan tindak lanjut yang tepat menjadi bagian penting agar gangguan penglihatan dapat ditangani sesuai kebutuhan.