Jakarta -

Takut menjalani operasi mata karena membayangkan rasa sakit? Retno Subarini, 68 tahun, punya pengalaman yang mungkin bisa membuat pasien katarak lebih tenang. Ia menjalani operasi pada kedua matanya pada 2019 dan mengaku tidak merasakan sakit seperti yang dikhawatirkan.


Retno, seorang ibu rumah tangga yang mendapat layanan melalui Puskesmas Setiabudi, Jakarta Selatan, menceritakan pengalamannya dalam media briefing Hari Penglihatan Sedunia 2026.


Ia memiliki riwayat hipertensi dan rutin menjalani pengobatan sejak 2014. Pada 2019, Retno dirujuk untuk memeriksakan matanya ke dokter spesialis mata. Saat itu, ia mendapat penjelasan mengenai pilihan penanganan katarak, mulai dari pengobatan hingga operasi.




Retno akhirnya memilih operasi. Tindakan pertama dilakukan pada mata kanan, kemudian dilanjutkan pada mata kiri sekitar lima minggu kemudian.






Operasi Katarak Pakai BPJS Kesehatan, Biaya Rp 0


Salah satu hal yang membuat pengalaman Retno berkesan adalah kemudahan akses layanan melalui BPJS Kesehatan. Ia mengatakan proses yang dijalani, mulai dari puskesmas hingga rumah sakit, berjalan lancar.


"Pakai BPJS, alhamdulillah," kata Retno saat menceritakan pengalamannya dalam konferensi pers di Kementerian Kesehatan, Selasa (13/10/2026).


Ia juga menegaskan bahwa dirinya tidak mengeluarkan biaya untuk tindakan tersebut.


"Lancar semua, 0 rupiah," ujarnya.


Pengalaman itu menunjukkan bagaimana pembiayaan kesehatan dapat membantu pasien mengakses penanganan katarak. Meski begitu, prosedur dan cakupan layanan tetap mengikuti ketentuan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).





Sempat Takut karena Membayangkan Operasi Mata


Selain biaya, rasa takut terhadap tindakan medis juga bisa membuat pasien ragu menjalani operasi. Retno mengaku pernah menceritakan pengalamannya kepada teman-teman yang mengalami masalah serupa. Namun, sebagian dari mereka masih merasa takut.


"Sebagian temen-temen masih takut," tuturnya.


Retno kemudian menceritakan pengalaman yang ia rasakan sendiri saat menjalani operasi. Menurutnya, tindakan tersebut tidak menimbulkan rasa sakit seperti yang dibayangkan.


"Enggak sakit, saya rasa cuma geli sama gatal aja, ya. Sama sekali enggak ada rasa sakit," kata Retno.


Setelah operasi, ia juga menjalani kontrol lanjutan sesuai arahan tenaga kesehatan. Pengalaman tersebut menjadi alasan baginya untuk mendorong orang lain agar tidak langsung takut ketika dokter menyarankan penanganan katarak.






Katarak Jangan Dibiarkan hingga Penglihatan Memburuk


Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI), Prof dr Budu, PhD, SpM(K), M.Med.Ed, menyampaikan bahwa katarak masih menjadi salah satu penyebab utama kebutaan pada penduduk berusia di atas 50 tahun.


Katarak terjadi ketika lensa mata menjadi keruh sehingga penglihatan memburuk. Kondisi ini dapat ditangani melalui operasi sesuai hasil pemeriksaan dan penilaian dokter.


Karena itu, jika mulai mengalami gangguan penglihatan disarankan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Pemeriksaan membantu dokter menilai kondisi mata dan menentukan penanganan yang sesuai.


Layanan operasi katarak dapat diakses melalui JKN sesuai ketentuan yang berlaku. Masyarakat juga dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai prosedur, persiapan, serta tahapan pemulihan setelah operasi.


Pengalaman Retno menjadi pengingat bahwa rasa takut tidak seharusnya membuat seseorang menunda pemeriksaan. Jika penglihatan mulai terganggu, langkah pertama yang bisa dilakukan adalah mencari informasi dan berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui pilihan penanganan yang tepat.














Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.