TRIBUNKALTIM.CO, TENGGARONG - Ahmad Ali Maulidya (7) dan Husin Taufiqqurahman (3) ditemukan meninggal dunia di rumah mereka yang terbakar di Jalan Kartini Gang Karya, Kelurahan Loa Ipuh, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) Rabu (14/10/2026) dini hari.
Kedua bocah itu tak sempat menyelamatkan diri ketika api melalap permukiman pada Selasa (13/10/2026) malam.
Kebakaran tersebut tidak hanya merenggut nyawa dua anak, tetapi juga menghanguskan 11 rumah dan menyebabkan seorang warga mengalami luka bakar.
Bagi Ni’mah Gani, nenek kedua korban, kepergian Ahmad dan Husin menjadi kehilangan yang sulit diterima. Kenangan tentang keduanya masih melekat kuat, mulai dari kebiasaan mengaji hingga kegemaran mengikuti ayah mereka, Hamri Noor, menghadiri majelis taklim.
Baca juga: Ustaz Hamri Meninggal Dunia Usai Berjuang Selamatkan 2 Anaknya, Alami Luka Bakar 75 Persen
“Kedua anak itu luar biasa. Mengajinya sudah bagus. Kalau bapaknya pergi ke majelis taklim, mereka pasti ikut,” kenang Ni’mah saat ditemui di pemakaman.
Pada Rabu, Ni’mah harus mengantarkan kedua cucunya ke peristirahatan terakhir di Kuburan Muslimin Gang 5, Kelurahan Baru, Tenggarong. Di tengah suasana pemakaman, ia mengenang Ahmad dan Husin sebagai anak-anak yang penurut dan dekat dengan keluarga.
Ada satu kenangan sederhana yang kini terasa begitu berharga. Ahmad dan Husin pernah bertanya kepada keluarga kapan mereka akan disunat. Bahkan, Husin yang masih berusia sekitar tiga tahun sudah mengungkapkan keinginan serupa.
“Mereka pernah bertanya, ‘Kapan kami berdua disunat?’ Kami jawab, ‘Belum, Nak, sebentar lagi, ya.’ Alhamdulillah, anak-anak itu sangat penurut,” tuturnya.
Bagi Ni’mah, kepolosan kedua cucunya menjadi bagian dari kenangan yang sulit dilupakan. Keduanya masih berada pada usia ketika hari-hari seharusnya diisi dengan bermain, belajar, dan tumbuh bersama keluarga.
Namun, kebakaran pada Selasa malam mengakhiri perjalanan hidup mereka.
Ni’mah masih mengingat sore terakhir melihat kedua cucunya sebelum kebakaran terjadi. Saat itu, Ahmad dan Husin diduga masih mengikuti kegiatan majelis taklim di rumah keluarga mereka.
Majelis taklim rutin digelar setiap Selasa sore. Setelah mengaji, kedua bocah tersebut biasanya mengikuti kegiatan keagamaan bersama keluarga dan jemaah yang hadir.
“Kemarin sore, sepertinya mereka masih mengikuti kegiatan majelis taklim di rumah yang terbakar itu. Di sana memang rutin diadakan majelis taklim setiap Selasa sore. Setelah mengaji, mereka langsung mengikuti majelis tersebut,” ujar Ni’mah.
Rumah tersebut bukan hanya tempat tinggal keluarga Hamri, tetapi juga menjadi tempat berlangsungnya kegiatan keagamaan masyarakat.
Hamri dikenal sebagai ustaz yang mengajar di Pondok Pesantren Ribathul Khail. Selain mengajar, ia juga berjualan minyak harum secara sederhana.
Keseharian keluarga itu lekat dengan aktivitas keagamaan. Karena itu, kenangan Ahmad dan Husin yang selalu mengikuti ayahnya ke majelis taklim menjadi bagian yang paling membekas bagi Ni’mah.
Ketika kebakaran terjadi, kedua anak itu masih berada di dalam rumah.
Saat tiba di lokasi, saksi melihat meteran listrik rumah tersebut terbakar. Ia kemudian berusaha memadamkan api menggunakan air dalam ember.
Di tengah situasi itu, istri Hamri berteriak meminta pertolongan karena kedua anaknya masih berada di dalam rumah.
Mendengar teriakan tersebut, Hamri berupaya mencari Ahmad dan Husin. Namun, upaya penyelamatan itu tidak berhasil. Ia dilaporkan terkena material kayu yang terbakar dan jatuh sebelum akhirnya keluar dari rumah dalam kondisi mengalami luka bakar.
Api semakin membesar dan merembet ke sejumlah rumah di sekitarnya. Permukiman yang padat dengan akses jalan sempit membuat upaya penanganan kebakaran membutuhkan kerja ekstra dari petugas.
Setelah api berhasil dikendalikan, pencarian terhadap kedua anak tersebut dilanjutkan di antara puing-puing bangunan.
Ahmad dan Husin akhirnya ditemukan pada Rabu sekitar pukul 03.28 Wita dalam kondisi meninggal dunia.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmatan) Kukar, Fida Hurasani, mengatakan laporan kebakaran di kawasan Jalan Kartini diterima sekitar pukul 23.45 Wita.
Sebanyak tujuh unit pemadam kebakaran yang berada di wilayah Tenggarong dikerahkan untuk menangani kebakaran tersebut.
Fida menjelaskan, jumlah armada yang tersedia di Tenggarong saat itu terbatas karena sebagian unit berada di wilayah lain, di antaranya Muara Badak dan Sangasanga.
Diketahui, ada 9 armada pemadam kebakaran di Tenggarong.
Namun, 2 armada tengah berada di Kecamatan Muara Badak dan Sangasanga untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Tujuh armada pemadam kebakaran segera diturunkan saat kejadian.
Menurutnya, kesiapsiagaan personel dan kondisi armada menjadi hal penting dalam menghadapi ancaman kebakaran permukiman yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
“Semua dalam konteks kesiapsiagaan kita. Situasi kebakaran permukiman itu tidak pernah berhenti ancamannya. Mudah-mudahan kita selalu dalam situasi siap, unit siap, dan tidak ada yang rusak,” ujarnya.
Ia menyebutkan, proses pemadaman berlangsung sekitar 45 menit. Petugas harus menghadapi kondisi permukiman yang padat dan akses yang sempit sehingga penanganan membutuhkan upaya ekstra.
Fida menegaskan, kesiapan personel dan ketersediaan sumber air menjadi faktor penting agar petugas dapat menjangkau titik api di kawasan permukiman.
“Kalau sumber air ada, kita mau masuk ke mana saja, saya tidak peduli,” tegasnya.
Setelah api berhasil dipadamkan, petugas melanjutkan pencarian untuk memastikan tidak ada korban yang masih tertinggal di antara puing-puing bangunan.
Dampak kebakaran meluas ke dua wilayah rukun tetangga (RT), yakni RT 61 dan RT 26 di Kelurahan Loa Ipuh.
Ketua RT 61, Muhammad Akhyar, mengatakan berdasarkan pendataan sementara, delapan rumah di wilayahnya terdampak. Sementara itu, tiga rumah lainnya terdampak di RT 26.
“Untuk RT 61, rumah yang terdampak delapan. Kemudian, di RT 26 ada tiga rumah,” ujar Muhammad Akhyar, Rabu (14/10).
Selain rumah, dua mobil dan sekitar 10 sepeda motor juga dilaporkan terdampak. Kerugian materiil sementara akibat kebakaran diperkirakan mencapai Rp3 miliar.
Pelaksana Tugas (Plt) Camat Tenggarong, Isnaniah, mengatakan pihak kecamatan masih melakukan pendataan untuk memastikan jumlah bangunan dan warga yang terdampak.
Menurut data sementara yang diterima kecamatan, sekitar delapan bangunan terdampak di RT 61. Di RT 26, satu rumah dilaporkan terdampak langsung dan tiga bangunan lainnya turut terkena imbas kebakaran.
Selain permukiman warga, satu bangunan sekolah, yakni SDN 021 Tenggarong di kawasan Jalan Delta, juga dilaporkan terdampak.
“Untuk sementara, itulah data yang kami terima. Kami masih menghubungi sejumlah pihak dan akan melakukan pendataan langsung ke lapangan untuk memastikan jumlah bangunan serta warga yang terdampak,” ujar Isnaniah.
Ia menjelaskan, pendataan diperlukan untuk memastikan kondisi warga setelah kebakaran, termasuk mengetahui apakah ada keluarga yang kehilangan tempat tinggal dan membutuhkan bantuan.
Warga yang membutuhkan tempat tinggal sementara akan didata. Jika ada warga yang tidak memiliki keluarga atau tempat untuk mengungsi, pihak kecamatan menyiapkan kemungkinan penempatan di posko yang direncanakan berada di balai.
Pihak kecamatan juga berupaya memastikan posko bantuan dapat beroperasi dan penyaluran bantuan menjangkau warga yang membutuhkan.
Pasca kebakaran, sejumlah pihak turut membantu warga terdampak melalui posko yang tersedia di lokasi. Unsur kelurahan, Nurul Ilmi, Banser, dan Muslimat ikut terlibat. Posko kesehatan dari Puskesmas Loa Ipuh juga disediakan untuk memberikan pelayanan kepada warga yang membutuhkan.
Terkait penyebab kebakaran, Isnaniah menegaskan pihak kecamatan belum dapat menyimpulkan sumber api sebelum pemeriksaan dilakukan oleh tim identifikasi kepolisian.
“Penyebab kebakaran harus menunggu hasil pemeriksaan pihak yang berwenang,” katanya.
Kapolsek Tenggarong AKP Nahrawi, S.Sos., menyampaikan bahwa kepolisian telah melakukan penanganan awal di lokasi kejadian. Langkah tersebut meliputi pengamanan tempat kejadian perkara (TKP), pengumpulan keterangan saksi, serta koordinasi dengan ketua RT setempat.
Berdasarkan keterangan awal saksi, kebakaran diduga dipicu korsleting listrik pada bagian meteran salah satu rumah. Namun, dugaan tersebut masih harus dipastikan melalui pemeriksaan Unit Inafis Satreskrim Polres Kutai Kartanegara.
Kepolisian masih mendalami penyebab pasti kebakaran yang mengakibatkan 11 rumah terdampak dan dua anak meninggal dunia tersebut.
Di tengah proses penyelidikan dan pendataan dampak kebakaran, keluarga Hamri harus menghadapi kehilangan yang jauh lebih besar daripada kerugian materiil.
Ni’mah menuturkan, Hamri sempat menyalahkan dirinya sendiri atas musibah yang merenggut kedua anaknya.
Bagi Ni’mah, Ahmad dan Husin akan selalu dikenang melalui hal-hal sederhana: kebiasaan mengikuti ayah mereka ke majelis taklim, semangat belajar mengaji, hingga pertanyaan polos tentang kapan mereka akan disunat.
Kedua bocah itu kini telah dimakamkan. Bagi keluarga yang ditinggalkan, kebiasaan mereka yang dahulu tampak sederhana akan terus menjadi kenangan yang tak tergantikan.
Ahmad Ali Maulidya (7) dan adiknya, Husin Taufiqqurahman (3), dikenal sebagai anak-anak yang rutin mengikuti kegiatan mengaji di lingkungan tempat tinggal mereka.
Namun, kebakaran yang melanda permukiman di Jalan Kartini Gang Karya, Kelurahan Loa Ipuh, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Selasa (13/10/2026) malam, merenggut nyawa kedua kakak beradik tersebut.
Kepergian mereka meninggalkan duka bagi orang-orang yang mengenal keduanya, termasuk Muhammad Akhyar, Ketua RT 61 sekaligus ketua yayasan tempat Ahmad dan Husin mengaji.
Akhyar mengatakan, kedua bocah itu merupakan putra Ustaz Hamri Noor. Keduanya rutin mengikuti kegiatan mengaji di taman pendidikan Al-Qur’an (TPQ) yang dikelola yayasan tersebut.
“Anak Pak Hamri mengaji di tempat kami. Saya juga takmir musala sekaligus ketua yayasan di TPQ tersebut. Mereka rutin mengaji di sini,” ujar Akhyar, Rabu (14/10/2026).
Ahmad telah duduk di kelas satu sekolah dasar, sedangkan Husin masih berusia tiga tahun. Meski terpaut usia empat tahun, keduanya sama-sama mengikuti kegiatan mengaji bersama anak-anak lain.
Menurut Akhyar, Ahmad dan Husin merupakan anak-anak yang baik dan dapat bergaul dengan teman-teman di lingkungan sekitar.
“Anak-anak seusia mereka itu sedang lucu-lucunya. Kakaknya sudah kelas satu SD, sedangkan adiknya masih kecil. Tetapi, keduanya tetap ikut mengaji,” tuturnya.
Kebiasaan mengaji itu juga berlangsung di rumah keluarga Hamri. Menurut Akhyar, keluarga tersebut rutin menggelar pengajian setiap Selasa sore.
Hamri sendiri diketahui mengajar di Pondok Pesantren Ribathul Khail. Selain mengajar, ia berjualan minyak harum secara sederhana.
Akhyar menuturkan, Hamri sempat mengalami stroke ringan saat Ramadan lalu. Karena kondisi kesehatannya, Hamri untuk sementara beristirahat di rumah sambil menjalani terapi dan pengobatan.
Di lingkungan tempat tinggalnya, Hamri dikenal memiliki kesibukan mengajar sehingga interaksinya dengan warga tidak terlalu intens.
Kebakaran yang terjadi sekitar pukul 23.40 Wita itu turut berdampak terhadap rumah dan kendaraan warga. Berdasarkan pendataan sementara Akhyar, delapan rumah di RT 61 dan tiga rumah di RT 26 terdampak. Dua mobil dan sekitar 10 sepeda motor juga dilaporkan terdampak.
Dugaan awal menyebutkan kebakaran dipicu korsleting listrik di rumah Hamri. Namun, penyebab pasti kejadian masih menunggu pemeriksaan pihak berwenang.
Pasca kebakaran, sejumlah pihak membantu warga terdampak melalui posko yang tersedia di lokasi. Posko kesehatan dari Puskesmas Loa Ipuh juga disediakan untuk warga yang membutuhkan pelayanan medis.
Bagi Akhyar, Ahmad dan Husin bukan sekadar anak-anak yang tinggal di wilayahnya. Keduanya merupakan bagian dari kegiatan mengaji yang selama ini berlangsung di lingkungan tersebut.
Kini, kebiasaan kedua bocah itu datang mengaji hanya menyisakan kenangan bagi orang-orang yang mengenal mereka.
Kebakaran dilaporkan terjadi di permukiman warga Gang Karya, Jalan Kartini, Kelurahan Loa Ipuh, Tenggarong.
Petugas pemadam kebakaran menerima laporan dan mengerahkan tujuh unit mobil pemadam.
Petugas berjibaku memadamkan api selama sekitar 45 menit. Akses jalan yang sempit menjadi salah satu kendala.
Dua bocah, Ahmad Ali Maulidya (7) dan Husin Taufiqqurahman (3), ditemukan meninggal dunia.
Dampak kebakaran
Penyelidikan
Catatan:
Loa Ipuh merupakan wilayah kelurahan dengan jumlah penduduk dan Rukun Tetangga (RT) terbanyak di Kecamatan Tenggarong, dengan jumlah penduduk hingga 24.000 jiwa lebih.
Tenggarong, adalah ibukota Kabupaten Kukar.
Lokasi kebakaran di Gang Karya, bisa ditempuh berkendara ke pusat kota dengan waktu sekitar 2 hingga 3 menit saja.
Letak lokasi Gang Karya, Loa Ipuh juga tak jauh dari keberadaan Sungai Tenggarong, hanya berjarak 100-200 meter.
Baca juga: Posko Bantuan Korban Kebakaran Loa Ipuh Kukar Dibuka, Penyaluran Dipusatkan Satu Pintu
(TribunKaltim.co/Patrick Vallery Sianturi)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.