Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto

TRIBUNCIREBON.COM, CIREBON - Sekitar tujuh jam setelah menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG), Khalisa Aiza Barlianto (5), siswi TK Teratai Kota Cirebon, Jawa Barat, mulai mengalami muntah-muntah. 

Suhu tubuhnya meningkat hingga hampir 38 derajat Celsius dan ia mengeluhkan sakit perut.

Ayah Khalisa, Yanuar Barlianto (46) mengatakan, putrinya mengonsumsi MBG pada Selasa (20/10/2026) sekitar pukul 10.00 hingga 11.00 WIB.

Namun, gejala baru muncul sekitar pukul 17.00 WIB, hingga membuat keluarga segera membawanya ke rumah sakit.

Kesaksian itu disampaikan Yanuar saat ditemui di lingkungan RS Cahaya Bunda, tempat di mana anaknya kini dirawat, Rabu (21/10/2026). 

Menurut dia, Khalisa kemudian mendapatkan penanganan medis di Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan harus menjalani perawatan.

“Kalau MBG itu kurang lebih jam 11-an ya, jam 10.00-11.00 gitu ya. Cuma memang reaksinya pas jam 17.00 sore muntah-muntah,” ujar Yanuar.

Ia menjelaskan, muntah menjadi gejala awal yang terlihat. 

Setelah itu, suhu tubuh Khalisa meningkat dan anak tersebut mengeluhkan sakit perut.

“Iya, jadi pertama muntah ya, terus yang kedua suhu badannya panas ya hampir 38. Terus perut, kata anak tuh ngerasa sakit gitu ya, sakit. Jadi akhirnya kita bawa ke rumah sakit,” ucapnya.

Hanya Makan Satu Telur Puyuh

Yanuar mengungkapkan, menu MBG yang diketahui dikonsumsi putrinya antara lain telur puyuh dan sayur sup.

Menurut dia, Khalisa tidak menghabiskan seluruh makanan yang tersedia. Putrinya hanya memakan satu butir telur puyuh.

“Nah, memang uniknya anak saya ini cuma makan satu telur gitu. Bisa kebayang ya, tiga telur kan katanya dapat tiga gitu ya. Satu telur tapi berdampak gitu pada anak,” ucap dia.

Yanuar memperkirakan jarak antara waktu makan dan munculnya gejala mencapai tujuh hingga delapan jam.

Saat mengetahui Khalisa muntah, keluarga sempat memberikan air kelapa sebagai pertolongan awal.

Namun, mereka kemudian memutuskan membawa anak tersebut ke rumah sakit menggunakan kendaraan pribadi. Khalisa tiba di RS Cahaya Bunda sekitar pukul 18.30 WIB.

“Betul, jadi pas masuk rumah sakit ya langsung dilarikan ke IGD gitu ya, langsung diperiksa sama tim dokter dari rumah sakit. Akhirnya diambil sampel darah dan ternyata katanya ada memang harus dirawat, seperti itu,” katanya.

Setelah mendapatkan penanganan dokter, kondisi Khalisa mulai berangsur membaik.

Yanuar menyebut, putrinya mendapat obat dan infus selama menjalani perawatan.

“Ya, kalau untuk saat ini ya, kondisi anak udah mulai berangsur membaik ya. Seperti itu dengan... karena penanganan dari dokter ya, dengan pemberian obat dan infus,” ujarnya.

Ayah Mengaku Pernah Ada Keluhan Soal Aroma Telur

Di balik kejadian yang menimpa Khalisa, Yanuar juga menceritakan pengalaman sebelumnya ketika putrinya menerima menu telur dari MBG.

Menurut cerita yang diterimanya, Khalisa pernah mencium aroma telur yang dinilai kurang sedap dan memilih tidak memakannya.

“Keluhannya kayaknya pernah sekali ya, hampir sama ya itu juga keluhannya juga dari telur. Jadi telur itu dicium rasanya, baunya ini kurang, kurang sedap mungkin ya, langsung enggak dikonsumsi,” ucap Yanuar.

Ia mengatakan, pada kejadian sebelumnya Khalisa tidak jadi mengonsumsi telur tersebut. Namun, kali ini putrinya telanjur memakan satu butir telur puyuh.

Pengalaman tersebut menjadi perhatian bagi Yanuar, terutama terkait pemeriksaan kualitas makanan sebelum dibagikan kepada anak-anak sekolah.

Meski demikian, ia belum dapat memastikan bahwa telur puyuh merupakan penyebab gangguan kesehatan yang dialami putrinya.

Dugaan tersebut masih perlu ditelusuri melalui pemeriksaan sampel makanan dan penyelidikan pihak berwenang.

Mengaku Belum Dihubungi Pihak SPPG

Yanuar juga mengungkapkan bahwa hingga wawancara berlangsung pada Rabu (21/10/2026), dirinya mengaku belum menerima komunikasi dari pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menurut informasi diketahuinya menyiapkan makanan untuk sekolah Khalisa.

“Sampai saat ini belum ada dari pihak SPPG ya untuk, padahal asal ikut ini, ya, prihatinnya enggak ada ya. Enggak ada yang menghubungi saya sama sekali gitu sampai dengan detik ini,” jelas dia.

Sementara itu, Yanuar menyebut pihak Badan Gizi Nasional (BGN) telah menyampaikan keprihatinan pada malam sebelumnya.

Kejadian tersebut membuatnya khawatir terhadap keamanan makanan yang dikonsumsi anak-anak melalui program MBG.

Ia berharap peristiwa serupa tidak kembali terjadi dan mempertimbangkan untuk melarang anak-anaknya mengonsumsi produk MBG.

“Ya, tentu saja sebagai orang tua ya, kita ke depannya ya agar tidak terulang kembali, tentu saja akan melarang ya anak-anak untuk mengonsumsi produk MBG ini ya,” katanya.

Yanuar juga meminta pemerintah mengevaluasi pelaksanaan program tersebut secara menyeluruh, mulai dari proses penyediaan bahan makanan hingga distribusi kepada penerima manfaat.

“Kalau menurut saya ya, MBG ini produk prematur ya, artinya belum siap dari semuanya ya. Karena udah sangat masif sekali ya di banyak tempat yang keracunan ya, terutama anak-anak,” ujarnya.

“Jadi harapannya sih harusnya dievaluasi lagi untuk program ini, dari hulu sampai hilirnya,” kata Yanuar.

Ratusan Orang Terdampak Dugaan Keracunan MBG di Cirebon

Kasus yang dialami Khalisa terjadi di tengah dugaan keracunan MBG yang berdampak pada ratusan orang di Kota Cirebon.

Dari jumlah tersebut, 210 orang dilaporkan dirawat di rumah sakit, sedangkan 77 lainnya menjalani rawat jalan.

Angka tersebut merupakan data sementara yang dapat berubah mengikuti perkembangan pendataan korban.

Operasional SPPG Kalijaga yang dilaporkan memasok makanan kepada sejumlah sekolah terdampak telah dihentikan sementara.

Sampel makanan juga dilaporkan diamankan untuk pemeriksaan laboratorium.

Baca juga: Saksi Kata: Hari Itu MBG Datang Terlambat ke TK Teratai Cirebon, Anak-anak Rasakan Gejala Siang Hari

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.