TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Samarinda ternyata tidak hanya bertumpu pada ketangguhan kaum laki-laki. 

Di balik kepulan asap dan teriknya kobaran api, terdapat jajaran personel perempuan yang turut menerjang medan ekstrem untuk memadamkan si jago merah.

Di lingkungan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda, deretan personel perempuan ini akrab disapa Srikandi BPBD. 

Peran dan tugas mereka di lapangan saat menaklukkan karhutla tak sedikit pun dibedakan dengan personel pria.

Baca juga: Pemadaman Listrik PLN, Daerah Mati Lampu Samarinda Hari Ini Kamis 22 Oktober 2026 Pukul 14.00 Wita

Koordinator regu BPBD Samarinda, Andriani, mengungkapkan bahwa keterlibatan mereka dalam operasi penanganan karhutla tahun ini telah berlangsung sejak ditetapkannya status tanggap darurat pada Agustus lalu.

"Kami Srikandi BPBD dilibatkan dalam penanganan ini sejak awal dari tanggap darurat tanggal 26 Agustus. Jadi, kami sudah dilibatkan," ujar Andriani.

Dalam pelaksanaannya, personel dibagi ke dalam tiga regu.

Andriani menjadi satu dari 3 koordinator regu dan 2 regu lainnya di koordinatori oleh personil laki-laki.

Setiap regu beranggotakan 11 hingga 12 orang dan selalu ada perempuan di dalamnya. 

Soal pembagian tugas, Andriani menegaskan tidak ada perbedaan antara perempuan dan laki-laki. 

Semua memiliki tugas dan peran yang sama dalam tim, termasuk menarik selang saat pemadaman berlangsung.

"Kami memang tidak dibedakan dalam perannya dalam tim. Kami juga angkat selang juga," tegasnya.

Sebelum turun ke lapangan, lanjut Andriani, setiap personel sudah menyiapkan perlengkapan pribadi sesuai standar operasional prosedur (SOP), mulai dari helm, masker, hingga sepatu bot. 

Baca juga: Lokasi SIM Keliling Samarinda Hari Ini Kamis 22 Oktober 2026, Cek Biaya Perpanjangan SIM A dan C

Sementara kebutuhan tim dibantu bagian logistik BPBD. 

Perlengkapan sudah tersedia di setiap kendaraan sehingga personel tinggal berangkat.

Meski persiapan sudah matang, tantangan di lapangan tetap ada.

Menurut Andriani, lokasi kebakaran berbeda-beda dan sebagian berada di medan yang sulit. 

Di area perbukitan, selang yang ditarik harus disambung dua hingga tiga untuk mencapai titik api, sambil naik turun bukit. 

Belum lagi lahan gambut dan lalang yang tumbuh tinggi di Samarinda. Kondisi itu berpengaruh pada posisi kerja personel perempuan di lapangan.

"Kita yang perempuan ini kadang-kadang sudah tenggelam tuh sama namanya lalangan. Jadi, paling kitanya di belakang, bagian belakang. Paling laki-lakinya yang paling depan, yang perempuan di belakang, bantu tarik selang, dan lain sebagainya," ungkap Andriani.

Meski begitu, semangat kebersamaan tetap dijaga. Andriani menyebut para srikandi saling menguatkan di lapangan, dan di antara relawan pun ada perempuan yang ikut berjibaku. 

Baca juga: Peringati Hari Santri Hingga Bahas Pasar Pagi, Ini Rangkaian Agenda Pemkot Samarinda Hari Ini

Menurutnya, bencana merupakan milik bersama sehingga semua pihak, laki-laki maupun perempuan, perlu bersatu memadamkan api.

"Jadi, tidak pandang bululah istilahnya. Tidak ada spesial juga perempuan, begitu juga laki laki tidak ada spesialnya," tuturnya.

Di lapangan, kata Andriani, semua diperlakukan sama. Ketika personel laki-laki menarik dan mengangkat selang, perempuan pun melakukan hal serupa. 

Namun ia mengingatkan agar setiap personel mengenali batas kemampuan masing-masing dan tidak memaksakan diri saat kondisi tidak memungkinkan. 

Pesan itu sejalan dengan semboyan yang selama ini dipegang BPBD.

"Ada slogan di BPBD: "Bencana itu urusan bersama." Jadi, bencana itu bukan hanya urusan laki-laki, tapi juga perempuan juga bisa ikut menangani bencana," pungkasnya.(*)

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.