TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Setelah sukses digelar pada 2024 lalu, Hotel Tentrem Yogyakarta kembali menghadirkan Tentrem Cultural Week.
Mengusung tema “Sustaining Culture through Collaboration”, Tentrem Cultural Week bakal digelar pada 24-28 November 2026 mendatang.
General Manager Hotel Tentrem Yogyakarta, Christophorus Yulianto menerangkan Tentrem Cultural Week menjadi wujud ruang pertemuan para tamu, pelaku budaya, dan komunitas-komunitas di Yogyakarta.
Ada berbagai kegiatan yang dihadirkan, mulai dari kuliner, wastra, kerajinan, hingga pertunjukan. Semua kegiatan tersebut berbalut kebudayaan dan berkolaborasi dengan berbagai pihak.
“Ini semua dituangkan dalam visi misi kita, hotel yang mengangkat budaya Indonesia. Founder dari hotel ini memang lebih menekankan kepada sebuah hotel yang sangat Indonesia. Tidak hanya soal makanan, tetapi juga pakaian, interior, otomatis larinya ke aktivitas,” katanya saat konferensi pers di Hotel Tentrem, Selasa (27/10/2026).
“Jadi acara ini mempertemukan semua elemen dan unsur pelaku, penikmat, pemerhati budaya, dan mudah-mudahan di situ ada yang mewarisi budaya. Prinsipnya ada rasa, karya, dan pengalaman. Dari situ dirangkailah menjadi satu, bisa sustain, karena semua diwariskan dengan lengkap,” sambungnya.
Menurut dia, keberlanjutan budaya memang perlu dilestarikan mengingat semakin masifnya pengaruh budaya asing. Ia mengakui budaya asing memengaruhi banyak hal, mulai dari kuliner, kerajinan, hingga pertunjukan seni.
Sebagai hotel yang menjunjung visi misi kebudayaan, Hotel Tentrem juga ingin ambil bagian dalam upaya pelestarian budaya.
“Acara tahun ini dirancang lebih lengkap lagi, menuntut sustainability, perpaduan budaya yang menyebabkan merasakan, ikut melakukan, kalau sudah melakukan maka kita akan melestarikan. Dan harapannya bisa mewariskan, sehingga tidak akan ada putusnya,” ujarnya.
Baca juga: Dua Musisi Asal Tunisia Suguhkan Perpaduan Musik Prancis dan Arab di Hotel Tentrem Yogyakarta
Melalui kolaborasi dengan berbagai pelaku budaya, ia berharap Tentrem Cultural Week menjadi ruang pertemuan untuk mengenali perubahan kebudayaan dan semakin menguatkan kebudayaan lokal.
Director of F&B Hotel Tentrem Yogyakarta, Indra mengatakan Tentrem Cultural Week menjadi salah satu program yang bisa menjadikan jembatan penyelaras kebudayaan. Tidak hanya lewat makanan, namun segala aspek kebudayaan.
Kegiatan akan dibuka dengan Pawon Ageng pada 24 November dengan menghadirkan heritage talk. Dalam talkshow tersebut, Chef Bara Pati Rajawane diundang untuk menceritakan masakan hingga bumbu lokal dan pelestariannya. Dari diskusi tersebut nantinya akan dituangkan dalam bentuk makanan.
Sementara pada 25 November, Waris Aruna menjadi program untuk umum dalam mempelajari jajanan pasar dari Lani Rustam. Selain itu, akan dilanjutkan dengan kreasi jajan pasar dari coklat.
Acara yang tak kalah menarik dihadirkan pada 26 November dengan family style lunch dan dinner dalam akulturasi rasa. Dalam kegiatan tersebut, Hotel Tentrem berkolaborasi dengan Chef Yvonne Yuen, salah satu maestro Chinese Culinary.
Kemudian pada 27 November ada dua kegiatan, yakni Laras Rasa Sore dan Adiluhung Dinner. Laras Rasa Sore menjadi ajang peragaan busana kebaya batik, sementara Adiluhung Dinner menghadirkan enam hidangan makan malam karya maestro William Wongso.
Rangkaian Tentrem Cultural Week masih berlanjut pada 28 November dengan Srawung Lempah berkolaborasi dengan komunitas lari.
Pada acara tersebut, pelari juga akan dikenalkan dengan jamu. Acara ditutup dengan kreasi koktail dengan bahan-bahan nusantara.
“Harapannya nanti setelah dari Tentrem ada pengalaman yang bisa dibawa dan diceritakan, sehingga kita bisa membantu melestarikan kebudayaan kita sendiri melalui makanan, minuman, tekstil, dan lain-lain yang kita dapatkan dari Tentrem Cultural Week,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Executive Chef Hotel Tentrem Yogyakarta, Chef Steve Tanudarma menambahkan ada beberapa menu yang dihadirkan dari berbagai penjuru nusantara, salah satunya Grombyang Daging Kerbau.
Masakan khas Pemalang tersebut akan menjadi salah satu menu yang dihidangkan. Selain resep, daging kerbau juga diambil dari Pemalang.
“Menu-menu yang kita sajikan memang menu warisan turun-temurun. Resepnya kita dapat dari saudara, orang tua. Melalui menu-menu ini, kita akan merasakan kekayaan rempah nusantara dan cita rasa yang akan terus kita ingat,” imbuhnya. (maw)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.