TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Goethe-Institut Jakarta kembali membuka pintunya untuk publik setelah menjalani renovasi selama satu tahun.
Wakil Duta Besar Jerman untuk Indonesia Oliver Sperling mengatakan, Goethe-Institut Jakarta merupakan salah satu lokasi penting dalam menjaga hubungan kedua negara.
"Hari ini, kita merayakan pembukaan kembali Goethe-Institut Jakarta—lokasi pusat kami, di mana ikatan persahabatan di antara kedua negara dipertahankan melalui budaya dan bahasa," kata Oliver dalam acara pembukaan kembali Goethe-Institut Jakarta, Sabtu (31/10/2026).
Menurut dia, Goethe-Institut tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar bahasa Jerman.
Lembaga tersebut juga menjadi ruang pertemuan bagi para pekerja kreatif, pembelajar, dan masyarakat yang tertarik pada kebudayaan.
"Di sini, visi dari Jerman dan Indonesia berpadu, melahirkan ide-ide baru dalam bidang seni, sains, dan kehidupan masyarakat," ujarnya.
Direktur Goethe-Institut Indonesien Constanze Michel mengatakan pihaknya ingin memastikan masyarakat Indonesia mendapatkan akses informasi yang terpercaya mengenai berbagai peluang di Jerman.
"Melalui KarriereKompass 2026, kami ingin mendukung masyarakat Indonesia dalam merencanakan persiapan mereka menuju Jerman, mulai dari memahami pilihan pendidikan hingga mengenal kehidupan dan dunia kerja di sana," kata Constanze.
Dia menambahkan, informasi yang diberikan juga mencakup standar migrasi yang adil, etis, dan transparan.
Pembukaan kembali Goethe-Institut Jakarta ditandai dengan penyelenggaraan Pekan Pembukaan pada 31 Oktober hingga 8 November 2026.
KarriereKompass 2026 menjadi acara pembuka yang mempertemukan masyarakat dengan berbagai organisasi Jerman untuk mendapatkan informasi mengenai peluang tinggal, belajar, dan bekerja di Jerman.
Melalui presentasi, sesi tanya jawab, dan stan konsultasi, pengunjung bisa memperoleh informasi langsung dari para ahli mengenai persiapan menuju Jerman.
Sejumlah organisasi yang terlibat antara lain Goethe-Institut melalui program Praintegrasi dan KSM, Kedutaan Besar Republik Federal Jerman di Jakarta, DAAD, Studienkolleg Indonesia, EKONID melalui proyek ProRecognition, serta GIZ dengan program MOVE-ID.
Selama ditutup selama satu tahun terakhir, Goethe-Institut Jakarta memanfaatkan waktu tersebut untuk merenovasi gedung.
Renovasi dilakukan untuk meningkatkan keamanan bagi pengunjung, pelanggan, dan pegawai, termasuk memperkuat sistem keselamatan kebakaran.
Setelah pembukaan kembali, Goethe-Institut Jakarta menyiapkan belasan agenda yang mencakup diskusi, pemutaran film, lokakarya, pertunjukan musik, teater, hingga pameran.
Beberapa di antaranya adalah pameran "A Bite of Berlin" yang menampilkan pengalaman Sukma Smita dan Sigit Darmawan Pratama selama berada di Berlin.
Ada pula pameran "Living Knowledge Lab" yang menyajikan kisah dan dokumentasi foto karya generasi muda di Jabodetabek dalam mengeksplorasi isu-isu keberlanjutan.
Pekan Pembukaan juga menghadirkan diskusi filsafat Mazhab Frankfurt bersama Dr. Simon P. L. Tjahjadi dan Dhianita Kusuma Pertiwi, pemutaran film "Fatherland" bersama Melani Budianta dan Riri Riza, serta penampilan grup musik SIMAKDIALOG dalam program Alur Bunyi.
Baca juga: Ingatkan Bahaya Global Warming, Goethe Institut Gelar Pameran Bertajuk Living at the Urban Seafront
Selain itu, pengunjung dapat menyaksikan pementasan teater dokumenter "Indonesian Dreams" karya Haifa Marwan.
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.