Laporan Wartawan TribunMadura.com, Misbahul Munir

TRIBUNMADURA.COM, BOJONEGORO - Rencana survei potensi panas bumi di kawasan Gunung Pandan, Kecamatan Sekar, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, memunculkan penolakan dari masyarakat sekitar, Sabtu (31/10/2026).

Warga khawatir aktivitas yang menjadi tahap awal pengembangan geothermal tersebut berdampak terhadap kelestarian lingkungan dan keberadaan sumber mata air.

Sekitar 250 warga Desa Krondonan, Kecamatan Gondang, Bojonegoro, menyampaikan keberatan dalam dialog bersama Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) di Pendopo Kecamatan Gondang.

Pertemuan tersebut turut dihadiri Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam Sekretariat Daerah Kabupaten Bojonegoro, Yudhistira Ardhi Nugraha, serta tim survei dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Dalam agenda kunjungan langsung tersebut, tim Badan Geologi berencana menggelar sosialisasi terkait survei pendahuluan untuk mengidentifikasi potensi energi panas bumi di wilayah Kecamatan Gondang dan Sekar.

Namun, rencana survei itu justru mendapat penolakan dari warga.

Baca juga: Survei Panas Bumi Gunung Pandan Bojonegoro akan Libatkan Warga Lokal, Pemkab Siapkan Sosialisasi

Masyarakat menilai. kegiatan tersebut bukan sekadar pengumpulan data geologi, melainkan berpotensi menjadi tahapan awal menuju pengembangan proyek geothermal di kawasan Gunung Pandan.

Kekhawatiran utama warga berkaitan dengan keberadaan sumber mata air di kawasan tersebut.

Gunung Pandan dinilai memiliki fungsi penting sebagai kawasan penyangga air yang menopang kebutuhan masyarakat di sejumlah wilayah Bojonegoro.

Perwakilan warga, Sumitro, mengatakan, kelestarian sumber air di Gunung Pandan selama ini memberikan manfaat bagi masyarakat, tidak hanya di Kecamatan Gondang, tetapi juga wilayah sekitarnya.

Menurut dia, kualitas air di kawasan tersebut masih terjaga dan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Kecamatan Gondang, Temayang, Sukosewu hingga Sumberrejo.

"Gunung Pandan merupakan satu-satunya penyangga sumber air bagi warga. Kualitas airnya masih cukup terjaga untuk memenuhi kebutuhan sebagian masyarakat," kata Sumitro, Sabtu (31/10/2026).

Baca juga: Warga Bojonegoro Dengar Dentuman Diduga dari Arah Gunung Pandan, BPBD Bakal Telusuri Sumbernya

Nilai Historis dan Spiritual

Selain persoalan lingkungan, warga juga menyoroti nilai historis dan spiritual Gunung Pandan yang selama ini menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat.

Perwakilan warga lainnya, Aris Risanto, menilai, kawasan tersebut tidak semestinya dipandang hanya dari sisi potensi sumber daya alam.

Menurut dia, Gunung Pandan memiliki nilai budaya dan spiritual yang perlu dijaga keberlangsungannya.

"Tidak ada alasan apa pun yang sifatnya bertujuan eksploitasi, termasuk proyek geothermal," ujar Aris, warga Desa Gondang.

Penolakan serupa juga disuarakan kalangan pemuda.

Bayu Kristiawan, salah satu perwakilan Pemuda Lingkar Pandan, menegaskan, kawasan Gunung Pandan harus tetap dijaga sebagai kawasan lindung.

Dia menyatakan tidak ingin kegiatan eksplorasi maupun eksploitasi sumber daya alam justru menimbulkan kerusakan lingkungan dan mengancam kehidupan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan tersebut.

"Saya salah satu dari Pemuda Lingkar Pandan yang melakukan penolakan terhadap rencana geothermal. Jika ada potensi panas bumi di wilayah kami, kami tetap menolak dalam bentuk proyek apa pun yang membahayakan lingkungan dan masyarakat di lingkar Gunung Pandan," kata Bayu.

Dialog yang berlangsung hampir tiga jam itu berakhir dengan sikap penolakan bersama dari masyarakat.

Warga menyatakan tidak menyetujui rencana survei yang akan dilakukan Badan Geologi Kementerian ESDM juga rencana pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP).

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.