TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Harga cabai kembali menjadi salah satu kekhawatiran masyarakat Kota Semarang memasuki penghujung tahun.
Selain kebutuhan pangan yang cenderung meningkat menjelang perayaan hari besar, musim penghujan juga dikhawatirkan mengganggu pasokan dan memicu lonjakan harga di pasaran.
Bagi masyarakat, kenaikan harga cabai bukan persoalan baru. Setiap memasuki akhir tahun, perubahan harga sejumlah kebutuhan pokok kerap menjadi keluhan.
Kondisi tersebut semakin terasa ketika pengeluaran rumah tangga terus bertambah, sementara pendapatan tidak mengalami peningkatan yang sebanding.
Baca juga: 6.679 Petani dan Buruh Tani Tembakau di Kendal Terima BLT Rp600 Ribu
Baca juga: 9 Kursi Kepala OPD Kabupaten Semarang Dilelang, 3 Jabatan Minim Pendaftar
Reni Suwarti (47), warga Kota Semarang, mengatakan kenaikan harga cabai dan bahan pangan lainnya hampir selalu terjadi menjelang akhir tahun.
Menurutnya, cabai menjadi salah satu komoditas yang paling cepat mengalami perubahan harga, terlebih ketika memasuki musim penghujan.
"Namun yang paling cepat berubah cabai, apalagi saat musim penghujan pasti harganya melambung," jelasnya kepada Tribun Jateng, Senin (2/11/2026).
Ia menilai kenaikan harga bahan pangan yang terjadi setiap tahun masih menjadi persoalan masyarakat.
Meski keluhan terus bermunculan, menurutnya belum ada solusi yang benar-benar mampu mengatasi gejolak harga di pasaran.
Reni juga menyoroti pelaksanaan operasi pasar yang selama ini dilakukan pemerintah.
Menurutnya, langkah tersebut belum cukup efektif untuk mengendalikan kenaikan harga dalam jangka panjang.
"Kenaikan tak bisa diatasi, belum lagi UMK naiknya tak seberapa. Hal tersebut semakin menekan perekonomian rumah tangga kami," ucapnya.
Keluhan serupa juga dirasakan pedagang pasar tradisional.
Mereka tidak hanya menghadapi perubahan harga dari pemasok, tetapi juga harus berhadapan langsung dengan pembeli yang mengeluhkan mahalnya bahan pangan.
Martinah (60), pedagang cabai dan beras di Pasar Karangayu, Kota Semarang, mengatakan kondisi pasokan saat ini masih relatif lancar.
Namun, berdasarkan pengalamannya, situasi biasanya berubah ketika memasuki penghujung tahun.
Terutama untuk komoditas cabai yang pasokannya berpotensi berkurang akibat cuaca penghujan.
"Dari petani biasanya seperti itu, banyak cabai busuk sebelum dipanen," jelasnya.
Menurut Martinah, hujan dengan intensitas tinggi dapat memengaruhi hasil panen petani.
Ketika banyak tanaman cabai mengalami kerusakan sebelum dipanen, jumlah pasokan yang masuk ke pasar ikut berkurang.
Situasi tersebut kemudian berpengaruh terhadap harga jual. Ketika stok mulai langka, harga cabai bisa melonjak tajam.
Ia bahkan mengingat beberapa tahun lalu harga cabai pernah menembus Rp100.000 per kilogram lebih ketika musim penghujan.
"Kalau susah seperti itu kami juga kesulitan, kami dikomplain terus oleh pembeli. Bukan kami yang menimbun tapi memang setiap tahun terjadi hal serupa," imbuhnya.
Martinah mengatakan kenaikan harga tidak hanya menyulitkan pembeli, tetapi juga pedagang.
Sebab, mereka harus menyesuaikan harga jual mengikuti harga kulakan agar tetap bisa menjalankan usaha.
Kekhawatiran masyarakat dan pedagang tersebut muncul ketika harga sejumlah komoditas pangan di Kota Semarang masih menunjukkan pergerakan.
Berdasarkan data Informasi Harga Kebutuhan Pokok Pemerintah Kota Semarang per 2 November 2026, harga rata-rata cabai rawit merah mencapai Rp66.719 per kilogram.
Di sejumlah pasar, harganya bahkan menyentuh Rp75.000 per kilogram.
Harga tertinggi tersebut tercatat di Pasar Rejomulyo. Sementara harga terendah berada di Pasar Johar Selatan, yakni Rp45.000 per kilogram.
Dari data tersebut, terdapat selisih harga Rp30.000 per kilogram antara pasar dengan harga tertinggi dan terendah dalam pemantauan pemerintah kota.
Sementara itu, cabai tampar memiliki harga rata-rata Rp58.715 per kilogram.
Cabai besar berada di angka Rp49.242 per kilogram, sedangkan cabai rawit hijau mencapai Rp60.923 per kilogram.
Pergerakan harga tersebut menunjukkan bahwa perubahan harga tidak terjadi secara seragam pada seluruh jenis cabai.
Sebagai pembanding, berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia, harga rata-rata cabai rawit merah di Jawa Tengah tercatat Rp59.019 per kilogram pada 1 November 2026.
Angka tersebut merupakan rata-rata tingkat provinsi sehingga tidak selalu sama dengan harga yang ditemukan masyarakat di pasar tradisional Kota Semarang.
Sementara itu, pantauan PIHPS di Kota Semarang pada 30 Oktober 2026 mencatat harga cabai rawit rata-rata Rp59.000 per kilogram. Harga tersebut turun 3,7 persen dibandingkan hari sebelumnya.
Adapun harga cabai merah tercatat Rp51.900 per kilogram atau mengalami kenaikan 2,5 persen.
Perbedaan angka antara data Pemkot Semarang dan PIHPS dipengaruhi cakupan serta metode pemantauan pasar yang berbeda.
Tak hanya cabai, sejumlah kebutuhan pokok lainnya juga menjadi perhatian masyarakat.
Berdasarkan data Pemkot Semarang per 2 November 2026, harga rata-rata beras C4 Super mencapai Rp16.238 per kilogram.
Beras C4 Medium Rp15.180 per kilogram, sedangkan beras SPHP Rp12.680 per kilogram.
Untuk komoditas bawang, harga bawang merah tercatat Rp34.038 per kilogram dan bawang putih kating Rp38.615 per kilogram.
Sementara harga telur ayam negeri mencapai Rp25.958 per kilogram dan daging ayam broiler Rp39.642 per kilogram.
Adapun Minyakita tercatat Rp15.988 per liter dan gula pasir curah Rp17.931 per kilogram.
Perkembangan harga tersebut menunjukkan bahwa pengeluaran masyarakat tidak hanya dipengaruhi satu komoditas.
Kebutuhan beras, minyak goreng, telur, daging ayam, hingga bumbu dapur juga menjadi bagian dari pengeluaran rutin rumah tangga.
UMK Naik, Pekerja Mengaku Tetap Kesulitan
Tekanan kenaikan harga pangan juga dirasakan kalangan pekerja.
Bagi mereka yang mengandalkan upah bulanan, kenaikan harga kebutuhan sehari-hari harus dihadapi bersamaan dengan biaya pendidikan anak, transportasi, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya.
Handoko (44), pekerja sektor garmen di Kota Semarang, mengatakan UMK yang diterimanya belum cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Menurutnya, kenaikan upah setiap tahun seolah tidak banyak mengubah kondisi keuangan pekerja.
Sebab, tambahan penghasilan tersebut harus kembali digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan yang harganya ikut meningkat.
Beban tersebut semakin terasa ketika biaya pendidikan anak juga mengalami kenaikan.
"Kalau buruh tak bisa apa-apa, semua naik gaji hanya lewat saja. Tak jarang kaum pekerja tak punya tabungan," terangnya.
Ia merinci, kenaikan harga bahan pokok, biaya pendidikan, bahan bakar minyak (BBM), hingga berbagai jasa membuat penghasilan pekerja semakin terbatas.
Dengan UMK Kota Semarang yang masih di bawah Rp4 juta, menurutnya, sulit menyisihkan pendapatan untuk ditabung setelah seluruh kebutuhan bulanan terpenuhi.
"Dari dulu nasib buruh seperti ini terus, entah sampai kapan," imbuhnya.
Kenaikan upah belum tentu langsung meningkatkan kemampuan ekonomi keluarga apabila berbagai kebutuhan juga mengalami kenaikan.
Berdasarkan keputusan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, UMK Kota Semarang 2026 ditetapkan sebesar Rp3.701.709 per bulan.
Jumlah tersebut naik Rp246.882 atau sekitar 7,14 persen dibandingkan UMK 2025 yang sebesar Rp3.454.827.
Sementara itu, Upah Minimum Provinsi (UMP) Jawa Tengah 2026 ditetapkan sebesar Rp2.327.386,07.
Angka tersebut meningkat sekitar 7,28 persen dibandingkan UMP 2025 sebesar Rp2.169.349.
Kenaikan upah tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan pekerja.
Namun, besarnya pengeluaran rumah tangga juga dipengaruhi jumlah anggota keluarga, biaya pendidikan, transportasi, tempat tinggal, serta kebutuhan lainnya.
Tekanan harga kebutuhan pokok juga tercermin dalam perkembangan inflasi di Jawa Tengah.
Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah mencatat, pada September 2026 provinsi ini mengalami inflasi bulanan sebesar 0,31 persen dan inflasi tahunan sebesar 3,18 persen.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi bulanan dengan andil 0,26 persen.
Sejumlah komoditas yang berkontribusi antara lain cabai rawit, beras, daging ayam ras, cabai merah, dan telur ayam ras.
Sementara itu, secara nasional pada Oktober 2026 kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi bulanan sebesar 0,51 persen.
Cabai merah menjadi salah satu penyumbang inflasi terbesar dalam kelompok tersebut dengan andil 0,13 persen, disusul cabai rawit sebesar 0,05 persen.
Data tersebut memperlihatkan bahwa komoditas pangan masih menjadi salah satu sumber tekanan terhadap pengeluaran masyarakat. (bud)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.