TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Ketergantungan industri pertambangan terhadap bahan bakar diesel menjadi tantangan dalam pengendalian biaya operasional. 

Baca juga: Sidang Perdana Kasus Dugaan Korupsi Tata Kelola Pertambangan Samin Tan Digelar 5 November 2026

Fluktuasi harga bahan bakar, distribusi energi ke lokasi tambang, hingga kepastian pasokan mendorong kebutuhan alternatif energi yang lebih efisien dan terintegrasi.

Salah satu solusi yang mulai dikembangkan adalah elektrifikasi melalui pemanfaatan energi terbarukan, sistem penyimpanan baterai, dan kendaraan listrik.

Selain membuka peluang pengurangan ketergantungan terhadap diesel, pendekatan ini juga diarahkan untuk meningkatkan efisiensi dan keandalan operasional pertambangan.

Peluang tersebut mendorong SUN, perusahaan penyedia solusi energi dan elektrifikasi terintegrasi, mengembangkan ekosistem green mining di Kalimantan Timur.

Perusahaan menyiapkan pengembangan pembangkit energi dengan kapasitas hingga 80 megawatt (MW), sistem penyimpanan baterai sebesar 160 megawatt hour (MWh), serta ekspansi armada lebih dari 1.000 kendaraan listrik.

Pengembangan tersebut ditandai dengan groundbreaking proyek ekosistem elektrifikasi tambang di Kalimantan Timur pada 30 Oktober 2026.

Proyek ini mengintegrasikan pembangkitan energi, penyimpanan daya, infrastruktur pengisian kendaraan listrik, hingga sistem pengelolaan armada dalam satu ekosistem operasional.

Untuk memenuhi kebutuhan energi, SUN akan memanfaatkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) apung yang dibangun di area void atau bekas galian tambang yang telah tergenang air. Energi yang dihasilkan akan dipadukan dengan Battery Energy Storage System (BESS) untuk menyimpan dan mengelola pasokan listrik sesuai kebutuhan operasional.

Sementara itu, pengembangan kendaraan listrik dilakukan secara bertahap dengan target armada lebih dari 1.000 unit, mencakup kendaraan operasional ringan hingga kendaraan pendukung logistik pertambangan.

Ekosistem tersebut juga dilengkapi stasiun pengisian daya, fasilitas workshop, layanan pemeliharaan kendaraan, serta Fleet Management System untuk memantau dan mengoptimalkan penggunaan armada.

Karina Darmawan, Director of Mobility SUN, mengatakan elektrifikasi kini semakin relevan sebagai strategi bisnis bagi perusahaan pertambangan.

Menurut dia, penggunaan teknologi energi terbarukan dan kendaraan listrik tidak hanya berkaitan dengan keberlanjutan, tetapi juga berpotensi memperkuat efisiensi dan daya saing industri.

"Bagi industri pertambangan, elektrifikasi bukan lagi sekadar strategi keberlanjutan, tetapi keputusan bisnis untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing. Ketergantungan pada diesel menghadirkan tantangan biaya, distribusi, dan kepastian pasokan," ujar Karina dalam pernyataannya, Rabu(4/11/2026).

Menurut Karina, elektrifikasi pertambangan membutuhkan kesiapan infrastruktur secara menyeluruh. Penggantian kendaraan diesel dengan kendaraan listrik harus didukung pasokan energi, fasilitas pengisian daya, pemeliharaan kendaraan, hingga sistem pengelolaan armada.

Karena itu, SUN mengembangkan pendekatan terintegrasi agar perusahaan tambang tidak perlu membangun dan mengelola seluruh infrastruktur elektrifikasi secara terpisah.

Tawarkan Skema Elektrifikasi

Selain kesiapan teknologi, kebutuhan investasi awal atau capital expenditure (CAPEX) menjadi salah satu tantangan dalam memperluas elektrifikasi di sektor pertambangan. Untuk menjawab persoalan tersebut, SUN menawarkan model bisnis Electrification as a Service.

Baca juga: Perpres 79/2026 Dinilai Bisa Perkuat Tata Kelola Pertambangan Timah

Melalui skema ini, perusahaan tambang dapat memanfaatkan solusi elektrifikasi tanpa harus mengeluarkan investasi modal awal (upfront CAPEX), sesuai cakupan layanan dan kesepakatan kerja sama.

Layanan yang disediakan mencakup perencanaan dan pengembangan infrastruktur, penyediaan teknologi, pengelolaan, hingga pemeliharaan operasional. Dengan model tersebut, perusahaan tambang dapat lebih berfokus pada kegiatan bisnis utama, sementara kebutuhan infrastruktur dan layanan elektrifikasi ditangani oleh penyedia jasa.

Karina mengatakan, model layanan tersebut diharapkan dapat mempermudah perusahaan tambang mengadopsi teknologi elektrifikasi tanpa harus menanggung seluruh kebutuhan investasi infrastruktur sejak awal.

"Melalui model layanan tanpa investasi awal, kami ingin mempermudah pelanggan mengadopsi elektrifikasi sekaligus memberikan kepastian dukungan operasional. Implementasi ini menjadi langkah awal menuju pengembangan yang lebih besar, termasuk ekspansi lebih dari 1.000 kendaraan listrik," katanya.

Pengembangan ekosistem elektrifikasi di Kalimantan Timur menjadi salah satu contoh penerapan integrasi energi terbarukan dan kendaraan listrik dalam kegiatan pertambangan.

Pemanfaatan PLTS, BESS, dan kendaraan listrik berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap distribusi bahan bakar diesel.

Namun, implementasinya tetap membutuhkan perencanaan kapasitas energi, kesiapan infrastruktur, serta sistem pengelolaan yang disesuaikan dengan karakteristik operasional tambang.

Karina menilai, penerapan green mining perlu dipandang sebagai bagian dari strategi bisnis untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing industri, bukan semata-mata sebagai tambahan biaya untuk memenuhi target keberlanjutan.

Baca juga: Dari Area Operasional hingga Desa Lingkar Tambang, NHM Ambil Peran Tangani Karhutla

"Green mining tidak harus dilihat sebagai tambahan biaya bagi industri. Dengan pendekatan dan teknologi yang tepat, elektrifikasi justru dapat menjadi peluang untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing," tuturnya.

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.