SURYA.co.id | SURABAYA - Sekolah balet di Surabaya, Flores Classical Ballet School (FCBS), menggelar Recital 2024 dengan judul 'Lutung Kasarung' di Ciputra Hall Surabaya, Sabtu (2/11/2024) malam.
Sekitar 200 siswa dan alumni sekolah balet FCBS, menampilkan kisah ini lewat tarian dan kostum khas balet yang biasa disebut Tutu, leopard dan sepatu pointe.
Meski kisah Lutung Kasarung adalah kisah legenda khas Jawa, sehingga sudah dibayangkan akan tampil suasana khas Jawa.
Namun di recital balet ini, Winadi Yuwono, Director FCBS dan Astrella Sharleen W, Vice Director FCBS, memilih mengkolaborasikan keduanya.
"Kami ingin mengenalkan kisah tradisional dengan dikolaborasikan tarian dari Eropa, dalam hal ini balet. Bila sebelumnya balet lebih banyak menampilkan kisah-kisah negara luar negeri seperti Swan Lake dan lainnya, dalam recital yang kami gelar setiap tiga tahun sekali, berhasil konsisten menampilkan kisah lokal Indonesia," kata Winadi.
Sebelum Lutung Kasarung, recital balet FCBS pernah menampilkan recital cerita Dewi Nawangwulan, Bawang Merah Bawang Putih, Keong Emas, Ande Ande Lumut, dan sebagainya.
Kisah Lutung Kasarung ini, dalam tampilan recital, diceritakan Astrella dengan tokoh utama, Purbasari dan Purbagita.
"Purbasari dan Purbagita ini kakak adik, yang kemudian Purbagita merasa iri hati karena yang dijadikan ratu bukan dia tapi Purbasari. Sehingga Purbagita meminta seorang penyihir dan membuat tubuh Purbasari muncul bercak hitam, sehingga dia diasingkan di hutan," cerita Astrella.
Nah di hutan inilah, Purbasari bertemu dengan Lutung yang merupakan jelmaan dari seorang pangeran.
Si Lutung ini sangat menyukai Purbasari, meski di hutan dengan tubuh penuh bercak hitam, namun Purbasari sangat baik hati.
Ketika kutukan keduanya berhasil hilang, keduanya kembali ke kerajaan, dan Purbagita harus menerima keduanya.
"Pesan moralnya adalah kita tidak boleh iri dengan yang didapatkan orang lain. Purbasari mengajari kita untuk menghargai semua makhluk di dunia," ungkap Astrella yang juga tampil memerankan Purbasari.
Terkait dengan kostum, karena pakem balet harus mengenakan Tutu, leopard dan sepatu pointe, Astrella, mencoba menampilkan dengan menampilkan motif batik pada bagian rok tutu, sehingga kesan tradisional masih hadir, lewat kostum.
"Kami keliling Jogja dan Solo untuk mendapatkan kain batik yang pas dikolaborasikan pada kostum tutu balet ini. Hingga akhirnya dapat," lanjut Astrella.
Dalam pementasan recital ini, ada 200 siswa dari FCBS yang sudah berdiri sejak tahun 1986 dan berkantor pusat di kawasan Jalan Mojoklangru Surabaya.
Meski sekolahnya ada di beberapa titik di Kota Surabaya, kemudian Jakarta, Malang, Yogyakarta dan Banjarmasin.
"Kami mempersiapkan ini selama enam bulan, dengan tiga bulan latihan bersama secara online bersama cabang-cabang lain di luar Surabaya, dan latihan secara langsung bersama baru H-1 saat mereka tiba di sini," cerita Winadi.
Pagelaran ini tidak hanya menggambarkan hasil latihan teknis, tetapi juga pengembangan karakter, kerja sama, dan kreativitas setiap siswa.
"Setiap gerakan yang mereka tampilkan adalah buah dari komitmen dan semangat yang tiada henti. Saya bangga dengan dedikasi para siswa dan juga berterima kasih kepada para orang tua, pengajar, serta seluruh tim yang telah mendukung terwujudnya pagelaran ini," pungkas Winadi.
FCBS merupakan sekolah balet berstandar internasional dan bersertifikasi resmi dari Royal Academy of Dance.
Lulusan dari sekolah balletnya bisa bekerja sebagai professional ballerina dan diakui di seluruh dunia.
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.