Indonesia merupakan penyumbang 55 persen sagu dunia dan karena itulah sagu merupakan produk pangan lokal yang sangat menjanjikan di mas mendatang.

---

Intisari hadir di WhatsApp Channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Fokus kita saat ini terlalu tertuju pada beras sebagai pemenuh kebutuhan sehari-sehari, padahal ada bahan pokok lain yang cukup menjanjikan untuk masa mendatang. Sagu adalah satu di antaranya.

Pertanyaan yang muncul kemudian, mengapa sagu merupakan produk pangan lokal yang sangat menjanjikan pada masa mendatang?

Mengutip Kompas.com, dalam bukuSagu Nusantara (2022) Arifin Muhammad Ade menulis bahwa sagu adalah produk pangan lokal yang sangat menjanjikan di masa depan. Alasannya adalah karena sagu punya potensi yang cukup besar untuk menggantikan beras.

Menurut data Perhimpunan Pendayagunaan Sagu Indonesia (PPSI), produksi sagu nasional mencapai 400 ribu ton per tahun atau baru mencapai sekitar 8 persen dari potensi sagu nasional. Tak hanya itu, Indonesia merupakan penyumbang 55 persen sagu dunia, disusul Papua Nugini 20 persen, Malaysia 20 persen, dan lain-lain negara sebesar 5 persen.

Mengacu pada fakta-fakta di atas, dapat dikatan bahwa sagu memiliki potensi yang sangat besar dalam memenuhi kebutuhan diversifikasi pangan. Selain itu, pohon sagu juga hanya cukup ditanam sekali, dan setelah 12 tahun akan terus menerus dipanen, tanpa perlu membuka lahan untuk penanaman baru.

Tentu itu bukan satu-satunya keunggulan tanaman sagu, masih ada yang lain. Di antaranya sagu juga tidak perlu pupuk, pestisida, dan upaya budidaya lainnya seperti lazimnya pertanian modern. Namun, jika hal tersebut bisa dilakukan maka akan terjadi "revolusi" produksi karbohidrat secara murah dan massal. Sebab, tidak ada tanaman yang mampu menghasilkan karbohidrat semurah dan semassal sagu.

Sementara menurut buku Nusantara dalam Piringku (2019) yang ditulis Ari Ambarwati, sagu merupakan olahan pangan yang diperoleh dari pemrosesan batang pohon sagu. Pohon sagu merupakan tanaman rumbia yang biasa tumbuh di rawa-rawa. Tepung sagu memiliki ciri fisik yang serupa dengan tepung tapioka, maka keduanya kerap dianggap jenis tepung yang sama, padahal berbeda. Jika tepung sagu sulit didapatkan, maka tepung tapioka muncul sebagai alternatif pengganti.

Saat ini sagu banyak dikonsumsi oleh masyarakat di wilayah pesisir Papua dan Maluku. Sagu umumnya dimakan dalam bentuk papeda, sejenis bubur yang bentuknya mirip bubur tapioka. Masyarakat Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, Papua, Kalimantan Tengah, Sumatra Barat, Riau, dan Aceh sudah menjadikan sagu sebagai makanan pokok utamanya.

Menurut Ahmad Arif dalam artikelnya berjudul "Sagu sebagai Sumber Pangan dan Energi Masa Depan" yang tayang di Kompas.ID, tak hanya sumber energi alternatif, sagu adalah jawaban untuk memenuhi kebutuhan pangan di masa depan. Sebagaimana disebut di awal, produksi sagu di Indonesia cukup melimpah.

Masih dari tulisan yang sama didapatkan bahwa menurut catatan Kementerian Pertanian, Indonesia memiliki potensi lahan sagu mencapai 5,5 juta hektar dan itu adalah yang terluas di dunia. Sebagian besar lahan sagu ini berada di Papua dan Papua Barat.

Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Momon Rusmono mengatakan, dari jumlah tersebut, lahan yang dioptimalkan baru sekitar 314.000 hektar atau sekitar 5,7 persen. ”Itu pun dengan produktivitas baru 3,57 ton per hektar, padahal sebenarnya bisa ditingkatkan jadi 10 ton per hektar,” katanya.

Tapi, sebagaimana disampaikan oleh Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Musdhalifah Machmud, hingga saat ini realisasi pemanfaatan sagu sebagai bahan bakar masih 0 persen. Target nasional adalah 10 persen.

Selain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, tambah Musdhalifah, sagu juga memiliki pasar ekspor. Pada 2019, sagu yang diekspor Indonesia 26.600 ton atau senilai Rp 108,89 miliar dengan negara tujuan India, Malaysia, Jepang, Thailand, dan Vietnam. ”Jumlah tenaga kerja yang terserap di industri sagu mencapai 286.000 keluarga,” katanya.

Sekalipun hanya memiliki lahan sagu terbatas, ekspor sagu ke pasar global ternyata masih didominasi Malaysia. Kajian Hiroshi Ehara (2018) menyebutkan, setiap tahun rata-rata Malaysia mengekspor 47.000 ton sagu kering. Tingginya ekspor sagu dari Malaysia ini diduga karena mereka membeli sagu basah dari Kepulauan Meranti, Riau, dan kemudian mengolahnya menjadi sagu kering.

Begitulah alasanmengapa sagu merupakan produk pangan lokal yang sangat menjanjikan pada masa mendatang. Semoga bermanfaat.

Baca Lebih Lanjut
In2Motionfest 2025 dorong kolaborasi desainer dengan produk lokal
Antaranews
Asia Tenggara Merupakan Tujuan Ekspor Terbesar Untuk Produk Tiongkok: Euromonitor International
Antaranews
BPOM Takedown 305 Ribu Tautan Produk Pangan-Kosmetik Ilegal di E-Commerce
Detik
Solusi Cerdas untuk Keluarga Masa Kini Lewat Produk Inovatif Lokal
Poetri Hanzani
Temukan Produk Beras Mencurigakan, Satgas Pangan Polres Malang Uji Sampel
Timesindonesia
Rantai nilai wol dan masa depan industri perhotelan yang berkelanjutan
Antaranews
Musik dan Emosi Manusia: Mengapa Kita Merasa Terhubung dengan Lagu Tertentu?
Timesindonesia
ID FOOD pasok bahan pangan pokok ke 108 koperasi merah putih
Antaranews
Baru Ditanam dan Masuk Musim Kemarau, Jagung Program GSMP di Muara Enim Ditinjau
Slamet Teguh
China mulai produksi durian lokal di Hainan
Antaranews