Ringkasan Berita:
- Samuji telah menjual bubur ketan hitam dan kacang hijau sejak 1985, memasak sendiri setiap hari untuk menjaga rasa khas.
- Awalnya menjual keliling menggunakan rombong sejauh 3 km, kini mangkal di lokasi tetap di Bondowoso dengan rombong buatan sendiri.
- Setiap porsi bubur dijual Rp 5.000, murah dengan porsi besar, santan kental, dan siraman susu.
Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Sinca Ari Pangistu
TRIBUNJATIM.COM, BONDOWOSO - Kabupaten Bondowoso memiliki beragam kuliner nikmat. Seperti di sekitar Alun-alun Ki Bagus Asra, ada bubur ketan hitam dan kacang hijau legendaris yang sudah dijajakan 40 tahun lamanya.
Masyarakat yang lama bermukim di Bondowoso, pastilah tahu bubur dengan warna rombong biru muda. Kerap mangkal di sisi sebelah barat Gerbong Maut, Alun-alun Ki Bagus Asra setiap hari Minggu atau saat Car Free Day.
Di hari-hari biasa, penjual bubur bernama Samuji itu menjual dagangannya di Jl. Letnan Sudiono Kelurahan Dabasah, Kecamatan Bondowoso.
Pria berusia 65 tahun itu, telah menjual bubur ketan hitam dan kacang hijau sejak tahun 1985. Di awal, dia menjual bubur dengan cara menjajakan menggunakan rombong. Mendorong rombongnya sejauh 3 KM setiap hari.
Hingga tahun 1990, Samuji memutuskan berhenti berkeliling. Mangkal di depan Gedung Idola, atau depan SDK Indra Siswa Bondowoso. Sebelum akhirnya berpindah karena pembangunan Cafe.
Setiap hari buburnya selalu ludes terbeli. Bahkan sebelum tiba di lokasi berjualan. Sumaji sering melayani pembeli di tengah perjalanan dari rumahnya di Kelurahan Kotakulon, menuju lokasi jualan.
"Jam 07.30 berangkat dari rumah. Tapi kadang sampai tempat jualan ya jam 9 atau jam 10. Banyak yang beli di jalan itu," jelasnya.
Pria yang punya dua anak ini mengaku tak ada kiat khusus, apalagi resep turun temurun dari bubur buatannya. Dia murni meracik buburnya sendiri, saat dulu pertama datang ke Bondowoso dari kota asalnya di Solo.
Semula dia hendak berjualan bakso. Karena, pamannya yang lebih dulu tinggal di Bondowoso mengajarinya membuat bakso. Namun, insting berjualannya melihat di Bondowoso tak ada satu pun di tahun 80an yang menjual bubur.
Samuji menangkap peluang itu. Dan mulai meracik bubur ketan hitam dan kacang hijau. Tak disangka, bubur racikannya itu langsung pas di lidah para pembeli.
"Saya punya ide sendiri, soalnya saya kan Solo. Kebetulan tahun itu belum ada bubur," ujar pria kelahiran 29 Oktober 1960.
Saat awal membabat jualan bubur, Samuji dalam sehari bisa menjual ketan hitam dan kacang hijau masing-masing 3 kilogram. Kelapa yang dibuat santan menghabiskan 8 buah.
Kini, sehari masing-masing menjual 6 kilogram bubur ketan hitam dan kacang hijau. Serta 15 buah kelapa untuk membuat santan.
"Bahannya banyak, tidak susah," jelas suami dari istri bernama Mariam itu.
Dia menjelaskan awal mula berjualan harga satu porsi buburnya Rp 150, terus naik setiap masa ke masa. Paling diingatnya saat masa krisis tahun 1992, harganya terpaksa naik Rp 3.000 dari harga sebelumnya Rp 2.500 per mangkok.
Kini harga per mangkok penuh Rp 5.000 saat ini. Harga terbilang murah jika melihat porsi satu mangkok full, dengan santan kental dan siraman susu putih.
Setiap hari, Samuji bisa menjual ratusan mangkok bubur. Sehingga, kisaran perolehan jualannya bisa lebih dari 1 juta per hari.
"Tidak ambil untung banyak, yang penting lancar," jelas Samuji.
Setiap hari Samuji memulai memasak bubur sejak sore hari. Dimulai dari proses merendam kacang hijau dan ketan hitam.
Kemudian, sekitar pukul 01.30 dini hari, Samuji menggodok buburnya hingga pukul 4 pagi. Setelah matang, buburnya akan dipindah ke dalam dandang berdiameter sekitar 40 cm di rombongnya. Sejak dipindah ke dandang hingga buburnya habis selalu panas.
Karena, diletakkan di atas bara arang. Arangnya pun dipilih khusus, harus arang pohon Lantoro.
"Kalau berpengaruh ke rasa mungkin tidak. Tapi kualitas arang Lantoro itu bagus. Baranya itu bagus," jelasnya.
Samuji membenarkan bahwa lain tangan maka akan berbeda rasanya. Karena itu, setiap hari dia memasak buburnya sendiri. Memasang garam, memasang gula, mengaduk, pembuatan santan, dan lainnya.
"Istri saya tidak bisa. Kurang sip gitu. Yang ngelola kasih garam, ya saya. Istri tidak tahu," jelasnya.
Karenanya, jika dia sudah pensiun diperkirakannya tak akan ada yang bisa meneruskan usahanya.
Selain karena rasanya bisa jadi tak sama. Selain itu, dua anaknya sudah bekerja di kedinasan dan ada yang sudah menikah di Kediri.
Samuji mengaku rombongnya ini sudah 4 kali berganti. Dia membuat sendiri rombong berukuran panjang 2 meter dan lebar sekitar 1 meter. Agar sesuai dengan kebutuhannya.
Dia memang bisa membuat furniture karena dia lulusan Sekolah Teknik Menengah (STM) 2, jurusan bangunan di tahun 70an.
Namun kata Sumaji, di rombongnya itu ada satu alat yang sudah menemaninya sejak 1985. Alias, tak pernah berganti. Yakni sendok bubur.
"Ini kenang-kenangan sejak 1980. Ini kan stanless, bentuknya tak ada yang begini," ujarnya.
Yuni, pembeli bubur dari Desa Kembang, Bondowoso mengatakan suka sekali dengan rasa bubur Samuji. Karena rasanya tak terlalu manis, gurih, tapi enak.
"Santannya juga asli, buburnya ini aromanya khas. Terus murah, semangkok full ini cuma Rp 5 ribu," pungkasnya