Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin
TRIBUNSOLO.COM, SOLO – Sekitar 10 gembok di Keraton Solo diganti oleh utusan Pakubuwono XIV Purbaya.
Tindakan ini memicu rencana dari Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA), GRAy Koes Moertiyah Wandansari, yang mendukung Pakubuwono XIV Hangabehi, untuk mengganti kembali gembok tersebut.
“Ya biar saja silakan diganti. Saya juga bisa mengganti nanti,” ungkap Gusti Moeng, Senin (15/12/2025).
Pihak Pakubuwono XIV Purbaya sebelumnya mengaku telah mengirim surat kepada pihak Pakubuwono XIV Hangabehi.
Namun karena tidak mendapat tanggapan, mereka mengganti gembok agar memiliki akses langsung.
Gusti Moeng mempertanyakan kapasitas pihak Purbaya dalam meminta akses pintu-pintu keraton.
“Surat itu dikasihkan hari Kamis saya pagi ke Jakarta. Sekarang saya melayangkan memberikan jawaban. Dia itu siapa. Kok minta-minta,” tuturnya.
Gusti Moeng menegaskan tidak akan memberikan kunci kepada pihak Purbaya.
Menurutnya, mereka tidak berhak memegang kunci tersebut.
“Bebadannya siapa. Saya juga punya Sinuhun. Ya enggak saya berikan,” jelasnya.
Saat penggantian gembok pada Sabtu (13/12/2025), sejumlah petugas Badan Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X sempat diusir.
Meski begitu, akses kembali dibuka pada hari berikutnya.
“Itu kan kemarin sudah disampaikan petugas BPK diusir. Silakan diartikan sendiri,” kata Gusti Moeng.
Baca juga: LDA Dihalangi Masuk Museum Keraton Solo, Gusti Moeng : Saya Pengageng Sasana Wilapa, Masih Berhak!
Meski akses dibuka, Gusti Moeng mengaku kini pihaknya tidak dapat masuk ke sejumlah ruangan.
“Sementara belum (bisa akses). Hondrowino yang untuk wilujengan dan penandatanganan prasasti. Kalau masih bisa kita ingatkan ya monggo kalau nggak ya sudah kita jalani saja ini kan negara hukum,” jelasnya.
Seperti diketahui, pada Sabtu, 13 Desember 2025, terjadi penggantian gembok di sekitar 10 pintu Keraton Kasunanan Surakarta oleh pihak Pakubuwono XIV Purbaya.
Aksi ini memicu ketegangan antara dua kubu yang berselisih soal penerus tahta dan sempat membuat pekerja Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) diusir dari area keraton.
Langkah ini dilakukan karena kunci-kunci lama tidak diserahkan meski sudah ada surat permintaan resmi.
Kunci yang diklaim seharusnya dipegang Bebadan (lembaga internal keraton) masih dikuasai pihak lain.
Peristiwa ini menambah panas konflik internal keraton yang sudah lama terjadi antara kubu PB XIV Purbaya dan kubu lain yang masih berselisih soal legitimasi penerus tahta.
(*)