Laporan Wartawan Tribun Papua, Yulianus Magai

TRIBUNPAPUA.COM, JAYAPURA - Pagi belum terlalu tinggi ketika Lambert Paragaye tiba di Pasar Youtefa, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Papua.

Udara masih lembap, lantai pasar basah oleh sisa hujan malam, dan lapak-lapak baru mulai dibuka.

Dengan langkah tenang, Lambert menata daging babi di gantungan besi, memastikan setiap potongan terlihat segar.

Pisau yang telah lama menemaninya diasah kembali, tanda hari kerja akan dimulai.

Lambert adalah anak asli Jayawijaya, Papua Pegunungan. Ia bukan pegawai negeri sipil, bukan pula pekerja kantoran. 

Baca juga: Kisah Ertina Hisage, Melawan Keterbatasan Infrastruktur Demi Pendidikan Anak Papua

Sejak beberapa tahun terakhir, pasar menjadi ruang hidupnya. 

Dari lapak sederhana inilah ia membiayai kebutuhan sehari-hari dan menjaga martabat sebagai kepala keluarga.

“Kalau di pasar, kerja capek memang, tapi hasilnya bisa langsung dirasakan,” ujar Lambert pelan.

Menjelang Natal 2025, tantangan semakin terasa.

Harga daging babi (B2) di Kota Jayapura melonjak tajam hingga menembus Rp200.000 per kilogram. Kenaikan ini bukan tanpa sebab.

Menurut Lambert, sejak awal November, pasokan babi hidup yang masuk ke Jayapura semakin terbatas.

“Sekarang beli satu ekor babi bisa sampai Rp15 juta sampai Rp17 juta. Itu tergantung besar kecilnya. Kalau sudah mahal begini, harga jual pasti ikut naik,” katanya.

PEDAGANG CABAI - Seorang pedagang cabai dan aneka bumbu di Pasar Youtefa Papua sedang menunggu pembeli, Minggu (27/3/2022). Menjelang ramadan, sejumlah harga bumbu dapur stabil, kecuali harga cabai yang meningkat.
PEDAGANG CABAI - Seorang pedagang cabai dan aneka bumbu di Pasar Youtefa Papua sedang menunggu pembeli, Minggu (27/3/2022). Menjelang ramadan, sejumlah harga bumbu dapur stabil, kecuali harga cabai yang meningkat. (Tribun-Papua)

Bagi pedagang kecil seperti Lambert, kenaikan harga bukan hanya soal untung dan rugi.

Ia harus berhadapan dengan keluhan pembeli, sekaligus menanggung risiko kerugian jika daging tidak habis terjual.

Namun kenyataan di lapangan berkata lain. Meski harga melonjak, minat beli warga tetap tinggi.

Lapak Lambert nyaris tak pernah sepi, terutama saat Natal kian dekat.

“Orang datang beli walaupun mahal. Natal itu momen penting. Daging babi sudah jadi bagian dari tradisi,” ujarnya.

Sepanjang siang, Lambert sibuk melayani pembeli.

Ada yang membeli setengah kilogram, ada pula yang memesan dalam jumlah besar untuk keluarga dan kerabat. 

Di sela-sela transaksi, ia kerap berbincang dengan pembeli, menanyakan kabar kampung halaman, atau sekadar bercanda ringan.

Bagi Lambert, pasar bukan hanya tempat berdagang, tetapi juga ruang sosial.

Di sinilah ia belajar membaca situasi, memahami karakter orang, dan menguatkan relasi antarsesama perantau Papua.

Pilihan Lambert bekerja di pasar bukan tanpa pertimbangan.

Ia menyadari banyak anak muda Papua bercita-cita menjadi pegawai negeri sipil.

Namun baginya, pasar menawarkan kebebasan dan kemandirian yang tak ia temukan di pekerjaan lain.

“Kalau PNS, gaji sebulan sekali. Kalau di pasar, hari ini kerja, hari ini juga dapat uang,” katanya.

Ia berharap kisah hidupnya bisa menjadi pelajaran bagi generasi muda Papua agar berani melihat peluang di luar jalur formal.

“Anak Papua jangan hanya pikir jadi PNS. Kita bisa bangun hidup dari usaha sendiri, dari kerja keras,” ucapnya, tegas.

Menjelang sore, suasana Pasar Youtefa semakin ramai.

KERJA BAKTI - Penjabat Wali Kota Jayapura, Frans Pekey bersama-sama warga membersihkan puing-puing sisa kebakaran di Pasar Youtefa, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Papua, Minggu (15/1/2023). 
KERJA BAKTI - Penjabat Wali Kota Jayapura, Frans Pekey bersama-sama warga membersihkan puing-puing sisa kebakaran di Pasar Youtefa, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Papua, Minggu (15/1/2023).  (Tribun-Papua.com/Aldi Bimantara)

Suara tawar-menawar bersahut-sahutan, aroma daging segar bercampur bau tanah basah.

Baca juga: Kisah Tinus Wetipo: Dirikan Kedai Kopi dari Gerobak Sampah, Bermodal Rp20 Ribu di Papua Pegunungan

Lambert masih berdiri di lapaknya, meski lelah mulai terlihat di wajahnya.

Di tengah mahalnya harga dan beratnya tantangan ekonomi, Lambert memilih bertahan.

Baginya, pasar adalah sekolah kehidupan—tempat ia belajar jujur, sabar, dan bertanggung jawab.

Saat matahari mulai condong ke barat, timbangan kembali bergerak.

Beberapa potong daging terakhir terjual. Lambert menghela napas lega. Hari itu, ia kembali membawa pulang hasil kerja kerasnya.

Di Jayapura, di balik hiruk-pikuk Pasar Youtefa, Lambert Paragaye membuktikan bahwa jalan hidup tidak harus berakhir di balik meja kantor.

 Dari lapak daging babi, ia menimbang harapan, menjaga tradisi, dan menyambut Natal dengan cara yang sederhana namun bermakna. (*)

Baca Lebih Lanjut
Kisah Pedagang Kue Kering di Pasar 45 Manado: Kucing-kucingan dengan Satpol PP-Bayar Sewa ke Preman
Isvara Savitri
Kisah Carles Rompas Nelayan Sangihe Hanyut Sebulan Lebih, Bertahan dengan Air Hujan dan Ikan Mentah
Daftar Harga Bahan Pokok di Pasar Bersehati Manado Hari Ini, Rica Naik, Daging Babi Dijual Segini
Dewangga Ardhiananta
Penjual Mie Babi yang Viral di Bandung Sudah Tak Pakai Peci dan Hijab
Detik
Kesaksian Keluarga Carles Rompas Sebulan Penantian, Alex: Sebagai Anak Saya Yakin Papa Masih Hidup
Tukang Sol di Sukalila Cirebon Jaga Sepatu Pelanggan Bertahun-tahun, Kini Lapak Diratakan Alat Berat
Kisah Keluarga di Aceh Timur, Terjebak Banjir Bandang dan Bertahan Hidup dengan Makanan Hanyut
Harga Daging Ayam dan Telur di OKI Tinggi, Permintaan Melonjak Jelang Akhir Tahun
Kisah Sulaiman di Tengah Penertiban PKL Sukalila Cirebon, Sepatu Konsumen Tak Diambil Bertahun-tahun
Baru 2 Hari Menikah, Pasutri di Sibolga Tewas Terkena Banjir, 2 Korban Ditemukan di Kamar
Khistian Tauqid