TRIBUNJATENG.COM, JEPARA - Ratusan siswa SMP Negeri 2 Bangsri menerima paket makan bergizi gratis (MBG) untuk pertama kalinya.
Program nasional yang dinanti itu akhirnya hadir di sekolah mereka.
Di balik pembagian makanan perdana tersebut, ada cerita tentang dapur yang masih belajar menyesuaikan ritme, selera siswa, dan tantangan teknis di lapangan.
Baca juga: Dari Sampah Plastik ke Energi, Harapan Baru Warga Pesisir Suwawal Jepara Hadapi Bencana
Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) 1 Guyangan, Bangsri, menjadi salah satu titik awal pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Jepara.
Bagi pengelola dapur, hari pertama bukan sekadar memasak dan mendistribusikan makanan, melainkan ujian awal sebuah sistem yang masih dalam tahap uji coba.
Kepala SPPG Yayasan Al Mawaddah Guyangan 1, M. Nor Arif Afendi, mengakui bahwa menu perdana langsung mengundang beragam respons dari siswa.
Salah satunya terkait nasi yang disajikan.
Hari itu, dapur memilih menu chicken rice hainan nasi berbumbu dengan aroma khas.
“Anak-anak ternyata lebih terbiasa dan lebih suka nasi putih biasa. Karena aromanya berbeda, ada yang kurang cocok,” kata Arif dalam keterangan yang diterima Tribunjateng, Kamis (18/12/2025).
Keluhan lain yang sempat beredar di media sosial mengenai ayam setengah matang juga langsung ditindaklanjuti.
Arif bersama Babinsa Guyangan, Sugiarto, serta perwakilan guru SMP Negeri 2 Bangsri turun langsung melakukan pengecekan.
Hasilnya, pihak sekolah tidak menemukan ayam berdarah seperti yang dikhawatirkan.
Menurut Arif, ayam telah dimasak hingga matang, namun warna putih di bagian dalam muncul karena bumbu belum sepenuhnya meresap.
“Ini menjadi catatan penting bagi kami agar ke depan kualitas rasa dan tampilan lebih seragam,” ucapnya.
Di dapur, tantangan hari pertama tidak berhenti di situ.
Pemadaman listrik PLN pada malam sebelum distribusi membuat proses pengukusan nasi terkendala, karena dapur mengandalkan mesin steamer.
Dampaknya, jumlah porsi sempat kurang.
Namun, pengelola segera mengirimkan susulan ke sekolah agar semua siswa tetap menerima makanan.
“Ini memang dapur baru, sistem baru, dan tim juga masih beradaptasi. Begitu ada kekurangan, langsung kami susulkan,” tuturnya.
Ia menegaskan, operasional SPPG 1 Guyangan masih dalam tahap uji coba dan belum diluncurkan secara resmi.
Selama masa ini, dapur berada di bawah pengawasan Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara, dengan monitoring rutin dari puskesmas dua kali setiap pekan.
Bagi Arif dan timnya, hari pertama MBG bukan tentang kesempurnaan, melainkan proses belajar.
“Kami sangat terbuka terhadap masukan dari sekolah, orang tua, dan masyarakat. Semua ini jadi bahan evaluasi agar saat program berjalan penuh, makanan yang disajikan benar-benar aman, layak, dan disukai anak-anak,” tuturnya.
Di balik sepiring nasi dan lauk sederhana, program MBG di Guyangan sedang bertumbuh perlahan, dengan evaluasi, dan dengan harapan besar untuk masa depan gizi anak-anak Jepara. (Ito)
Baca juga: Witiarso Pastikan Pekan Ini Pembahasan UMK Jepara 2026, Kira-kira Naik Berapa Persen?