TRIBUNSUMSEL.COM - Terduga pelaku pembunuhan anak politisi PKS Cilegon Maman Suherman, MAHM (9) sempat meninggalkan petunjuk penting di TKP di rumah mewah di kawasan Bukit Baja Sejahtera (BBS), Kota Cilegon, Banten, Rabu (17/12/2025). Petunjuk penting tersebut berupa pelaku yang mengenal kondisi rumah yang mengindikasi sebagai orang dekat.
Hal itu diungkap berdasarkan analisa dari pakar Psikolog Forensik, Reza Indragiri.
"Tentu harus dilakukan pemeriksaan ya oleh pihak kepolisian, tetapi saya membayangkan bahwa sang pelaku memiliki akses ke rumah tersebut," kata Reza, dikutip Tribunnewsbogor, dari tayangan YouTube Kompas TV, Jumat (19/12/2025).
Baca juga: Tewasnya Bocah 9 Tahun di Rumah Mewah Cilegon Dipastikan Bukan karena Perampokan Oleh Polisi
Reza menduga, pelaku bisa memperkirakan kondisi di dalam rumah tersebut, seperti saat korban tengah sendirian di rumah.
Ia memilih menggunakan istilah orang yang mengenal situasi di tempat kejadian perkara (TKP).
"Apakah bisa disebut sebagai orang dekat, hari ini tampaknya kita harus memberikan definisi ulang tentang kata dekat ataupun jauh."
"Tetapi ketimbang menggunakan kata dekat atau jauh, saya memilih menggunakan istilah orang yang mengenal situasi rumah dan keluarga pemilik rumah tersebut," jelasnya.
Diketahui saat kejadian, korban hanya berdua bersama kakaknya di rumah tersebut.
Sementara Haji Maman dan istrinya sedang tak berada di rumah karena tengah bekerja.
"Nah penalaran-penalaran semacam itu dan perbuatan sedemikian rupa, itung-itungan memang kemungkinan dilakukan oleh orang yang sudah mengenal kondisi atau situasi rumah dan keluarga pemilik rumah tersebut," tandasnya.
Reza juga menduga, korban bukanlah target utama pelaku.
Pria yang meraih gelar Master Psikologi Forensik dari Universitas Melbourne itu mengatakan, pelaku kemungkinan mengincar pihak lain yang ada kaitannya dengan korban, yakni orang tua bocah itu.
Akan tetapi, karena pelaku tak bisa melakukan itu kepada orang tua korban, bocah itu kemudian dijadikan objek pengganti.
"Namun karena tidak mungkin melakukan serangan secara frontal terhadap orang tua korban, maka korban dijadikan sebagai objek pengganti atau subtitusi," ujarnya.
Menurutnya, antara perilaku dengan motif dalam kasus ini belum tentu linier. Ia pun kembali menegaskan, kemungkinan korban bukan menjadi target utama pelaku.
"Bahwa sekali lagi belum tentu orang yang menghabisi korban adalah orang yang sungguh-sungguh punya kepentingan bagi meninggalnya korban."
"Tetapi pihak yang menjadi kepentingan pelaku adalah pihak lain, namun karena tidak bisa mencapai pihak tersebut, maka dicarilah pihak pengganti yang dalam hal ini adalah korban," jelasnya.
Terkait korban yang kemungkinan dijadikan korban pengganti, Reza mengurai alasannya.
Dikatakannya, anak-anak termasuk dalam kelompok rentan menjadi korban kejahatan.
Sebab, mereka lemah secara fisik, lemah secara psikis, dan mungkin juga lemah secara sosial.
Karenanya jika penyidik kepolisian jeli, maka pembunuh Axle akan segera terkuak.
Penyidik mengklaim telah memperoleh titik terang terkait sosok terduga pelaku.
Meski belum diungkap ke publik, polisi menyebut arah penyelidikan semakin jelas.
“Dugaan pelaku sudah mulai mengerucut, kami sudah menemukan titik terangnya,” kata AKP Yoga Tama.
Sementara, terkait dugaan perampokan yang sempat beredar di media sosial, Sigit menyebutkan bahwa dari hasil pemeriksaan sementara, polisi belum menemukan adanya barang milik korban maupun keluarga korban yang hilang.
"Dari pemeriksaan yang dilakukan terhadap 8 saksi, ataupun keluarga korban, sejauh ini tidak ditemukan barang milik korban ataupun barang milik keluarga korban, itu tidak ada yang hilang,” ungkapnya.
Meski demikian, Sigit menegaskan pihak kepolisian masih terus melakukan pendalaman dan belum dapat menyimpulkan motif dalam kasus kematian bocah tersebut.
"Kami masih mendalami gitu ya. Kalau kami tidak bisa menduga-duga, kami masih mendalami," ucapnya.
Terpisah, Kasat Reskrim Polres Cilegon AKP Yoga Tama menduga bila MAHM bukan korban perampokan seperti yang beredar di masyarakat.
"Kasus ini itu dugaan pembunuhan, dapat dilihat dari bagaimana keadaan korban di rumah sakit," ucapnya.
Selain tak ada barang berharga yang hilang, tubuh korban mengalami sejumlah luka.
Hasil pemeriksaan ditemukan 22 luka di tubuh korban. 19 di antaranya merupakan luka akibat benda tajam.
Saat peristiwa terjadi, di rumah hanya ada korban dan kakaknya.
Sementara Maman dan istrinya sedang tak berada di rumah karena tengah bekerja.
Maman mengetahui MAHM dalam kondisi bersimbah darah setelah ia menerima telepon darurat dari anak berinisial D sekira pukul 14.20 WIB
Dalam telepon tersebut D berteriak meminta tolong ayahnya.
Mendapat kabar itu, Maman langsung bergegas meninggalkan tempat kerjanya di wilayah Ciwandan menuju rumah.
Setibanya di rumah, ia mendapati kondisi anaknya sudah tergeletak tengkurap di dalam kamar dengan tubuh bersimbah darah.
Korban kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Bethsaida Kota Cilegon, namun korban dinyatakan telah meninggal dunia.
(*)
Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com