Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, M Taufik

TRIBUNJATIM.COM, SIDOARJO – Sebagian wilayah di Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo sudah kebanjiran sekira satu bulan belakangan.

Utamanya di daerah Kedungbanteng dan sekitarnya. Beberapa wilayah sempat surut kemudian banjir lagi, beberapa lainnya banjirnya awet sebulan belakangan.

Data di BPBD Sidoarjo tercatat ada 7.146 rumah warga di Tanggulangin yang terendam banjir hingga Sabtu (27/12/2025).

Jumlah itu tersebar di Desa Kedungbanteng 935 rumah, Banjarasri 753 rumah, Banjarpanji 437 rumah, Kalidawir 805 rumah, Gempolsari 687 rumah, Penatarsewu 567 rumah, dan Desa Kalitengah sebanyak 2.962 rumah.

“Sudah satu bulan rumah kami kebanjiran. Sempat surut seminggu, lalu banjir lagi saat hujan deras mengguyur,” keluh Nuril, warga Kedungbanteng saat berbincang dengan Tribun Jatim Network, Sabtu siang.

Baca juga: Desa Kedungbanteng Sidoarjo Kembali Direndam Banjir, Lebih Parah dari Tahun Lalu

Selain itu rumah-rumah warga, banjir juga menggenangi dua sekolah TK, satu SD, dan satu SMP. Banjir juga merendam sejumlah jalan desa, dan ratusan hektar area pertanian di sana. Ketinggian air beragam, dari 20 centimeter sampai 50 centimeter.   

Penyebabnya, hujan mengguyur dengan intensitas tinggi beberapa waktu terakhir. Sementara kondisi kawasan itu mengalami land subsidence (penurunan muka tanah). Dan banjir semakin parah gara-gara proyek pembangunan rumah pumpa di Kedungpeluk.

Rumah pompa itu dibangun dengan maksud mengendalikan aliran air sungai. Tepatnya Kali Mbah Gepuk, sungai besar yang menjadi aliran utama ke laut. Tapi karena pengerjaan proyeknya amburadul, banjir justru semakin parah.

Proyek sudah berjalan selama enam bulan. Sejak saat itu, aliran sungai Mbah Gepuk ditutup di sebelah lokasi proyek. Alhasil, air dari wilayah Kedungbanteng dan sekitarnya tidak bisa mengalir. Sehingga meluber ke permukiman warga.

“Harusnya 26 Desember 2025 kemarin proyeknya sudah tuntas. Tapi masih seperti ini kondisinya, kurang banyak sekali,” kata Bupati Sidoarjo Subandi saat sidak ke lokasi proyek tersebut.

Subandi sangat kecewa melihat itu. Dia sampai marah-marah saat berbincang dengan Kepala Dinas PU BMSDA Dwi Eko Saptono dan perwakilan kontraktor di lokasi.

“Saya sudah tiga kali sidak ke sini. Berulang kali saya sampaikan, yang penting dikerjakan di bagian lantai dulu, baru bagian atas. Supaya sungai bisa segera kembali dialirkan. Tapi sepertinya tidak digubris sama sekali. Kondisinya masih seperti ini, bahkan matrialnya saja banyak yang tidak ada ini,” ujar bupati dengan nada tinggi.

Untuk mengatasi banjir yang sedang terjadi, sementara Bupati Subandi langsung mengerahkan lima pompa ke kawasan Tanggulangin.

“Kasihan warga Tanggulangin dan sekitarnya. Mereka kebanjiran terus, karena sungai tidak bisa mengalirkan air gara-gara pengerjaan proyek ini tidak karu-karuan,” tambahnya.

Rapor Merah Kontraktor

Bupati Subandi memerintahkan dinasnya untuk memberi rapor merah kepada kontraktor yang mengerjakan rumah pompa tersebut. Bahkan, disarankan untuk blacklist alias tidak dikasih pekerjaan lagi.

Menurutnya sudah jelas bahwa perusahaan ini tidak bagus pekerjaannya. Sudah berjalan enam bulan, masih banyak sekali kekurangan. “Mereka sekarang mengajukan tambahan waktu kerja selama 50 hari. Kita minta pengawasan dilakukan terus sepanjang waktu, supaya bisa benar-benar selesai,” ujar Subandi.  

Proyek pembangunan Rumah Pompa Kedungpeluk dikerjakan oleh CV Barokah Abadi. Nilainya mencapai Rp 7,1 miliar. Terhitung sejak 27 Desember 2025 mereka sudah masuk masa perpanjangan karena gagal menyelesaikan pekerjaan sebagaimana target waktu yang ditentukan selama 180 hari.

Baca juga: Penyebab Ratusan Calon Jemaah Haji Sidoarjo Belum Lunasi Biaya Haji

“Selama perpanjangan, kami juga kena denda. Itunganya 1/1.000 kali nilai proyek perhari. Artinya, setiap hari dendanya sekira Rp 7 juta, terus berjalan sampai proyek selesai,” kata Junaidi, perwakilan kontraktor saat ditemui di lokasi.

Dia berdalih keterlambatan ini karena banyak hal. Selain faktor cuaca, sekarang ini material pesanannya juga belum datang karena penjualnya libur. Diperkirakan Senin baru tiba di lokasi.

“Kami mengajukan tambahan selama 50 hari kerja. Tapi kami prediksi, akhir Januari proyek ini bisa selesai. Setidaknya di bagian lantai akan kami selesaikan terlebih dulu. Kemudian bagian atasnya,” jawab Junaidi.

Rumah Pompa Kedungbanteng Terdampak

Dari lokasi proyek pembangunan rumah pompa Kedungpeluk, Bupati Subandi bersama sejumlah pejabatnya bergeser ke rumah pompa di Kedungbanteng. Di sana, mereka melihat langsung kondisi operasional yang terkendala.

Bupati sempat bertemu dengan sejumlah warga. Mereka mengeluh sudah sekira satu bulan rumahnya kebanjiran. Warga juga berharap, operasional rumah pompa bisa dimaksimalkan supaya banjir segera surut.  

Tapi sayang, air yang disedot di rumah pompa Kedungbanteng tidak dapat dialirkan dengan maksimal ke sungai. “Karena aliran dari sungai ini tujuannya ke Kali Mbah Gepuk. Nah, lantaran di Kedungpeluk ditutup, kita tidak bisa maksimal mengalirkannya,” ungkap Kalaksa BPBD Sidoarjo Sabino Mariano.

Jika dipaksa maksimal, justru area banjir semakin luas. Air yang dikirim ke sungai itu malah akan meluber ke kawasan Kali Pecabean yang masuk wilayah Kecamatan Candi.

“Karena Kedungpeluk ditutup, kalau kita paksa mengalirkan air dari sini, kasihan daerah Kalipecabean. Malah parah kondisinya di sana,” lanjutnya.  

Rumah Pompa Banjarpanji Aman

Beda dengan rumah pompa di Desa Banjarpanji. Saat Bupati Subandi bersama rombongan datang ke sana, operasionalnya berjalan normal. Air yang disedot dari kawasan itu bisa dialirkan ke sungai yang menuju ke laut.

Menurut Sabino, aliran air dari rumah pompa ini berada di sebelah utara Kedungpeluk. Sehingga tidak terpengaruh dengan penutupan sungai di area proyek pembangunan rumah pompa di sana.

“Kalau di sini berjalan lancar. Sehingga, banjir yang terjadi di kawasan ini bisa terus dikurang dengan memaksimalkan rumah pompa yang ada,” ungkap pria yang juga menjabat sebagai Camat Tanggulangin tersebut.

Demikian halnya di Desa Kalidawir, pompa-pompa berjalan lancar. Apalagi desa itu memiliki enam unit pompa yang dibeli dengan uang APBDes. Upaya penanganan banjir pun bisa lebih maksimal di sana.

“Kami beli pompa sejak 2021 lalu, bertahap setiap tahun. Fungsinya bukan cuma menarik air ketika banjir, tapi juga kami gunakan untuk memaksimalkan pengairan lahan pertanian. Sehingga angka panen petani juga bisa meningkat,” ujar Maksun, Kades Kalidawir.

Dapur Umum Mulai Beroperasi

BPBD Sidoarjo mulai membuka dapur umum untuk membantu permakanan bagi warga terdampak banjir di kawasan Tanggulangin. Dapur umum itu dibuka di sebelah Masjid Al-Abror di Desa Kalidawir.

“Mulai hari ini dapur umum beroperasi. Petugas BPBD bersama para relawan sudah bekerja sejak pagi tadi. Kita masak dua kali sehari, dan setiap masak kita sediakan 2.000 porsi makanan,” kata Kalaksa BPBD Sidoarjo Sabino Mariano.

Dapur umum itu sudah dikordinasikan dengan desa-desa yang terdampak banjir. Setiap sehari dua kali, ada petugas dari desa datang ke dapur umum untuk mengambil jatah makanan. Kemudian dibawa ke desanya dan dibagikan kepada warga yang terdampak dan butuh bantuan permakanan.

“Kita juga terus melakukan pendataan untuk memastikan warga-warga yang perlu mendapatkan bantuan sosial,” lanjutnya.

Selain itu, pihaknya juga mulai menyiapkan lokasi pengungsian. Supaya jika sewaktu-waktu warga butuh tempat yang aman dan nyaman untuk beristirahat karena rumahnya kebanjiran, sudah bisa dilayani dengan cepat.

Dua lokasi yang disiapkan untuk tempat mengungsi warga korban banjir di sana ada di Balai Desa Kedungbanteng, dan TPQ Kedungbanteng.

Selain itu, BPBD juga mulai menyiapkan air bersih untuk kebutuhan warga terdampak. Serta pelayanan kesehatan bagi mereka yang berpotensi terkena penyakit akibat banjir yang terjadi kali ini.

Baca Lebih Lanjut
Sejumlah Rumah di Balangan Kalsel Rusak Usai Banjir Bandang, Warga Trauma Lihat Ketinggian Air
Proyek pengendalian banjir dan rob Jakarta mulai dikerjakan pada 2026
Antaranews
Pemprov DKI Kucurkan Rp 2,62 T untuk Proyek Pengendalian Banjir Jakarta
Detik
Ruang VIP Kantor Bupati Brebes Kebanjiran, DPU: Padahal Hujan Cuma Satu Jam
Ratusan Rumah dan Sawah di Benjeng dan Balongpanggang Gresik Terendam Banjir Luapan Kali Lamong
Hujan Deras Picu Banjir dan Longsor di Rejang Lebong, Ratusan Rumah Warga Terdampak
107 Rumah Warga di Desa Baskara Bakti Sudah Bisa Mengakses Layanan Air Bersih
Wisata Guci Tegal Tutup Sementara, Pemandian Pancuran 13 Rusak Parah Imbas Banjir Bandang
PLN Padamkan Sementara Aliran Listrik di Wilayah Awayan Hingga Tebing Tinggi Balangan Karena Banjir
Data Kerusakan Jalan, Jembatan, Saluran Irigasi hingga Rumah Akibat Banjir Bandang di Agara