TRIBUNMATARAMAN.COM, KEDIRI - Di tengah menjamurnya kafe modern dengan menu kekinian, Arumpala Kopi Kediri justru tampil berbeda.
Warung kopi di Jalan Tegal Arum Desa Doko Kecamatan Ngasem Kabupaten Kediri, Jawa Timur, ini menyuguhkan kuliner tradisional.
Warung kopi milik Muhammad Cahaya Gumelar ini menghadirkan sensasi kuliner tradisional Jawa yang jarang ditemui di kafe pada umumnya.
Didirikan pada tahun 2021, Arumpala Kopi mengusung konsep kafe bernuansa Jawa yang kental.
Mulai dari bangunan, tata ruang, hingga menu yang disajikan, semuanya dirancang untuk membawa pengunjung kembali pada suasana pedesaan yang hangat dan sederhana.
"Kafe ini dibangun tahun 2021. Konsep Jawa ini memang karena keluarga saya suka banget budaya dan bangunan-bangunan Jawa," kata pria yang akrab dipanggil Agum saat ditemui di Arumpala Kopi, Senin (29/12/2025).
Salah satu menu yang menjadi ikon sekaligus favorit pengunjung adalah nasi jangan deso.
Nasi jangan deso maksudnya nasi dengan sayur atau lauk khas pedesaan. Jangan yang terletak di antara kata nasi dan deso, artinya adalah sayur dalam konteks lokal etnis Jawa.
Menu ini sekilas tampak sederhana, namun justru menyimpan cita rasa khas masakan rumahan Jawa yang autentik.
"Nasi jangan deso itu sebenarnya nasi lodeh tahu, tapi kita sebut jangan deso karena sayur itu kan yang sering dimasak warga desa," jelas Agum.
Dalam satu porsi nasi jangan deso, pengunjung akan menemukan sepiring nasi putih hangat yang disajikan bersama sayur lodeh tahu, gereh atau ikan asin, telur dadar, serta kerupuk.
Kombinasi sederhana ini justru menghadirkan rasa gurih dan nikmat yang membangkitkan kenangan masa kecil.
Harga yang diberikan cukup ramah di kantong, hanya Rp 15 ribu saja.
"Isinya nasi, sayur tahu, gereh, telur dadar, sama kerupuk. Resepnya dari keluarga sendiri, turun-temurun," ucap Agum.
Selain nasi jangan deso, Arumpala Kopi juga menyajikan nasi goreng Jawa dan nasi goreng Kediri khas arang.
Meski demikian, Agum mengaku sengaja tidak menghadirkan terlalu banyak menu modern agar karakter tradisional kafe tetap terjaga.
"Sekarang kan zamannya menu modern dan kopi milenial. Tapi kita ingin tetap mempertahankan kearifan lokal, karena pada dasarnya kita orang Jawa dan punya budaya sendiri," ungkapnya.
Menurut Agum, kekuatan Arumpala Kopi bukan terletak pada banyaknya variasi menu, melainkan pada suasana dan nuansa tempat yang membawa pengunjung pada atmosfer Jawa tempo dulu.
"Di sini mungkin tidak keberagaman makanannya, tapi lebih ke nuansa tempatnya. Jadi pengunjung bisa merasakan suasana kafe Jawa dengan kearifan lokal," ujarnya.
Baca juga: Jadwal Bola Malam Ini 29–30 Desember 2025: AFCON 2025, Final Futsal AFF, Serie A, Liga Indonesia
Setiap harinya, Arumpala Kopi mampu menarik sekitar 50 hingga 100 pengunjung.
Mayoritas berasal dari Kediri, namun tak sedikit pula yang datang dari luar kota seperti Surabaya dan wilayah sekitar Karesidenan Kediri.
"Kebanyakan dari Kediri, tapi banyak juga yang dari luar kota. Mereka penasaran dengan konsep dan menunya," tutur Agum.
Tak hanya sebagai tempat makan dan ngopi, Arumpala Kopi juga kerap menjadi lokasi berbagai kegiatan. Mulai dari sesi foto prewedding hingga event kreatif yang melibatkan pelaku UMKM.
"Sering dipakai foto prewedding. Terus kemarin kami adakan pop-up market atau pasar dadaan, kami ajak teman-teman UMKM yang belum punya tempat," ceritanya.
Dalam acara tersebut, berbagai produk UMKM ditampilkan, mulai dari kerajinan tangan, perhiasan, hingga kuliner modern. Menariknya, suasana tradisional tetap dipertahankan meski hiburan modern seperti DJ turut dihadirkan.
"Kami campurkan nuansa modern, tapi tempatnya tetap tradisional," bebernya.
Terinspirasi dari nama jalan tempat kafe berdiri, Jalan Tegal Arum, Agum kemudian memadukannya dengan kata pala yang merujuk pada palawija atau rempah-rempah.
"Indonesia itu identik dengan rempah-rempah. Jadi kita ambil kata pala, terus digabung dengan arum, jadilah Arumpala," jelasnya.
Sementara itu, salah satu pengunjung Novira asal Kediri Kota merasa cocok dengan nuansa kafe tradisional.
Apalagi menurut dia, lokasi kafe di wilayah Ngasem menjadi salah satu hidden gem bagi pemburu kuliner namun masih merasakan nuansa alami khas pedesaan.
"Enak lokasinya tidak bising dan nyaman, harganya juga pas di kantong," ucapnya.
(Isya Anshori/TribunMataraman.com)
Editor : Sri Wahyunik