Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Tepat malam 30 Desember 2000, saat televisi Jepang menayangkan program khusus menyambut abad ke-21, tragedi mengerikan terjadi di kawasan Setagaya, Tokyo.
Di sebuah rumah tiga lantai di Kamisoshigaya, empat anggota keluarga Miyazawa ditemukan tewas keesokan paginya.
Kasus ini kemudian dikenal sebagai Setagaya Ikka Satsujin Jiken dan hingga kini, 25 tahun berlalu, masih menjadi misteri terbesar kriminal Jepang.
Korban adalah Mikio Miyazawa (44), istrinya Yasuko (41), serta dua anak mereka, Niina (8) dan Rei (6).
Malam itu mereka sempat makan malam dan berbelanja ke toko sekitar sebelum kembali ke rumah.
Baca juga: 3 Penyebab Kasus Pembunuhan Anak Politikus PKS Belum Juga Terungkap Menurut Eks Kabareskrim: Sulit
Diduga Masuk Lewat Jendela Kamar Mandi
Penyelidik meyakini pelaku masuk melalui jendela kecil kamar mandi di lantai setengah (chū-nikai).
Di bawah jendela tersebut terdapat ranjang susun tempat Rei tidur.
Bocah itu ditemukan tewas akibat dicekik.
Mikio ditemukan di lantai satu dengan luka tusuk di dada dan wajah.
Pisau yang digunakan diduga pisau dapur jenis yanagiba yang dibawa pelaku.
Pelaku kemudian naik ke loteng di lantai tiga menggunakan tangga.
Yasuko dan Niina diserang di area lantai setengah hingga lorong.
Keduanya mengalami luka tusuk di dada dan leher.
Selain pisau yang dibawa pelaku, satu pisau rumah tangga milik korban juga digunakan.
Yang membuat kasus ini tidak biasa adalah perilaku pelaku setelah pembunuhan.
Laci dibuka, dokumen dipotong, lalu direndam di bak mandi.
Kulkas dibuka, es krim diperas dan dimakan dengan tangan.
Baca juga: Sosok Musa, Satu-satunya Penghuni Kos Pelaku Pembunuhan Wanita SM, Sempat Sembunyi di Balik Tandon
Wadah es krim ditemukan di dalam bak mandi.
Pada 31 Desember pukul 01.18, komputer rumah diaktifkan.
Riwayat mencatat akses ke situs kelompok teater ternama.
Pakaian, tas, dan barang lain yang diduga milik pelaku tertinggal di ruang keluarga.
Dua pisau ditemukan di dapur.
Tokyo Metropolitan Police memperkirakan pelaku adalah pria muda dengan tinggi sekitar 170 cm dan bergolongan darah A.
Jejak kaki berukuran 27,5 cm ditemukan di banyak ruangan.
Sepatu yang digunakan bermerek Slazenger buatan Korea dan tidak dijual di Jepang.
Petunjuk ini sempat mengarahkan penyelidikan ke Korea Selatan.
Sekitar 150 ribu yen uang tunai dilaporkan hilang.
Namun polisi menilai motif perampokan tidak kuat karena rumah dalam kondisi terang dan berpenghuni.
Hingga kini, motif pembunuhan tidak pernah terungkap.
Polisi telah mengerahkan hampir 300 ribu personel dan menerima sekitar 15 ribu laporan masyarakat.
Pada 2025, poster pencarian pelaku kembali diperbarui dan dipasang di berbagai stasiun termasuk di Stasiun Seijogakuen-mae dengan manekin rekonstruksi pakaian pelaku.
Seperempat abad berlalu, misteri malam tahun baru di Setagaya masih menghantui Jepang.
Jejak es krim, komputer yang sempat dinyalakan, dan barang yang tertinggal menjadi simbol betapa dekatnya pelaku dengan korban, namun tetap tak terjangkau hukum.
Diskusi berbagai kasus di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com