TRIBUNBANYUMAS.COM, PURBALINGGA — Suasana pendakian Gunung Slamet pada momen pergantian Tahun Baru 2026 terpantau lebih lengang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Jika pada periode yang sama di tahun 2023 jumlah pendaki bisa menembus angka seribu orang, dua tahun terakhir tren tersebut perlahan berubah.
Di Basecamp Bambangan, salah satu jalur favorit pendakian Gunung Slamet, tercatat hanya sekitar 300 pendaki yang naik pada periode 30–31 Desember 2025. Jumlah tersebut jauh dari kuota maksimal yang sebenarnya disiapkan pengelola.
“Kalau dibandingkan dua tahun lalu memang jauh menurun. Sekarang momen tahun baru sudah tidak terlalu diambil oleh para pendaki,” ujar Syaiful, Koordinator Gunung Slamet via Basecamp Bambangan, kepada Tribunbanyumas.com, Kamis (1/1/2026).
Menurut Syaiful, penurunan minat mendaki di hari libur besar seperti Tahun Baru dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Cuaca ekstrem di akhir tahun hingga awal tahun menjadi pertimbangan utama, disusul kondisi ekonomi yang turut memengaruhi pola perjalanan wisata.
Baca juga: Viral Aliran Sungai Dekat Pemandian Guci Tegal Meluap
Namun di sisi lain, terjadi pergeseran tren di kalangan pendaki. Alih-alih memilih tanggal merah panjang, para pendaki kini justru memanfaatkan akhir pekan biasa.
“Sekarang trennya ramai itu malah di Sabtu–Minggu biasa, bukan di libur besar. Jadi pendakian tetap jalan, tapi momentumnya berbeda,” katanya.
Adapun, pendaki yang tercatat di Basecamp Bambangan selama momen Tahun Baru sebagian besar berasal dari luar daerah, seperti Jakarta dan Surabaya. Sementara pendaki lokal Banyumas Raya jumlahnya relatif lebih sedikit.
Sementara itu, untuk momen libur akhir tahun, pihak pengelola sempat menetapkan pembatasan kuota pendaki maksimal 750 orang per hari. Namun karena jumlah pendaki menurun, kuota tersebut tidak terpenuhi.
Meski demikian, Syaiful justru menilai kondisi ini sebagai tren yang positif.
“Kalau menurut kami malah bagus. Dibanding tahun-tahun sebelumnya yang terlalu padat sampai jalur macet dan camp penuh, sekarang lebih lancar dan terkendali,” ujarnya.
Dengan jumlah pendaki yang lebih proporsional, risiko kecelakaan, penumpukan di jalur, hingga kerusakan lingkungan bisa ditekan. Pendakian pun menjadi lebih aman dan nyaman, baik bagi pendaki maupun petugas.
“Pendakian tetap bagus-bagus saja, hanya saja momentumnya berubah,” ucapnya.
Lebih lanjut, terkait isu pendaki tersesat akibat mendaki secara Tek Tok yang sempat ramai di media sosial, pihaknya menegaskan bahwa jalur Tek Tok saat ini sudah tidak lagi diizinkan untuk pendakian via Bambangan. Penutupan pendakian tersebut bahkan telah dilakukan sejak November 2025.
“Jalur Tek Tok sudah tidak diizinkan karena jumlah insidennya meningkat. Apalagi dengan kondisi cuaca seperti sekarang, kalau dibuka justru berbahaya,” tegasnya.
Baca juga: Viral Aliran Sungai Dekat Pemandian Guci Tegal Meluap
Gunung Slamet merupakan gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa dan memiliki karakter cuaca yang cepat berubah. Memasuki akhir tahun hingga Februari, potensi hujan lebat dan badai masih cukup tinggi.
Karena itu, pengelola mengimbau pendaki yang tetap ingin naik agar benar-benar memperhatikan kesiapan fisik dan kelengkapan peralatan.
“Himbauan kami lebih ke persiapan fisik dan peralatan sesuai standar pendakian. Logistik juga harus diperhitungkan matang karena cuaca masih sering hujan dan badai. Fisik jangan disepelekan,” kata Syaiful.
Dari sisi pengamanan, Basecamp Bambangan tetap menerapkan sistem monitoring seperti hari-hari biasa. Pada setiap akhir pekan, disiagakan empat personel di tiap pos dan area camp untuk memastikan keselamatan pendaki.
“Setiap camp area ada personel yang memantau. Jadi pendaki tetap terkontrol,” ujarnya.