TRIBUNJATIM.COM - Seorang warga Desa Panggalih, Kecamatan Cisewu, Jawa Barat bernama Holis Muhlisin (31) viral karena mendapat tindakan intimidasi dari keluarga kepala desa.
Holis mendapat intimidasi setelah mengkritik kondisi jalan rusak desa melalui postingan media sosial Facebook.
Aksi keluarga kades mengintimidasi Holis terjadi pada 27 Oktober 2025.
Sosok kades yang keluarganya melalukan intimidasi tersebut diketahui bernama Wahyu.
Ia sudah menjabat sebagai Kepala Desa Panggalih sejak 2019.
Dikutip dari Tribun Sumsel pada Senin (5/1/2026), Wahyu menjadi Kades Panggalih menggantikan Rusmana kala itu menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt).
Wahyu sendiri kini terancam diperiksa Insepktorat setelah Wakil Bupati Garut Putri Karlina turun langsung menyoroti kasus tersebut.
Baca juga: Setelah Dipolisikan Keluarga Kades karena Kritik Jalan Rusak, Muhlisin Kini Dipanggil Dedi Mulyadi
Holis mengaku kejadian mendapat intimidasi dari keluarga kades setelah dirinya kerap mengunggah kondisi infrastruktur rusak di desanya.
"Iya betul itu adalah saya, kejadiannya tanggal 27 Oktober 2025, kemudian saya posting di Facebook 31 Desember 2025," ujarnya melalui sambungan telepon, Sabtu (3/1/2025) malam, dikutip Tribun Jabar.
Ia menuturkan, peristiwa tersebut bermula saat dirinya hendak bertemu dengan seseorang di wilayah desanya untuk membicarakan urusan akun Facebook.
Namun, singkat cerita pertemuan itu ternyata dilakukan di halaman rumah sang kepala desa yakni di Kampung Pasircamat.
"Padahal urusan saya dengan teman soal akun Facebook palsu sudah selesai, tapi tiba-tiba ada beberapa keluarga kepala desa yang mengintimidasi saya," ungkapnya.
Intimidasi itu ucapnya, dilakukan oleh empat orang, yakni istri kepala desa, anak kepala desa, menantu kepala desa, serta keponakan kepala desa.
Holis mengaku sempat mendapatkan kekerasan berupa cekikan di leher dan pukulan di punggungnya.
"Saya sebagai korban tidak enak, digituin sama orang lain. Saya melakukan (posting video) untuk kemajuan desa," ucapnya.
Dalam video yang diunggahnya Holis terlihat dimaki-maki keluarga kepala desa, di antara mereka bahkan mengucapkan kalimat hinaan terhadap korban.
Holis terlihat hanya bisa terdiam, sementara dua laki-laki dan satu perempuan terus memaki-makinya.
"Video itu direkam oleh teman saya yang sebelumnya janjian dengan saya," ungkapnya.
Baca juga: Muhlisin Dipolisikan Keluarga Kades karena Kritik Jalan Rusak, Istri Pak Lurah Ikut Menamparnya
Usai insiden tersebut, Holis menyebut dirinya dipanggil untuk bertemu langsung dengan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
"Saya ditelepon ajudan untuk menghadap Pak Gubernur Dedi Mulyadi malam ini (Sabtu)," ujarnya, Sabtu (3/1/2/2026).
Ia menuturkan, belum mengetahui secara pasti apa yang nantinya akan dibahas orang nomor satu di Jawa Barat itu.
Holis juga mengaku sempat dipanggil oleh Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Panggalih untuk mengklarifikasi unggahannya di Facebook soal jalan rusak.
Dalam pertemuan tersebut, kata Holis, BPD mengingatkan dirinya agar mengkritik secara santun dengan tidak menyebutkan nama desa.
"Sebetulnya saya juga takut pas upload, tapi saya ingat kata Pak Gubernur agar mengunggah pembangunan di desa," tandasnya.
Dalam kasus ini, Wakil Bupati Garut Putri Karlina turut menerjunkan inspektorat untuk memeriksa kades yang keluarganya viral mengintimidasi warga.
Putri Karlina menjelaskan, pihaknya telah menghubungi Inspektorat Kabupaten Garut untuk melakukan audit terhadap kepala desa yang bersangkutan.
"Saya sudah menghubungi Pak Inspektur dari Inspektorat untuk segera datang ke desa mengaudit seperti yang teman-teman minta," ucap Putri Karlina dalam unggahan Instagram resminya, Sabtu (3/1/2026) malam.
Menurut Putri karlina, langkah ini pihaknya ambil sebagai upaya memberikan informasi berimbang kepada masyarakat.
"Mengaudit bukan untuk mencelakakan kepala desa, tetapi untuk memberikan informasi berimbang," tutur Putri Karlina.
"Kalau memang misalnya di desa itu ada pembangunan dan dana desa berjalan sesuai dengan kebutuhan, maka seharusnya Pak Kades tidak perlu takut kalau akan diaudit," sambung dia.
Putri Karlina juga akan membeberkan informasi terkait aliran dana desa, termasuk kepada pihak yang mempertanyakannya.
"Kita harus memberikan informasi ke mana sih dana desa yang dikeluhkan katanya enggak ada pembangunan itu. Mungkin nanti Aa yang mengkontenkan itu juga harus tahu informasinya," ucap Putri Karlina.
"Jadi, kalau inspektorat sudah ada hasilnya, akan saya coba jelaskan kalau memang di desa itu ternyata ada atau tidak ada pembangunan, ke mana kah dana desanya berada," jelas dia.
Baca juga: Sosok Tarsitem Meninggal saat akan Dilantik Jadi Kades, Sebelumnya Keliling Batas Desa Tengah Malam
Putri Karlina menilai, sudah menjadi konsekuensi yang wajar apabila seorang pemimpin mendapatkan kritik dari warganya.
"Ya, namanya memilih untuk menjadi pimpinan pasti akan berhadapan dengan kritik, orang yang enggak suka dan tidak setuju terhadap apa yang kita lakukan," beber Putri Karlina.
"Itu risiko dan itu harus diterima. Ketika mencalonkan saja itu sudah harus menerima konsekuensi tidak disukai orang atau mendengar hal yang kita tidak sukai," imbuh dia.
Dia pun berharap, peristiwa ini menjadi pelajaran dan tidak terjadi lagi di Kabupaten Garut.
"Tolong ini menjadi pelajaran. Aku pernah salah dan tidak akan pernah mengulangi. Kades yang sebelumnya juga ada salah," kata Putri Karlina.
"Mohon kepada kades yang lain atau siapa pun pejabat lainnya, sebuah konsekuensi yang harus kita terima bersama kalau kita dikritik atau mendapatkan masukan yang kurang mengenakan," lanjutnya lagi.
"Harus legowo, terbuka, dan mengakui kalau memang masih ada yang belum sempurna dari kepemimpinan kita," sambungnya.
Menurut Putri Karlina, merespons hal dengan emosi justru tidak akan menyelesaikan masalah yang terjadi.
"Tolong jangan selesaikan masalah dengan emosi, atau jangan malu ketika ada yang mengkontenkan. Kalau kerja benar, pasti tidak akan malu yang kayak gitu. Mungkin hari ini belum, tetapi besok akan," tuturnya.