TRIBUNNEWSMAKER.COM - Di Kota Solo, Jawa Tengah, pisang goreng memiliki makna lebih dari sekadar makanan ringan.
Camilan ini telah lama menjadi bagian dari keseharian masyarakat.
Pisang goreng kerap menemani obrolan santai di warung kopi sejak pagi hari.
Di lingkungan keluarga Jawa, pisang goreng juga sering disajikan untuk menjamu tamu.
Seiring waktu, kudapan sederhana ini berkembang menjadi produk UMKM yang dipasarkan secara modern.
Bahkan, pisang goreng buatan pelaku usaha Solo kini mampu menembus pasar nasional.
Di balik tampilannya yang sederhana, pisang goreng menyimpan sejarah panjang.
Kebiasaan menggoreng pisang dengan balutan terigu berasal dari tradisi kuliner Portugis.
Pada abad ke-16, bangsa Portugis membawa teknik memasak berbasis tepung gandum ke Nusantara.
Tepung gandum itu kemudian dikenal luas dengan sebutan terigu.
Pada masa tersebut, pisang goreng biasa dikonsumsi sebagai menu sarapan oleh bangsa Portugis.
Tradisi memasak itu lalu diperkenalkan kepada masyarakat lokal di wilayah Nusantara dan Selat Malaka.
Dari proses tersebut, pisang goreng mulai beradaptasi dengan selera masyarakat setempat.
Baca juga: 6 Toko Batik di Solo dari Harga Miring hingga Kualitas Premium, Ada Beteng Trade Center
Di tanah Jawa, termasuk Solo, pisang goreng berkembang menjadi makanan rakyat.
Pada era kolonial Belanda, pisang goreng kerap disajikan di kalangan priyayi Jawa.
Hidangan ini biasanya dihadirkan sebagai makanan penutup.
Orang Belanda pun ikut mengadopsi kebiasaan menyantap pisang goreng sebagai dessert.
Di Solo, tradisi menyuguhkan teh hangat dan pisang goreng terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Hingga kini, warung kopi, angkringan, dan warteg tetap menjadikan pisang goreng sebagai camilan favorit dengan pilihan pisang raja, kepok, dan nangka yang manis dan padat.
Tak hanya di Indonesia, pisang goreng juga dikenal luas di Asia Tenggara dan India Selatan.
Di Brunei dikenal sebagai cucur pisang, sementara di Kerala, India, disebut pazham pori.
Baca juga: 6 Toko Batik di Solo Jateng yang Wajib Dikunjungi, Termasuk Pasar Klewer dan Pusat Grosir Solo
Meski berbeda nama dan bahan adonan, esensinya sama: pisang goreng sebagai camilan rakyat.
Popularitasnya bahkan diakui dunia.
Pisang goreng dinobatkan sebagai dessert gorengan terbaik di dunia versi Taste Atlas, dengan skor 4,60 dalam kategori best deep fried dessert.
Pengakuan ini menegaskan posisi pisang goreng sebagai makanan sederhana yang dicintai lintas budaya.
Di Solo, pisang goreng tidak berhenti sebagai makanan tradisional. Ia terus berevolusi mengikuti zaman.
Muncul beragam inovasi seperti pisang molen, pisang aroma, pisang nugget, hingga pisang goreng bertopping keju, cokelat, dan susu.
Salah satu kisah sukses datang dari Pisang Goreng Sultan, brand asal Solo yang dirintis Henny sejak 2019.
Berawal dari dapur rumah dan rasa iba kepada pedagang pisang saat masa PPKM, Henny mengolah pisang menjadi produk bernilai tambah.
“Awalnya buat makan sendiri dan menjamu tamu. Lama-lama banyak yang pesan,” tutur Henny.
Dengan sistem pre-order dan pemasaran sederhana, usahanya berkembang pesat.
Saat pandemi, Pisang Goreng Sultan mendapat pembinaan, sertifikasi halal, dan kini menjadi salah satu pelopor gorengan bersertifikat halal di Indonesia.
Kini, Pisang Goreng Sultan telah membuka lima outlet di Solo dan sekitarnya, serta merambah model waralaba.
Dengan omzet mencapai ratusan juta rupiah per bulan, kisah ini mencerminkan bagaimana camilan tradisional Solo mampu beradaptasi menjadi bisnis modern.
Namun, tantangan tetap ada.
Perubahan iklim memengaruhi kualitas pisang, sementara harga minyak goreng terus berfluktuasi. Meski demikian, semangat untuk mempertahankan cita rasa tradisional tetap dijaga.
(TribunNewsmaker.com/ TribunSolo)