SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Di saat Sriwijaya FC berada di titik paling gelap dalam sejarahnya, satu suara lantang justru menggema dari tribun loyalitas. Capo Tifoso Ultras Palembang, Qusoi SH, dengan tegas menyuarakan sumpah setia yang menggugah hati.
“Sriwijaya FC sampai akhir hayat. Sampai Liga 3 atau Liga 4 pun tetap SFC. Ale… Ale… Ale…” tulis Capo Tifoso Ultras Palembang, Qusoi SH di status whatsappnya, Kamis (8/1/2026) dini hari tadi.
Seruan Capo Tifoso Ultras Palembang, Qusoi SH itu ia tuliskan bukan sekadar kata-kata, melainkan perlawanan moral di tengah badai krisis Sriwijaya FC yang nyaris meruntuhkan Elang Andalas.
Loyalitas Qusoi mencerminkan kondisi Sriwijaya FC saat ini, bertarung untuk sekadar bertahan hidup. Tanpa kepastian dana, tanpa sponsor, dan dengan kekuatan pemain yang menipis, SFC tetap memaksakan diri berangkat ke Tegal menggunakan bus dari Palembang, Rabu (7/1/2026) pukul 21.00 WIB.
Sriwijaya FC dijadwalkan menghadapi Persekat Tegal pada laga ke-15 Pegadaian Championship 2025/26 di Stadion Trisanja, Sabtu (10/1/2026) pukul 15.30 WIB. Namun laga ini bukan sekadar pertandingan biasa—ini adalah simbol perjuangan klub melawan krisis internal yang mengancam eksistensinya.
Krisis Pemain Tinggal 15 Nama Tersisa
Masalah SFC tak berhenti pada finansial. Krisis pemain kini menjadi ancaman nyata. Dari sebelumnya 17 pemain tersisa, kini jumlah itu menyusut menjadi 15 pemain aktif.
Kapten tim Ganjar Mukti Muhardiyana dikabarkan segera hengkang, sementara winger Mukhti Arya Muslim harus absen akibat kartu merah. Dengan komposisi seadanya, SFC tetap memaksakan diri bertanding demi menjaga marwah klub.
Kondisi semakin pelik setelah Manajer Tim SFC Fidesia Noor menyampaikan kabar pahit kepada pemain. Investor yang sebelumnya dijanjikan, mendadak menghentikan seluruh proses pendanaan akibat tekanan eksternal.
Pukulan terberat datang dari Alexander Rusli, Komisaris Utama PT SOM sekaligus pemilik PT Digi Sport Asia. Per 31 Desember 2025, ia resmi menarik seluruh dukungan finansial untuk Sriwijaya FC.
Direktur Kompetisi PT SOM, Berman Limbong SH MH, mengisyaratkan keputusan tersebut.
“Saya belum tahu pasti. Tapi sepertinya begitu,” ujarnya singkat.
Patungan Dana Pribadi Demi Bertahan
Direktur Olahraga PT SOM, Anggoro Prajesta, mengonfirmasi kondisi genting itu. Saat ini, Sriwijaya FC benar-benar hidup dari uang pribadi manajemen.
“Iya, per 31 Desember sudah tidak ada pendanaan dari Pak Alex. Sekarang kami patungan pakai uang pribadi. Sponsor nol,” ungkap Anggoro dengan nada getir.
Soal kemungkinan WO atau tetap melanjutkan sisa 13 pertandingan, Anggoro menjadi penentu. Namun harapan masih digantungkan pada kemungkinan hadirnya investor baru, khususnya dari putra daerah Palembang.
• Sriwijaya FC Berangkat ke Tegal via Bus, Krisis Finansial Mengancam Eksistensi Laskar Wong Kito
Di tengah eksodus pemain—termasuk Ganjar Mukti yang dikabarkan menyusul Rendy Juliansyah dan Vieri Donny Ariyanto ke PSPS Pekanbaru—satu hal tetap bertahan: loyalitas suporter.
Teriakan Capo Tifoso Ultras Palembang bukan sekadar dukungan, melainkan pesan keras bahwa Sriwijaya FC bukan hanya klub sepak bola, tetapi identitas, harga diri, dan cinta yang tak lekang oleh krisis.
Apapun hasil di Stadion Trisanja nanti, Sriwijaya FC sedang bertarung bukan hanya melawan Persekat Tegal—tetapi melawan kemungkinan punahnya sebuah kebanggaan Sumatera Selatan.