SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Di tengah badai krisis yang menerpa, Sriwijaya FC tetap melangkah. Tanpa kepastian dana, tanpa sponsor, dan dengan kondisi tim yang jauh dari ideal, Laskar Wong Kito akhirnya berangkat menuju Tegal untuk menjalani laga ke-15 Pegadaian Championship 2025/26 menghadapi Persekat Tegal di Stadion Trisanja, Sabtu (10/1/2026) pukul 15.30 WIB.
Keberangkatan tim kebanggaan Sumatera Selatan itu terungkap lewat unggahan akun pendukung di media sosial. Akun catatan.sriwijayafc menuliskan bahwa Sriwijaya FC menempuh perjalanan panjang menggunakan bus dari Palembang, Rabu (7/1/2025) pukul 21.00.
“Malam ini Sriwijaya FC akan berangkat menuju Tegal menggunakan bus. Tetap semangat kebanggaan,” tulis akun tersebut,
Sementara itu, akun sriwijayafcnewss juga mengunggah poster Next Match dengan nada getir.
“Laga selanjutnya Sriwijaya FC bertandang ke Tegal dengan segala keterbatasan. Apapun hasilnya kami tetap respect.”
Pelatih kepala Sriwijaya FC, Budi Sudarsono, hanya memastikan bahwa dirinya telah lebih dulu berangkat ke Jakarta beberapa hari sebelumnya, tanpa banyak komentar mengenai kesiapan tim.
"Insya Allah masih main," kata Budi Sudarsono kepada Sripoku.com, Kamis (8/1/2026).
Fakta paling mencemaskan datang dari jajaran manajemen. Direktur Olahraga PT Sriwijaya Optimis Mandiri (SOM), Anggoro Prajesta, mengungkapkan bahwa pemegang saham mayoritas Sriwijaya FC, Alexander Rusli melalui PT Digi Sport Asia, resmi menghentikan seluruh dukungan finansial per 31 Desember 2025.
“Iya, per 31 Desember sudah tidak ada pendanaan dari Pak Alex/Digi. Sekarang kami patungan pakai uang pribadi,” ujar Anggoro dengan suara lirih.
Pernyataan itu menegaskan bahwa Sriwijaya FC kini bertahan hanya dengan sisa semangat dan pengorbanan pribadi para pengurus.
Klub legendaris yang pernah merajai sepak bola nasional ini kini berada di titik paling mengkhawatirkan sepanjang sejarahnya. Tanpa pendanaan, tanpa sponsor, dan tanpa aktivitas tim yang normal, roda operasional Sriwijaya FC praktis berhenti total.
Gaji pemain tersendat. Program latihan tak berjalan. Persiapan pertandingan nyaris nihil. Padahal, kompetisi masih menyisakan 13 laga yang harus dijalani.
Ancaman walk out (WO) hingga pembubaran klub bukan lagi sekadar isu, melainkan kemungkinan nyata jika investor baru tak segera datang.
Eksodus Pemain dan Ketidakpastian
Krisis ini berdampak langsung pada skuat. Sejumlah pemain dikabarkan mulai meninggalkan tim. Kapten Sriwijaya FC, Ganjar Mukti Muhardiyana, bahkan disebut-sebut menyusul eksodus menuju klub lain.
Tidak ada latihan terjadwal. Tidak ada skema permainan. Tidak ada kepastian masa depan. Yang tersisa hanyalah keheningan di tubuh tim yang dulu ditakuti lawan.
Manajer tim Sriwijaya FC, Fidesia Noor, mengungkapkan bahwa investor yang sempat dijanjikan batal masuk akibat tekanan eksternal. Upaya renegosiasi masih dilakukan, namun hingga kini belum membuahkan hasil konkret.
Baca juga: Sumsel United Siapkan Senjata Baru Hadapi PSPS Pekanbaru
Laga melawan Persekat Tegal akhir pekan ini bukan sekadar pertandingan biasa. Ini adalah simbol perlawanan Sriwijaya FC terhadap keterbatasan dan ketidakpastian.
Dengan kondisi finansial nyaris nol, perjalanan tandang saja menjadi persoalan besar. Namun Laskar Wong Kito tetap berangkat — membawa nama besar klub, harga diri, dan harapan terakhir agar Sriwijaya FC tidak benar-benar tenggelam dari peta sepak bola nasional.
Apapun hasil di Stadion Trisanja nanti, satu hal pasti, Sriwijaya FC sedang bertarung bukan hanya melawan lawan di lapangan, tetapi juga melawan krisis yang mengancam eksistensinya sendiri.
Sriwijaya FC krisis pemain. Jika sebelumnya ada 17 pemain yang masih bertahan di Sriwijaya FC. Dengan sinyal kepergian kapten tim Ganjar Mukti Muhardiyana, dan terkena kartu merahnya winger Mukhti Arya Muslim di laga kemarin. Artinya tersisa 15 pemain yang bisa dimaksimalkan saat ini untuk menghadapi Persekat tegal.