TRIBUNJATIM.COM - Inilah cerita kakek Ohar, yang sudah 17 tahun jualan kerak telor.

Pria berusia 70 tahun ini jualan di pinggir jalan depan Jakarta International Expo (JIExpo), Pademangan, Jakarta Utara.

Saat ditemui, ia tampak duduk di atas bangku kecil sambil mengawasi setiap pengendara yang lewat.

Ia berharap ada pengendara yang berhenti untuk membeli dagangan kerak telurnya.

Baca juga: 30 Tahun Jualan Barang Bekas, Kakek Encip Bersyukur Bisa Sekolahkan Anak Meski Tak Punya Rumah

Setiap ada pembeli, pria asal Garut, Jawa Barat, itu langsung menyambutnya dengan senyuman dan mata berbinar.

"Mau telor ayam atau bebek dan mau berapa?" Kata Ohar sambil tersenyum bertanya kepada pembeli, Selasa (30/12/2025) malam, melansir dari Kompas.com.

Kebanyakan pembeli memilih menggunakan telur bebek karena rasanya gurih, meski harganya lebih mahal dibandingkan telur ayam.

Meski tahu akan lebih mahal dari telur ayam, kebanyakan pembeli memastikan terlebih dahulu harga perporsi kerak telur yang dijual Ohar, karena takut "digetok" harga.

Namun, wajah Ohar langsung berubah menjadi khawatir ketika para pembeli menanyakan harga kerak telornya.

Sebab, ia takut apabila dagangannya tak jadi dibeli karena harganya dinilai mahal, meski sudah memasang harga standar.

Modal Makin Mahal

Ohar menjual satu porsi kerak telor bebek seharga Rp 30.000, sementara untuk telur ayam Rp 25.000.

Harga jual tersebut sudah disesuaikan dengan mahalnya modal yang telah di keluarkan.

Sebab, hampir semua bahan-bahan yang diperlukan untuk berjualan kerak telur mengalami kenaikan yang signifikan saat ini.

"Sekarang modalnya mahal kan, arang Rp 150.000 untuk dua hari, bawang sudah jadi itu Rp 250.000 itu sekilo, kalau kelapa Rp 13.000 satu gelondong," ungkap Ohar.

Belum lagi, harga beras ketan yang tadinya hanya Rp 15.000 per liter, kini naik menjadi Rp 20.000 per liter.

Dalam satu hari, ia selalu membawa dua liter beras ketan untuk 60 porsi kerak telur.

Namun, dua liter beras ketan yang dibawa Ohar jarang sekali habis dalam satu hari dan terpaksa harus ia bawa pulang lagi ke rumah untuk dicuci agar bisa digunakan kembali di esok harinya.

Sudah 17 tahun berdagang kerak telor, Ohar merasa peminat makanan legendaris ini semakin menurun setiap tahunnya.

Dulu, lansia tersebut bisa melayani 60 - 70 porsi kerak telur per harinya dengan harga masih Rp 7.000 per porsi.

Bisa melayani puluhan porsi setiap harinya membuat Ohar menggantungkan hidup di dagangan kerak telurnya selama belasan tahun.

Namun kondisi saat ini jauh berbeda, Ohar sudah jarang sekali melayani puluhan porsi kerak telur setiap harinya.

Berjualan dari pukul 10.00 WIB hingga 24.00 WIB, kerak telur Ohar paling banyak hanya laku delapan porsi.

Itu pun tak setiap hari.

Apabila dirata-ratakan, keuntungan yang didapatkan pria paruh baya tersebut kurang dari Rp 50.000 per hari, meski sudah berdagang lebih dari 12 jam.

"Rata-rata paling pendapatannya Rp 300.000 itu kotor ama modal, paling sisa buat makan sekitar Rp 40.000," ungkap Ohar.

Untung Rp 40 Ribu Sehari

Ia mengaku, bertahan hidup di kota Jakarta dengan pendapatan rata-rata Rp 40.000 per harinya cukup sulit.

Sebab, Ohar harus pandai mengatur uang tersebut untuk makan dan membayar kontrakan.

Ohar mengontrak rumah sederhana berukuran 3 x 3 meter dengan harga Rp 400.000 per bulannya.

Setiap menjelang akhir bulan, ia selalu khawatir jika tabungannya tak cukup untuk membayar kontrakan.

Oleh karena itu, Ohar selalu berusaha mengirit biaya makannya sehari-hari.

"Paling mahal itu beli beras buat kebutuhan pokok. Saya kadang makan nasi aja sama bakwan atau gorengan, sehari dua kali. Kadang kalau bosen, sama bandeng presto atau ayam," tutur dia.

Baca juga: Nenek Urip Penjual Pisang Heran Perhiasan Raib saat Jualan, Saat Sadar Kaget Tiba-tiba di SPBU

Selain itu, Ohar juga seringkali memanfaatkan nasi gratis dari orang-orang yang beramal di hari Jumat berkah.

Selain mengirit pengeluaran makan, cara Ohar bertahan hidup di Jakarta dengan pendapatan minim adalah dengan tidak merokok.

"Emang mahal biaya hidup di Jakarta, tapi saya kan enggak merokok. Jadi tips irit hidup ya itu," ungkap dia.

Sebab, jika merokok, setidaknya Ohar harus mengeluarkan uang sekitar Rp 25.000 per harinya.

Namun, karena pendapatannya pas-pasan, ia pun memutuskan untuk berhenti merokok sejak beberapa tahun lalu.

Ia sadar, jika masih merokok, biaya kontrakan dan makannya sehari-hari tak bisa terpenuhi.

Di sisi lain Ohar tak bisa mencari pekerjaan lain yang gajinya lebih besar, karena sudah lanjut usia.

Oleh sebab itu, Ohar memilih untuk bertahan berdagang kerak telur, karena satu-satunya mata pencaharian andalan untuk membantunya bertahan hidup di Kota Jakarta.

Baca juga: Tiap Hari Suryaningsih Jalan Kaki Keliling Jualan Kopi, Dapat Rp 100 Ribu Sehari Jika Ramai Pembeli

Ohar juga mengirit pengeluaran dengan berjalan kaki sambil memikul gerobak kerak telornya sejauh dua kilometer dari kontrakan dekat Stasiun Rajawali, Kemayoran, Jakarta Pusat, menuju ke lapak berdagangnya di JIExpo.

"Kalau dagangan lagi laku dan saya capek, naik bajaj. Tapi kalau lagi sepi mending jalan kaki, meski capek juga sayang duitnya. Mending buat beli makan," kata dia.

Ohar merasa, di usia yang tak lagi muda, langkah kaki dan tenaganya sudah tidak sekuat dulu ketika memikul gerobak kerak telur.

Ketika di perjalanan menuju lapak berdagang, ia harus berhenti beberapa kali di pinggir jalan untuk beristirahat sebentar dan mengatur pernapasan.

Meski terasa berat, Ohar menganggap hal tersebut menjadi sesuatu yang menyehatkan karena ia bisa sambil berolahraga.

Berita Lain

Kejadian memilukan dialami seorang kakek bernama Abah Didin yakni ia menjadi korban penipuan.

Saat tengah berjualan Cilung, Abah Didin lesu karena tak sadar sedang ditipu pelanggannya.

Modus penipuan penipu tersebut adalah pura-pura beli dagangan Cilung seharga Rp5 ribu.

Dalam transasksinya dengan Abah Didin, pembeli misterius itu menyerahkan uang Rp50 ribu.

Ia lalu meminta kembalian Rp45 ribu kepada Abah Didin.

Tanpa pikir panjang, Abah Didin pun memberikan kembalian tersebut kepada sang pembeli.

Setelahnya, pembeli tersebut kabur.

Usai kejadian itu, Abah Didin terus mendorong gerobaknya sejauh belasan kilometer untuk lanjut berjualan.

Dari hasil berjualan seharian itu, Abah Didin membawa uang Rp50 ribu dan Rp15 ribu.

Selanjutnya, Abah Didin pun pulang ke rumahnya di kawasan Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Di waktu subuh, Abah Didin belanja ke warung untuk membeli bahan-bahan adonan Cilung.

Abah Didin pergi untuk membeli tepung aci, telur dan bahan-bahan lainnya.

Saat hendak membayar belanjaan dengan uang Rp50 ribu, Abah Didin tersentak.

Sang pemilik warung menyebut uang yang diserahkan Abah Didin adalah uang palsu.

 Hal itu langsung membuat Abah Didik syok dan bergegas mencari warung lainnya.

Ternyata warung lainnya juga berujar hal yang sama, uang yang dibawa Abah Didin adalah uang palsu.

"Assalamualaikum pak egi, ini uang palsu yang abdi terima dari yang nipu abah," kata seorang wanita disinyalir pemilik warung.

Baca juga: Sosok Kakak Beradik Yatim Piatu yang Pilu Diusir Pemilik Tanah, Bantu Sang Nenek Jualan Es Mambo

Tahu fakta dirinya ditipu, Abah Didin pun lemas sejadi-jadinya.

Untuk diketahui, Abah Didin hanya punya keuntungan berjualan Cilung Rp15 ribu sehari.

Dan untuk modal jualan Cilung, Abah Didin perlu uang Rp35 ribu.

Sementara uangnya dari hasil berjualan kemarin sudah habis untuk kehidupan sehari-hari.

Akibat kejadian itu, Abah Didin terpaksa tidak berjualan selama tiga hari karena syok dan mendadak sakit.

Maklum saja, kondisi Abah Didin yang sudah renta membuat kesehatannya menurun.

Abah Didin hanya tinggal berdua saja dengan istrinya tanpa anak.

Sehari-hari Abah Didin berjalan belasan kilometer demi menjajakan Cilung ke penjuru Bandung Barat.

Kini, kisah Abah Didin yang ditipu penipu modus uang palsu pun telah viral dan disorot netizen media sosial.

Mengetahui kisah Abah Didin, publik pun ikut prihatin dan beramai-ramai ingin berdonasi untuk sang kakek.

Ada juga netizen yang geram dengan modus penipu misterius yang telah menipu Abah Didin.

Baca Lebih Lanjut
Umbar Cerita Sedih, Ini Modus Anak Kecil Jualan Es Krim Rp 392 Ribu
Detik
Pasca Nataru, Harga Cabai di Pasar Imbayud Taka Tana Tidung Kaltara Masih Pedas
Daftar Harga Sembako 8 Januari 2026 di Pasar Pulau Mas Empat Lawang, Daging Ayam Rp 40 ribu/Kg
Harga Kebutuhan Pokok di Pasar Pekanbaru Awal Tahun Masih Relatif Normal
Berkah Patung Macan Putih Kediri: Pedagang Kaus Kewalahan Layani Pembeli
Harga Cabai Rawit di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Tembus Rp 80 Ribu per Kg
Harga Bahan Pokok di Medan Naik di Awal Tahun, Cabai Merah Tembus Rp 40 Ribu per Kilogram
Awal Tahun 2026, Harga Ikan di Pasar Bula Mahal, 4 Ekor Rp. 50 Ribu
Harga Bawang Merah di Pasar Binaiya Masohi Naik 36 Persen, Tembus Rp. 70 Ribu per Kilo
3 Nasi Gudeg Rp 85 Ribu di Jogja Dikeluhkan Mahal, Ini Kata Pengelola
Detik