TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Buleleng kembali beroperasi pada Jumat (9/1/2026), setelah libur selama sepekan. Pada hari pertama ini, para siswa mendapat sajian menu lokal.
Kembalinya MBG mendapat reaksi dari para siswa. Misalnya di SMP Negeri 6 Singaraja, para siswa menerima menu lokal atau khas Bali berupa ayam betutu. Selain ayam betutu, di dalam ompreng juga terdapat nasi putih, tumis kangkung, tempe mendoan, dan jeruk.
Kepala SPPG Buleleng, Buleleng-Kaliuntu 2, Ketut Ngurah Arya Krisna mengungkapkan, sajian menu lokal ini sesuai arahan dari Badan Gizi Nasional (BGN) pusat. Adapun pemilihan ayam betutu kali ini sudah melalui berbagai pertimbangan.
Baca juga: Aneh! Diam Saja Saat Anak Dianiaya Pacar, KPAD Bali Minta Polisi Periksa Ayah Kandung Korban
Krisna menjelaskan, setiap menu yang disajikan harus memiliki serapan maksimal dari anak-anak penerima manfaat. Sehingga ketika ompreng kembali ke SPPG tidak ada makanan tersisa.
Walaupun ayam merupakan salah satu menu yang disukai, Krisna tak memungkiri ada beberapa anak yang alergi ayam. Oleh sebab itu pihaknya berinovasi mengganti daging ayam dengan protein lainnya. Seperti tempe, tahu, maupun telur tanpa mengubah menu tersebut.
Baca juga: PLN Bali Catat Sepanjang 2025 Transaksi SPKLU Meningkat 751 Persen
"Contoh yang alergi ayam, kami ubah dengan tahu dan tempe, tetapi bumbunya tetap betutu. Kami juga ada sumber protein lain berupa telur yang kami olah menjadi telur betutu. Ini menjadi trobosan kami agar tetap ada daya tarik, sehingga menu yang disajikan terserap maksimal," jelasnya.
Menu lokal dalam MBG disajikan sekali dalam sepekan dan selalu berganti tiap pekannya. Pihak SPPG selalu bersinergi dengan ahli gizi untuk merumuskan jumlah gizi anak-anak tanpa mengindahkan kesukaan mereka.
SPPG Buleleng, Buleleng Kaliuntu 2 dikelola Yayasan Kemala Bhayangkari Polres Buleleng. Pelayanannya meliputi tiga sekolah, yakni TK Kemala Bhayangkari, SMP Negeri 6 Singaraja, dan SMA Negeri 1 Singaraja dengan total 2.303 penerima manfaat. "Untuk di SMPN 6 Singaraja kami melayani 1.100 penerima manfaat yang dibagi menjadi dua shift," ucap Krisna.
Karena melayani sekolah dua shift, maka juru masak di SPPG pun ada dua orang. Keduanya bekerja secara bergantian, sebab jam memasak dan penyajian masakan berbeda.
Jam masak gelombang pertama sudah mulai persiapan pukul 02.00 wita, yang selesai pukul 08.00 wita. Dalam proses tersebut dilakukan cek laboratorium untuk mengetahui kadar nitrit, sianida hingga formalin oleh Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokes) Polres Buleleng.
Selain itu juga dilakukan uji organoleptik, yakni penilaian mutu produk melalui panca indra manusia, untuk memastikan apakah makanan layak dikonsumsi.
Seluruh pengecekan dilakukan sekitar pukul 04.30 wita sebelum proses pengemasan. Setelah dinyatakan layak, baru dikemas. Jarak pengemasan juga sudah diatur tidak lebih dari dua jam. Mulai dari jam 05.00 wita sampai jam 07.00 wita atau 07.30 wita seluruhnya sudah disiapkan untuk kemudian jam 08.00 didistribusikan.
"Yang pertama kami distribusikan itu ke TK Kemala Bhayangkari jam 08.00 pagi. Kemudian jam 09.00 di SMPN 6 Singaraja, jam 9.30 di SMAN 1 Singaraja, dan gelombang ke dua jam 14.00 itu di SMPN 6 Singaraja," katanya.
Sementara pendistribusian untuk kelompok rentan yakni Balita, Busui (ibu menyusui) dan bumil (ibu hamil) alias 3B, Krisna mengaku masih dalam tahap pemutakhiran data di Dinas Kesehatan Buleleng. Sebab wilayah Kelurahan Kaliuntu memiliki dua SPPG.
"Jadi untuk 3B, SPPG Buleleng, Buleleng-Kaliuntu 1 itu melayani di wilayah kelurahan Kaliuntu. Sedangkan kami pindah ke desa lain, yang kami mutakhirkan hari ini di Dinkes. Kami kejar di Januari ini akan kami realisasikan untuk penerima manfaat masyarakat rentan. Mulai dari ibu hamil, ibu menyusui dan balita," tandasnya.
Keterlibatan Empat Nakes
Sementara itu Kabag Ren Polres Buleleng, AKP Komang Sudarsana mengungkapkan, pihaknya sudah meminta kepada kepala SPPG agar pelaksanaan MBG sesuai juknis yang ada. Misalnya terkait anggaran yang terima dari BGN, agar dikelola dengan baik.
Pihaknya juga membenarkan ihwal keterlibatan Biddokkes Polres Buleleng untuk test kit kelayakan makanan sebelum didistribusikan. Setiap harinya ada empat dokter yang standby. "Seandainya tidak sesuai, jangan sampai makanan itu disuguhkan pada anak-anak," ucapnya. (mer)