TRIBUNNEWS.COM - Maggot bisa menjadi solusi untuk mengelola limbah organik, dan bahkan bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah.
Maggot adalah larva dari lalat Black Soldier Fly (BSF) yang berwarna putih keabu-abuan, yang bisa dimanfaatkan sebagai pengurai sampah organik.
Seorang peternak maggot, Sri Prihatin, berikan tips saat beternak maggot.
Yang pertama yakni pakan bernutrisi tinggi.
Wanita warga Dusun Jatisari, Desa Sobokerto, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, tersebut mengatakan, dari satu gram telur, bisa menghasilkan dua hingga tiga kilo maggot besar.
Namun, ujar Prihatin, sejak larva hingga jadi pupa, maggot harus diberi makanan yang bernutrisi.
Ia mencontohkan, kepala ikan hingga tulang-tulang ayam bisa membuat maggot cepat gemuk.
"Itu kalau banyak nutrisinya, misal dari kepala ikan, terus tulang-tulang ayam, cepat gemoy (gemuk)," ujar Prihatin saat ditemui Tribunnews.com, Sabtu (10/1/2026) pagi.
Prihatin menambahkan, apabila hanya diberikan makan dari sayur saja, hasilnya tidak maksimal.
Baca juga: Ekonomi Sirkular dari Desa: Maggot Urai Limbah Hewan dan Buka Peluang Usaha
"Itu cuman dikasih makan maggot-nya itu dikasih makan sayur, itu nggak maksimal," lanjut Prihatin.
Selain itu, ia juga menyampaikan bahwa supaya BSF bisa bertelur, harus dipancing dengan bau yang menyengat.
"Pancingannya itu bau yang menyengat. Misal tempe busuk, nanas, terus melon. Kan itu baunya menyengat. Mereka itu akan bertelur," ujarnya.
Bahkan, selama dua tahun ia dan kelompoknya beternak maggot, saat ini mereka setiap hari panen telur.
"Ini aja setiap hari kita panen telur. Dulu biasanya dua hari sekali itu paling kita dapat 20 gram, 15 gram gitu. Sekarang satu hari (konsisten) dapat 20 gram," ujarnya.
Maggot yang sudah siap panen bisa digunakan untuk pakan ternak.
Mulai untuk pakan lele, ayam kampung hingga ayam pedaging.
Bahkan, maggot bisa digunakan untuk mengurai kotoran ayam.
Tetangga Prihatin, Sri Handayani seorang pemilik peternakan ayam menggunakan maggot untuk mengurai kotoran ayam.
Sri membersihkan kotoran ayam di peternakannya dua hari sekali.
Kotoran tersebut ditempatkan di sebuah lokasi khusus yang nantinya akan diurai oleh maggot.
Kotoran murni tersebut dimasukkan ke digester dengan diameter 1,5 meter dan kedalaman 2 meter, lalu gasnya digunakan untuk kebutuhan domestik.
Digester sendiri merupakan wadah untuk proses menjadikan kotoran menjadi gas yang bisa dimanfaatkan
Meski begitu, volume tekanannya masih belum maksimal untuk kebutuhan berat, seperti untuk produksi Ecoprint yang membutuhkan perebusan berjam-jam.
"Kapasitas gas belum mencukupi untuk proses produksi Ecoprint yang membutuhkan perebusan kain selama 2 jam non-stop," ujarnya Sri Handayani.
Meski memiliki tempat untuk mengolah kotoran ayam, tempat tersebut masih belum bisa menampung volume kotoran.
Baca juga: Maggot, Biogas, PLTS, dan Asa dari Desa Energi Berdikari Sobokerto
Sri pun merasa khawatir karena kotoran bisa mengganggu warga.
"Sebenarnya nggak sering ada protes dari warga soal kotoran. Tapi saya nggak enak sama tetangga sekitar karena bau," lanjut Sri.
Memutar otak, akhirnya ia menemukan cara untuk mengurai kotoran ayam tersebut, ya, menggunakan maggot.
Namun, saat ini jumlah maggot masih belum sebanding dengan volume kotoran yang dihasilkan.
Hasilnya, bau kandang masih cukup menyengat.
"Kalau populasi maggotnya cukup, bau kandang bisa sangat berkurang," tandasnya.
(Tribunnews.com, Muhammad Renald Shiftanto)