TRIBUNBEKASI.COM, MADRID- Xabi Alonso purna tugas sebagai pelatih Real Madrid meski tak sampai setahun menjadi pelatih.
Didatangkan dengan ekspektasi tinggi dari Bayern Leverkusen, eks pematin timnas Spanyol itu berakhir dengan mengenaskan di Madrid.
Dia cuma diberi kepercayaan menjadi pelatih selama tujuh bulan. Sebelum dipecat, Alonso memilih untuk mengundurkan diri.
Belakangan memang dirinya sudah diincar akan dipecat bila tidak mampu membawa Madrid memenangi sejumlahlaga krusial khususnya melawan Barcelona.
Terlebih lagi, Madrid saat ini berada di bawah Barcelona di papan klasemen Liga Spanyol
Kekalahan atas Barcelona di final Piala Super Spanyol menjadi akhir dari karier kepelatihannya yang singkat di liga Spanyol.
Memang selama menukangi Real Madrid, Alonso belum mampu mempersembahkan satu pun gelar. Dua kesempatan awal yang didapatkan di Piala Dunia Klub 2025 dan Supercopa de Espana berakhir tanpa hasil.
Kegagalan di laga final melawan Barcelona menjadi pukulan telak yang mempercepat berakhirnya era Alonso di Santiago Bernabeu. Tekanan semakin besar karena publik Madrid menuntut hasil instan, terutama di level turnamen besar.
Alonso datang ke Madrid dengan reputasi besar setelah sukses di Jerman, namun situasi di ibu kota Spanyol jauh lebih kompleks.
Selain hasil pertandingan yang tak selalu mulus, ia juga disebut menghadapi dinamika ruang ganti yang tidak sederhana.
Beberapa hasil imbang dan performa yang dianggap belum stabil membuat kepercayaan manajemen perlahan menipis, meski secara klasemen Real Madrid masih berada dalam persaingan.
Alonso memilih mengambil jalan sendiri. Dia mengajukan pengunduran diri sebelum klub secara resmi menjatuhkan keputusan pemecatan dikutip dari BolaSport
Menjadi pelatih super yang dielu-elukan di Jerman, Alonso harus bernasib buruk setelah memilih menjadi pelatih klub yang paling doyan mengganti pelatih, Real Madrid.