TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN - Panen durian di Kabupaten Semarang pada musim ini diperkirakan mengalami penurunan.
Kondisi cuaca yang didominasi hujan dan angin kencang sepanjang 2025 disebut menjadi faktor utama yang memengaruhi kegagalan bunga durian menjadi buah.
Kepala Bidang Pertanian Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan (Dispertanikap), Ambar Suryaningsih mengatakan, secara umum Kabupaten Semarang merupakan wilayah yang sangat potensial untuk pengembangan durian, khususnya durian lokal unggulan.
"Kalau secara potensi, Kabupaten Semarang luar biasa untuk durian. Banyak durian lokal unggulan. Sentra durian juga tersebar di banyak kecamatan," papar Ambar, Selasa (13/1/2026).
Baca juga: Hujan Berdurasi Panjang Jadi Penyebab Banjir di Kawasan Muria Raya
Dia menyebut, sentra durian tersebar di sejumlah wilayah antara lain Banyubiru, Ungaran Barat, Kaliwungu, Tuntang, dan Jambu. Kecamatan Jambu pun cukup dikenal sebagai pusat durian lokal asal Brongkol.
Meski demikian, ia mengakui tahun ini terdapat indikasi penurunan produksi.
"Biasanya kalau hujan dan angin terlalu sering, itu banyak bunga yang tidak jadi buah. Kemarin kan memang hujan dan anginnya cukup tinggi, jadi cukup berpengaruh," jelasnya.
Ambar menyebut, dinas sudah menerima laporan adanya penurunan hasil panen di sejumlah wilayah. Namun, hingga saat ini belum dapat memastikan besaran penurunan produksi secara persentase.
"Untuk angka pastinya belum bisa kami sampaikan, karena saat ini belum memasuki puncak panen. Masih ada yang berbunga, ada yang buahnya kecil, ada juga yang sudah mulai matang. Jadi belum bisa diprediksi secara pasti," tuturnya.
Dari sisi dukungan, Dispertanikap Kabupaten Semarang terus berupaya mendampingi petani durian melalui berbagai program meski belum ada program khusus yang bersifat rutin setiap tahun.
"Memang tidak bisa setiap tahun karena keterbatasan anggaran. Tapi, kami tetap memberikan dukungan, seperti penyediaan obat-obatan pertanian dan pelatihan," sebutnya.
Selain itu, Pemkab Semarang juga mendorong pengembangan varietas durian lokal melalui perizinan dan legalisasi benih unggulan. Dia berharap, durian lokal Kabupaten Semarang bisa terus berkembang dan memiliki daya saing, meskipun di tengah tantangan cuaca.
PANEN DURIAN
Menyusuri jalan Dusun Tabag Gunung RT 05 RW 04, Desa Brongkol, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, kanan dan kiri jalan dipagari pepohonan durian tua yang menjulang tinggi, batang besar, seakan menjadi saksi usia pohon sudah ratusan tahun.
"Kalau masyarakat seputaran Tabag Gunung, Brongkol, itu hampir rata-rata punya pohon durian," ungkap Suryanto, petani durian asal Brongkol.
Namun, belum ada hiruk-pikuk khas musim panen. Jalan desa lengang, hanya sesekali dilintasi pengendara.
Suryanto duduk di depan rumahnya memandangi durian-durian yang masih bertahan di pohon. Ia mengaku, musim panen tahun ini jauh dari harapan.
Dari sisi hasil buah, terjadi penurunan cukup signifikan dibandingkan musim normal.
Dia mengatakan, tidak semua pohon durian berbuah pada musim ini. Dari seluruh pohon yang dimiliki warga, hanya sebagian yang berbuah.
"Kalau diperkirakan, dari potensi 10 (bunga durian), yang benar-benar jadi buah hanya sekitar 2. Ya begitulah, yang dapat rezeki ya dapat, yang tidak ya belum,” ujarnya.
Dalam kondisi normal, satu pohon durian di Brongkol bisa menghasilkan antara 200 hingga 500 buah, tergantung besar dan kecilnya pohon.
Namun tahun ini, hasilnya jauh berkurang.
"Biasanya, normalnya satu pohon ada yang 200, 300, ada yang nyampai 400, 500. Sekarang satu pohon paling cuma 50 sampai 150 buah. Ada juga yang cuma 25. Itu pun nggak semua pohon berbuah," jelasnya.
Padahal, biasanya pada bulan-bulan seperti ini, para petani sudah memasuki masa panen. Namun karena faktor cuaca, panen pun mundur.
"Seharusnya Desember itu sudah panen, Januari sudah habis. Ini justru Januari baru mulai, itu pun belum bisa jual sama sekali," kata Suryanto.
Dari sejumlah pohon durian yang tumbuh di bagian depan dan belakang rumah, Suryanto mengaku belum satu pun memasuki panen penuh.
Saat Tribun Jateng menyambangi kediamannya, ia menyebut pemetikan durian kali ini baru pertama kalinya pada musim ini. Itu pun dilakukan karena beberapa buah sudah mulai merekah, sehingga harus segera diambil dari pohonnya.
Anak Suryanto tampak menaiki pohon durian yang tingginya mencapai sekitar 50 meter dengan diameter empat meter.
Dengan membawa tali rafia, ia memanjat pohon menggunakan pijakan bambu yang telah melekat di batang pohon.
Buah durian yang hampir matang diikat menggunakan tali agar tidak jatuh ke tanah.
Sementara, buah yang sudah merekah dipetik dari pohonnya, kemudian diturunkan perlahan menggunakan tali yang telah disiapkan.
Cara ini dilakukan untuk menjaga kualitas buah sekaligus menghindari kerusakan akibat jatuh dari ketinggian.
Sebanyak empat buah diturunkan pohonnya.
"Ini pertama kali petik, itu saja karena sudah merekah. Tahun ini, panennya mundur. Biasanya Desember sudah pada matang. Januari itu sudah habis. Ini justru baru ini mulai panen," ungkap Suryanto.
Menurutnya, mundurnya masa panen ini lantaran pengaruh iklim dimana sepanjang 2025 mengalami kemarau basah dengan intensitas hujan cukup tinggi.
Selain berpengaruh terhadap menurunnya hasil buah, juga berdampak pada mundurnya masa panen. Padahal, durian Brongkol menjadi durian yang cukup dinantikan para pecinta buah berduri itu.
"Biasanya kalau bulan-bulan gini sudah ramai. Pelanggan dari Pati, Semarang, Jepara pada naik sini. Yang dari Bogor itu juga ke sini, dari Jakarta juga. Sudah pelanggan dari dulu. Kalau waktunya mau makan durian itu sudah pada telepon. Ini saya bilang belum panen, dari pada nanti kesini duriannya belum matang," tuturnya.
Suryanto mengungkapkan, durian asal Brongkol memang dikenal memiliki harga yang relatif lebih mahal dibandingkan durian dari wilayah lain. Namun, menurutnya, harga tersebut sebanding dengan kualitas rasa yang ditawarkan. Salah satunya adalah durian lokal jenis Ranti.
Meski ukuran buahnya terbilang mungil, durian Ranti memiliki daging yang tebal.
Baca juga: Cerita Petani Durian Brongkol Semarang: Tahun Ini Waktu Panen Mundur, Hasil Menurun
Cita rasanya khas, perpaduan manis dan pahit yang menyatu dan meninggalkan sensasi kuat di lidah. Karakter rasa inilah yang membuat durian Brongkol memiliki penggemar tersendiri dan tetap diburu pelanggan.
"Durian Ranti ini memang kecil-kecil, tapi rasanya luar biasa. Durian lokal disini harga ada yang mulai dari Rp 30 ribuan. Tapi, rata-rata Rp 100 ribuan. Yang agak besar sedikit Rp 150 ribu," sebutnya.
Dia pun tak sabar menanti masa puncak panen raya durian. Sektor ini menjadi salah satu andalan sebagai penggerak perekonomian setempat. Meski panen tahun ini tidak melimpah, setidaknya hasilnya masih mampu menambah penghasilan para petani. (eyf)