Tribunlampung.co.id, Pesawaran - Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan pemerataan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh wilayah Kabupaten Pesawaran guna mendukung pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tepat sasaran.
Korwil BGN Kabupaten Pesawaran Hendra Wijaksono mengatakan, hingga saat ini sebanyak 38 SPPG di Pesawaran telah resmi mengantongi Surat Keputusan (SK).
Selain itu, 28 SPPG lainnya masih dalam tahap persiapan untuk segera beroperasi.
“Di Kabupaten Pesawaran terdapat 11 kecamatan, dan hampir seluruh kecamatan sudah memiliki SPPG. Tidak ada kecamatan yang terlewati,” ujar Hendra kepada Tribun Lampung, Rabu (14/1/2026).
Ia menjelaskan, keberadaan SPPG yang merata tersebut diharapkan mampu memenuhi kebutuhan pemenuhan gizi bagi seluruh penerima manfaat program MBG di Kabupaten Pesawaran.
Menurut Hendra, BGN juga telah menerbitkan surat edaran yang menjadi acuan dalam mengakomodasi masyarakat yang berada pada desil satu dan desil dua, yakni kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan terendah.
“Kami mengutamakan masyarakat yang kurang mampu. Program ini memang difokuskan untuk memastikan pemenuhan gizi bagi penerima manfaat yang paling membutuhkan,” tegasnya.
Salah satu SPPG yang telah beroperasi dan menerapkan standar pengelolaan dapur MBG adalah SPPG Way Layap, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran.
Dia menyebut, dukungan sarana, pengawasan ketat, serta pemerataan SPPG di seluruh kecamatan, program Makan Bergizi Gratis di Kabupaten Pesawaran diharapkan mampu berjalan optimal dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya kelompok kurang mampu.
Sementara itu, Kepala SPPG Way Layap di Kecamatan Gedong Tataan, Arief Rizki Ramadhan menjelaskan bahwa sistem kerja dan tata ruang di SPPG telah dirancang untuk menjamin keamanan, kebersihan, dan kualitas makanan.
Di area paling depan, terdapat ruang ganti pegawai yang dilengkapi loker terpisah untuk pria dan wanita.
Ruang ini juga difungsikan sebagai area persiapan awal sebelum aktivitas memasak dimulai.
Seluruh aktivitas di area depan dipantau melalui kamera pengawas (CCTV) yang terkoneksi langsung dengan CCTV BGN pusat.
“Pengawasan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari persiapan hingga proses pengolahan. Ini menjadi bagian dari standar operasional kami,” kata Arief.
Di bagian depan juga tersedia ruang basah dan ruang kering sebagai tempat penyimpanan bahan makanan.
Ruang basah digunakan untuk menyimpan bahan pangan segar, sedangkan ruang kering difungsikan untuk stok bahan makanan kering.
Kedua ruang tersebut telah dilengkapi dengan pengatur suhu untuk menjaga kualitas dan keamanan bahan pangan.
Memasuki area dapur utama, proses pengolahan makanan MBG dilakukan secara terstruktur.
Salah satu peralatan utama yang digunakan adalah steamer berkapasitas besar untuk memasak nasi, guna memastikan kematangan merata dan higienis dalam jumlah besar.
Arief menjelaskan, dapur MBG di SPPG Way Layap dibagi ke dalam beberapa fungsi, mulai dari area persiapan bahan, area pengolahan panas, hingga area finishing dan pengemasan.
Alur kerja dibuat satu arah untuk mencegah terjadinya kontaminasi silang.
“Bahan makanan masuk dari penyimpanan, diproses, dimasak, lalu langsung ke tahap pengemasan. Tidak ada alur yang berputar balik,” pungkasnya.
( Tribunlampung.co.id / Oky Indrajaya )