TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Tribuners punya pengalaman mengucapkan kulonuwun tiap bertamu ke rumah orang?

Kata kulonuwun ini jamak diucapkan warga Solo Raya, Jawa Tengah.

Biasa diucapkan sebelum pintu diketuk.

Dilansir TribunSolo.com dari berbagai sumber, sapaan sederhana ini bukan sekadar basa-basi, melainkan bagian penting dari etika dan filosofi hidup masyarakat Jawa yang menjunjung tinggi sopan santun dan keharmonisan.

Baca juga: Alasan Kenapa Banyak Kuliner Tradisional Enak di Solo, Ada Pengaruh Keraton & Penjajahan Belanda

Arti Kulonuwun

Secara harfiah, kulonuwun berarti permisi.

Frasa ini berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa, yakni kulo yang berarti saya dan nuwun yang berarti meminta.

Ketika digabungkan, kulonuwun menjadi ungkapan permohonan izin yang sarat makna penghormatan.

Dalam bahasa Indonesia, maknanya bukan hanya “permisi”, tetapi juga “saya mohon izin dengan penuh hormat”.

Abdi dalem mengetuk pintu Kori Kamandungan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Sabtu (13/2/2021).
MAKNA PERMISI - Abdi dalem mengetuk pintu Kori Kamandungan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Sabtu (13/2/2021). Orang Jawa terutama Solo sering ucapkan kulonuwun saat bertamu, ini maknanya. (TribunSolo.com)

Lebih dari Sekadar Sapaan

Dalam tradisi Jawa, khususnya di Solo, mengucapkan kulonuwun saat bertamu adalah bentuk kesadaran etis.

Ucapan ini menyiratkan pesan: jangan sampai kehadiran saya mengganggu keharmonisan yang sudah ada

Dengan kata lain, tamu menempatkan dirinya sebagai pihak yang datang belakangan dan menghormati ruang, waktu, serta keberadaan tuan rumah.

Baca juga: Penjelasan Kenapa Kartasura Masuk Wilayah Sukoharjo, Padahal Lebih Dekat dengan Solo

Dilihat dari kacamata etika Jawa, kulonuwun bukanlah ucapan basa-basi.

Ini bisa jadi pernyataan orang Jawa untuk menjaga harmoni, baik secara lahiriah maupun batiniah.

Harmoni inilah nilai utama dalam budaya Jawa, di mana hubungan antarindividu, lingkungan, dan perasaan satu sama lain harus tetap selaras.

Cara dan Waktu Mengucapkan Kulonuwun

Biasanya, kulonuwun diucapkan di depan pintu rumah sambil mengetuk pintu dan menunggu tuan rumah keluar.

Kata ini menggunakan bahasa krama inggil atau bahasa Jawa halus, yang menandakan rasa hormat kepada orang yang dituju.

Dalam konteks sosial, penggunaan bahasa halus ini menjadi simbol kerendahan hati dan tata krama.

Di Solo, kebiasaan ini sudah mengakar kuat sejak lama dan menjadi bagian dari identitas budaya masyarakatnya.

Namun, seiring perubahan zaman, penggunaan kulonuwun mulai jarang terdengar, terutama di kalangan generasi muda.

Nasibnya serupa dengan kata “sampurasun” dalam budaya Sunda yang perlahan tergerus modernisasi.

(*)

Baca Lebih Lanjut
Kenapa Pisang Identik dengan Hantaran dan Dekor Pernikahan Adat Solo? Ini Penjelasannya
Kenapa Orang yang Tidur Mendengkur Tidak Terganggu Suara Dengkurannya?
KumparanSAINS
Arti 67 Dalam Bahasa Gaul: asal-usul, makna, dan cara pakai yang lagi viral
Pasien Bandung Meningggal, Kenapa 'Super Flu' Fatal pada Orang dengan Komorbid?
Detik
Pasien Bandung Meninggal, Kenapa 'Super Flu' Fatal pada Orang dengan Komorbid?
Detik
Alasan Pisang Raja Sering Dijadikan Hantaran dan Dekor Pernikahan di Solo, Simbol Kemuliaan
Sejarah Jenang Grendul, Kuliner Legendaris di Solo, Dipercaya Sudah Ada Sejak Kerajaan Hindu-Budha
Apa Itu Awkward dalam Bahasa Gaul? Arti, Makna, dan Contohnya di Media Sosial 
Sejarah Capcay Jadi Favorit Kuliner di Solo, Padahal di China Identik Menu Rakyat Jelata
Bolehkah Orang Tua Mengarahkan Minat Anak? Ini Kata Psikolog