TRIBUNTRENDS.COM - Kabut duka yang menyelimuti lereng Gunung Slamet belum sepenuhnya sirna. Kepergian Syafiq Ridhan Ali Razan, pendaki muda asal Magelang, masih menyisakan tanda tanya yang menggantung bukan hanya soal bagaimana ia menghembuskan napas terakhirnya, tetapi juga tentang rangkaian cerita yang terus berubah dari mereka yang terakhir bersamanya.
Sorotan kini mengarah pada Himawan, rekan pendakian yang keterangannya dinilai tak konsisten.
Di tengah derasnya spekulasi publik, Relawan Lahar Bara akhirnya buka suara, membeberkan keganjilan demi keganjilan yang mereka temukan sejak awal pencarian.
Baca juga: Langkah Gemetar Himawan Menuntun Tim Relawan Menuju Lokasi Jasad Syafiq Ali, Tembus Kabut Tebal
Relawan Lahar Bara mengungkapkan bahwa kebingungan besar bermula dari pernyataan saksi yang terus berubah arah secara harfiah.
“Nah yang bikin bingung, saksi itu keterangannya sering berubah gitu loh.
Contoh, di keterangan pertama saksi, ketika mereka turun dari puncak sekitar jam 13.30, mereka tersesat ke arah kanan jalur pendakian.
Kemudian di momen yang berbeda, ketika kembali ditanyakan, saksi mengatakan kami tersesat ke arah sebelah kiri jalur pendakian gitu.
Nah kayak gitu yang bikin bingung. Ini kanan apa kiri gitu, yang bikin bingung tuh di situ.”
Perbedaan arah ini bukan perkara sepele. Di jalur pendakian gunung dengan medan ekstrem, selisih kanan dan kiri bisa berarti ratusan meter bahkan kilometer cukup untuk mengubah seluruh peta pencarian.
Relawan menegaskan, sejak awal mereka memiliki keyakinan kuat bahwa Syafiq tidak mungkin menjelajah terlalu jauh dari jalur.
“Tapi dari awal kita udah meyakini bahwa korban, korban itu tidak mungkin memiliki ruang jelajah yang besar, yang jauh. Kenapa? Satu, korban itu memiliki minus lima, matanya minus lima.
Dan menurut saksi waktu itu dini hari. Waktu itu dini hari ya kejadian mereka terpisah itu. Tanpa membawa penerangan.”
Dalam kondisi gelap gulita, tanpa lampu, dengan gangguan penglihatan serius, kemungkinan Syafiq bisa berjalan jauh nyaris mustahil.
“Artinya orang yang tanpa membawa penerangan berada di tempat seperti itu dengan kondisi matanya minus lima, mustahil dia bisa jelajah.”
Analisis ini, kata relawan, bukan asumsi kosong.
“Nah itu jadi gak ada, gak berdiri sendiri gitu loh.
Analisa itu berdasarkan kesaksian, berdasarkan fakta, berdasarkan data kayak gitu. Jadi gak cuman berdasarkan sepertinya.”
Baca juga: Himawan Dituding Tak Berempati, Ayah Syafiq Ali Pilih Maafkan Sahabat Anaknya, Fokus Doakan Almarhum
Keanehan tak berhenti di situ. Soal senter menjadi bab lain yang menambah kusut cerita.
“Ada senter, nah ini dia yang bikin bingung tuh di situ. Di kesaksian itu mereka bawa senter tapi mati-mati. Terus kemudian senter itu ditinggal, hanya diambil P3K-nya.”
Namun fakta di lapangan justru berbicara lain.
“Tapi tadi di TKP ditemukan senter. Mereka kan bingung tuh itu. Gak taulah, biarkan Mas Himawan yang tahu. Apa itu tadi?”
Senter yang disebut ditinggal, ternyata ada di lokasi. Pertanyaan pun menggantung: senter siapa, dan mengapa ceritanya berubah?
Relawan juga menegaskan kondisi jasad Syafiq saat ditemukan.
“Tubuhnya utuh, tubuhnya utuh lah. Gak ada…”
Namun cerita lain kembali mencuat tentang adegan tukar sepatu yang justru diungkap sendiri oleh Himawan dalam wawancara.
“Adegan tukeran sepatu itu dituangkan dalam wawancaranya Mas Himawan. Dituangkan.”
Relawan menilai pernyataan itu janggal.
“Ya memang agak, agak ini ya, agak apa? Agak blunder ya, ya gak blunder. Agak blunder ya, ya gak blunder sih, agak lucu ketika gini.”
Meski demikian, mereka memilih tak terjebak dalam polemik.
“Tapi gak juga sih, udahlah, gak akan terjebak oleh pertanyaan kalian.”
Baca juga: Pengakuan Himawan saat Diinterograsi, Sempat Cekcok dengan Syafiq Sebelum Berpisah, Apa Pemicunya?
Dani Rusman ayah Syafiq Ali memilih berada langsung di jalur pendakian saat proses evakuasi berlangsung.
Ia menyaksikan sendiri bagaimana relawan dan tim SAR berjuang menurunkan jenazah putranya dari Gunung Slamet.
Selama 15 hari pencarian, keluarga tak pernah berhenti berikhtiar. Mereka menelusuri informasi di internet, mendatangi basecamp demi basecamp, dan terus memanjatkan doa tanpa jeda.
“Segala macam cara kami lakukan. Tapi mungkin Allah saat itu belum menunjukkan kekuasaan-Nya.
Alhamdulillah Allah menunjukkan jalan sehingga Syafiq bisa ketemu,” ucapnya.
Di balik duka mendalam, Dani menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada tim SAR gabungan, para relawan, serta warga Desa Clekatakan dan sekitarnya.
“Mereka luar biasa. Naik turun gunung siang malam, hujan badai, tanpa pandang bulu. Semua ikhlas membantu mencari anak kami,” katanya.
Bagi keluarga, ketulusan para relawan menjadi cahaya di tengah gelapnya kehilangan.
Keluarga memutuskan untuk tidak melakukan otopsi. Dani menegaskan, keluarga hanya ingin mengetahui perkiraan waktu wafat Syafiq.
“Kami hanya ingin tahu perkiraan waktu meninggalnya anak kami, supaya bisa menentukan hari tahlil. Itu saja,” jelasnya.
Lebih dari itu, keluarga memilih menutup pintu prasangka.
Nama Himawan, rekan pendakian Syafiq sejak SMP, sempat menjadi sorotan publik karena keterangannya dinilai janggal oleh sebagian relawan.
Namun Dani memilih sikap yang menenangkan.
“Saya sudah ikhlas. Saya tidak mengaitkan ini dengan siapa pun. Himawan sahabat Ali, saya anggap juga anak saya sendiri,” tegasnya.
Baginya, keikhlasan adalah jalan terbaik untuk merawat duka.
Kasus Syafiq Ali kini bukan hanya soal pendaki yang tak kembali dari gunung.
Ia telah berubah menjadi rangkaian tanda tanya tentang kesaksian, logika, dan fakta di lapangan.
Keterangan yang berubah-ubah, barang yang disebut hilang namun ditemukan, hingga analisis medis dan medan yang tak selaras dengan cerita semuanya membuat publik bertanya: apa yang sebenarnya terjadi di Gunung Slamet pada malam itu?
Sementara keluarga menunggu kejelasan dan publik menanti jawaban, satu hal pasti: kisah Syafiq belum selesai.
Kabut di Slamet mungkin telah menyingkap jasad, tetapi belum menyingkap seluruh kebenaran.
***
(TribunTrends/Jonisetiawan)