TRIBUNMATARAMAN.COM, MALANG - Tangis dan doa mengiringi kepergian asisten pelatih Arema FC Kuncoro, untuk selamanya.
Wafatnya Sam Kuncoro meninggalkan luka mendalam.
Tak hanya bagi keluarga dan klub, tetapi juga bagi pecinta sepak bola tanah air.
Kuncoro dianggap merupakan pribadi yang humoris dan ringan tangan oleh tetangganya.
Maka tak heran, jika cukup banyak orang yang melayat ke kediamannya yang terletak di Desa Putat Kidul, Kecamatan Gondanglegi Kabupaten Malang.
Mulai dari pemain, manajemen dan official tim Arema FC, Aremania, sahabat dekat Kuncoro, mantan pemain hingga para tetangganya.
Almarhum Kuncoro dimakamkan sekitar pukul 21.45 WIB di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Sasono Praloyo yang tak jauh dari rumahnya.
Tangis haru mewarnai keberangkatan Kuncoro menuju musala terdekat, sebelum dimakamkan.
Beberapa kerabatnya, tak kuasa menahan haru saat melepas Kuncoro ke pemakaman.
"Kuncoro ini orangnya baik. Terus ringan tangan kalau sama warga kampung," kata Sulihan, tetangganya.
Abah Kun, sapaan akrab Kuncoro sebelumnya berpamitan kepada keluarganya untuk bermain sepak bola di Stadion Gajayana Malang.
Baca juga: Jadwal Liga Champions 20–22 Januari 2026 Live SCTV: Real Madrid vs Monaco hingga Inter Lawan Arsenal
Ia mengikuti laga eksebisi 100 tahun menuju 100 tahun Stadion Gajayana yang digelar oleh Persema Reborn.
Laga yang dikemas trofeo itu, menghadirkan Persema Malang Legends, Persib Bandung Legends dan SDF Indonesia Legends.
Namun takdir berkata lain, Kuncoro tak sadarkan diri saat beristirahat usai bermain sepak bola di babak pertama pada sore itu.
Nyawa sang legenda itu tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia usai menjalani perawatan intensif di RSSA Malang.
"Tadi waktu berangkat itu seperti sehat-sehat saja tidak ada apa-apa. Tahu-tahunya waktu sore tadi katanya sudah meninggal dunia di Malang," ujarnya.
Di sisi lain, Kuncoro juga dikenal ringan tangan.
Ia kerap ikut membantu warga di desanya ketika ada kegiatan.
Kuncoro juga dikenal sebagai pribadi yang taat beribadah di musholla yang tak jauh dari rumahnya.
"Terakhir kali saya sempat ngobrol dengan almarhum saat ada tahlilan di daerah sini. Ya seperti biasa, kami mengobrol. Karena Abah Kun ini orangnya mudah bergaul," ungkapnya.
Kuncoro meninggal dunia di usia 52 tahun dan meninggalkan istri dan kedua anaknya.
Selama berkarir sebagai pemain sepak bola, Kuncoro sempat membela beberapa tim elit di era Galatama dan Perserikatan.
Seperti Arema, Mitra Surabaya, Persija Jakarta hingga PSM Makassar.
Kuncoro juga pernah membela Timnas Indonesia di periode 90 an.
(Rifky Edgar/TribunMataraman.com)
Editor : Sri Wahyunik