TRIBUNNEWS.COM - Rumah makan Bebek Ledok menjadi destinasi kuliner bagi warga Solo Raya.
Bukan terletak di tengah kota, Bebek Ledok berada di sebuah desa di Kabupaten Karanganyar.
Rumah makan dengan konsep Joglo ini berlokasi di Jl. Jatikuwung, Wonosari, Jatikuwung, Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah.
Setiap harinya, rumah makan ini ramai dikunjungi para pecinta olahan bebek.
Masakan di Bebek Ledok tak hanya diminati oleh kalangan tua dan muda, tetapi juga anak-anak.
Pengunjung hingga rela antre demi menikmati cita rasa bebek yang empuk dengan bumbu meresap sampai ke tulang.
Suasana asri rumah makan Bebek Ledok yang berada di tengah hamparan sawah semakin menambah kenikmatan momen makan bersama.
Asal usul nama Bebek Ledok sendiri berasal dari nama daerah rumah makan tersebut pertama kali buka.
"Nama kampung asal berdirinya warung," beber Andi, saat ditemui Tribunnews.com, Rabu (14/1/2026).
Bangunan Joglo Bebek Ledok saat ini bukanlah lokasi awal rumah makan ini buka.
Pertama buka, Bebek Ledok berada di rumah pribadi sang pemilik, Andi.
Baca juga: Risol Queen: UMKM Kreatif di Solo Sajikan Kuliner Unik dari Cinta Jadi Cita Rasa
Andi mengungkapkan, usaha rumah makannya berdiri di tahun 2022 di kediamannya yang berada tak jauh dari tempat yang baru, yakni di Ngledok Tegalan, Jatikuwung, Gondangrejo, Karanganyar.
“Bebek Ledok ini berdiri tahun 2022. Jadi udah sekitar mau berjalan empat tahun.”
“Dulu lokasinya enggak di sini, tapi di seberang sana (menunjuk desa sebelah), masuk gang, di tengah-tengah pemukiman,” ungkap Andi.
Alasan Bebek Ledok pindah lokasi lantaran di tempat yang lama sudah tak bisa menampung banyaknya jumlah pelanggan yang datang.
“Itu karena pelanggannya banyak, udah nggak muat kan, akhirnya pindah di tempat yang lebih luas di sini.”
“Ini baru satu bulan di sini,” ujar Andi.
Pria berusia 36 tahun itu mengatakan, modal awal mendirikan usaha Bebek Ledok adalah Rp10 juta.
Uang tersebut Andi dapatkan dari menjual sepeda motor yang laku Rp6 juta, ditambah dengan tabungan miliknya Rp4 juta.
“Saya modal awal jual motor Var*. Motor Var* yang lama. Itu laku Rp6 juta.”
“Laku Rp6 juta ada tabungan Rp4 juta, ya (total) Rp10 jutaan lah,” beber Andi.
Andi tidak memiliki latar belakang pekerjaan di bidang kuliner.
Ia awalnya bekerja sebagai tenaga profesional di bidang teknik.
Kemudian pada tahun 2014, Andi meninggalkan pekerjaannya di bidang teknik dan memulai menekuni dunia peternakan.
“(Bebek Ledok) tahun 2022, saya mulai karier bebek itu dari tahun 2014. Saya dulu profesional di bidang teknik kemudian resign.”
“Terjun ke dunia peternakan 2014, jadi dari peternak kemudian kami mulai merambah ke Pasar Silir, pasar ayam Silir, Solo itu,” ungkapnya.
Andi mulai mempelajari dunia peternakan dan mulai tertarik menjadi pedagang ternak hingga pemasok ke restauran.
Dari situ, Andi dapat menjalin relasi dengan para pemilik restauran.
Ide membuka rumah makan bebek dengan konsep berbeda pun tercetus oleh Andi.
“Saya pelajari bagaimana barang itu dari mana, alur dari peternak, dari bakul larinya ke mana, saya pelajari semua.”
“Setelah itu saya mulai jadi pedagangnya. Mulai dari pedagang, saya sampai supplier ke resto-resto.”
“Dari resto-resto itu kan kenal owner-owner-nya. Saya menemukan celah, warung makan itu ya gitu-gitu aja konsepnya.”
“Saya mau konsep yang beda dari yang lainnya,” jelasnya.
Andi bersama istrinya menciptakan rumah makan bebek goreng yang unik, dengan kayu bakar sebagai media memasaknya.
Setelah hampir tiga tahun membuka rumah makan di kediamannya, pada akhir tahun 2025, Andi memindahkan Bebek Ledok ke tempat yang baru, yang lebih luas.
“Kemudian, di tahun 2022 itu, saya muncul ide sama istri, gimana kalau kita bikin bebek goreng tapi konsepnya beda.”
“Saya maunya pakai kayu bakar. Kemudian buka di rumah dulu itu tahun 2022.”
“Kemudian pelanggan makin banyak, sampai di sini (tempat baru),” bebernya.
Selain kayu bakar, hal menarik lain dari Bebek Ledok adalah konsep dapur terbuka atau open kitchen, di mana pelanggan dapat langsung melihat proses pemasakan.
Semerbak bau ungkepan dan wangi bumbu pun tercium oleh pengunjung.
Andi mengklaim konsep kayu bakar hingga open kitchen miliknya adalah yang pertama di Indonesia.
“Karena kan konsepnya open kitchen. Dapurnya memang terbuka. Bisa dilihat, saya pakai kayu bakar. Itu pertama dulu di Indonesia."
"Mungkin saya pertama di Indonesia yang mengusung konsep, bebek goreng lho ya, pakai kayu bakar,” katanya.
Rumah makan menu bebek goreng dengan dapur terbuka yang unik dan suasana "rewangan" ala pedesaan sengaja dirancang agar tampil berbeda dari restoran bebek goreng pada umumnya.
Rewangan merupakan tradisi gotong royong masyarakat Jawa untuk membantu tetangga atau kerabat yang mengadakan hajatan besar.
“Memang sengaja. Memang saya pengin sesuatu yang unik.”
“Kalau bebek goreng biasa banyak di luar, yang lebih enak banyak, cuman kalau konsepnya bebek goreng dengan dapur terbuka, open kitchen, pakai kayu bakar, dengan vibes rewangan, itu the only one dulu di Bebek Ledok,” paparnya.
Tak seperti rumah makan bebek kebanyakan, Bebek Ledok mengusung konsep asri.
Rumah makan Bebek Ledok berdiri di tengah hamparan sawah Desa Jatikuwung.
Bangunan Joglo semakin menambah kesan tradisional dan nuansa pedesaan Jawa Tengah.
Baca juga: Dadih dan Dangke, Cita Rasa Lokal yang Lahir dari Alam Indonesia
Konsep yang diusung Andi terbukti menarik minat pengunjung dari berbagai daerah, salah satunya Hakim.
Pria asal Blora, Jawa Tengah itu mengaku sudah dua kali datang ke Bebek Ledok.
“Dua kali (datang). Yang sebelumnya, di tempat yang lama, yang masih di rumah.”
“Sekarang di tempat yang baru yang lebih luas, tapi vibes-nya tetap sama di sekitar persawahan,” ujar Hakim.
Hakim mengetahui rumah makan Bebek Ledok dari media sosial.
Pria berusia 28 tahun itu mengatakan, masakan di Bebek Ledok memiliki cita rasa yang enak.
“Pertama tahu dari Instagram, ternyata waktu disamperin itu benar murah dan enak,” ujarnya.
Menu favoritnya adalah bebek goreng, yang menjadi primadona di Bebek Ledok.
“Tetap bebeknya. Soalnya kan seperti namanya Bebek Ledok, jadi yang favorit ya bebeknya,” pungkasnya.
(Tribunnews.com/Yurika)