TRIBUNNEWS.COM - Di desa Jatikuwung, Gondangrejo, sebuah wilayah di Kabupaten Karanganyar terdapat rumah makan berkonsep tradisional bernama Bebek Ledok.
Berdiri sejak tahun 2022, Bebek Ledok sukses menjadi destinasi kuliner favorit para pecinta olahan bebek.
Rumah makan dengan andalan menu bebek goreng ini terletak di antara hamparan sawah di pedesaan.
Udara sejuk dan suasana asri pun sangat terasa.
Bangunan Joglo menambah kesan tradisional dari rumah makan ini.
Daya tarik Bebek Ledok tentunya juga tak lepas dari cita rasa otentik olahan mereka.
Untuk membuat cita rasa khas tersebut, Bebek Ledok menggunakan kayu bakar pada seluruh proses pemasakan.
Semerbak wangi bumbu dan aroma kayu bakar pun tercium oleh pelanggan yang datang.
Tak sembarangan, kayu bakar didatangkan langsung wilayah Wonogiri, Jawa Tengah.
Satu truk kayu dari Wonogiri digunakan untuk satu pekan.
“(Kayu) khusus. Untuk pemilihan kayu dari kayu Wonogiri-nan. Itu kayu cengkeh, kayu kopi.”
Baca juga: Modal Jual Motor, Andi Sukses Ciptakan Konsep Unik Rumah Makan Bebek Ledok dengan Vibes Rewangan
“Satu minggu itu satu truk lebih," beber Andi, pemilik Bebek Ledok kepada Tribunnews.com, Rabu (14/1/2026).
Adapun jenis kayu yang digunakan adalah kayu cengkeh, kayu kopi, kayu mahoni, hingga kayu mojo.
“Tapi kayunya harus yang keras. Kayu kopi, kayu cengkeh, kayu mahoni, kayu mojo, seperti itu,” ungkap Andi.
Andi pun menjelaskan perbedaan kayu yang dipilihnya dengan kayu yang lain.
Menurut pria berusia 36 tahun itu, kayu yang ia gunakan tidak mudah habis terbakar sehingga lebih tahan lama.
“Bedanya, kalau kayunya keras itu kan lama, jadi kalau empuk itu jadi api semua. Kayu lama itu kayak obat nyamuk itu lho.”
“Lebih awet. Awet lah intinya,” jelasnya.
Selain dari kayu, bebek tentunya menjadi bahan penting yang Andi jaga kualitasnya.
Andi mengatakan, bebek yang digunakan juga harus memenuhi kriteria khusus.
Bebek Ledok hanya menggunakan bebek Jawa yang jantan.
“Bebek spesial, khusus. Bebek Jawa, bebek yang di sawah-sawah itu, yang coklat itu.”
“Yang digembala itu yang betina, yang dipotong di sini yang jantan,” kata Andi.
Bebek-bebek tersebut Andi dapatkan dari wilayah Solo Raya.
“Dari Solo Raya aja, ada supplier-nya,” kata Andi.
Sebelum dimasak, bebek dibersihkan terlebih dahulu bulu-bulunya.
Pada proses pengungkepan, kata Andi, tidak ada estimasi waktu yang pasti untuk kematangan.
Pasalnya, tingkat kematangan bergantung pada besar api dari kayu bakar yang digunakan.
“Dari bebek mentah kemudian kita bersihkan bulu-bulu kecilnya pakai pinset itu.”
“Kemudian kita masak, kita ungkep pakai kayu bakar itu dengan bumbu rempah-rempahnya.”
“Kemudian ya udah sampai matang, kalau matangnya itu insting ya, nggak bisa kami bilang sekian jam, sekian menit, itu nggak bisa.”
“Karena kayu itu kadang kalau kayunya pas besar apinya itu lebih cepat, kalau pas apinya mati-mati, basah, ya lebih lama,” paparnya.
Adapun resep olahan bebeknya, Andi temukan sendiri setelah mengalami lima kali gagal.
“(Resep) saya sendiri yang buat.”
“Berkali-kali (coba resep). Lima kali lebih (gagal),” ucapnya.
Untuk mempertahakan kualitas dan rasa Bebek Ledok, Andi menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) kepada karyawannya.
“Kami banyak SOP-nya. Awalnya dari saya, saya tularkan ke tim masak, SOP-nya ini ini ini, sehingga rasa itu terus konsisten.”
“Misal mau jaga SOP, rasa terus konsisten,” kata Andi.
Rumah makan Bebek Ledok juga selalu dalam kontrol Andi.
Setiap hari, ia datang untuk mengecek produk dan kinerja karyawannya.
Pria asal Karanganyar, Jawa Tengah itu percaya bahwa kehadiran pemilik adalah hal yang sangat penting.
“Saya tiap hari ke sini. Dan saya memastikan SOP berjalan dengan baik.”
"Saya juga punya orang-orang kepercayaan yang menurut saya ditugasi untuk mengamati berjalan dengan baik nggak SOP itu."
“Karena bisnis kuliner itu saya berkeyakinan, apalagi bisnis kuliner, nggak ada yang auto pilot. Kehadiran owner itu penting,” ujar Andi.
Salah satu orang kepercayaan Andi untuk membantunya dalam mengurus rumah makan Bebek Ledok adalah Dwi.
Baca juga: Dari Tumpeng hingga Papeda, Inilah Kuliner Nusantara yang Lahir dari Alam Indonesia
Wanita berusia 43 tahun itu pun paham betul seluruh proses pemasakan di Bebek Ledok, termasuk soal penggunaan kayu bakar.
Dwi mengungkapkan, penggunaan kayu bakar pada proses pemasakan dapat mempengaruhi tingkat keempukan.
Menurutnya, bebek akan lebih empuk jika dimasak dengan kayu bakar, dari pada kompor.
"Kalau pakai kayu itu rasanya kan lebih empuk ya. Lebih merasuk juga. Beda sama yang kompor," ungkap Dwi.
Cita rasa keempukan Bebek Ledok terbukti membuat pelanggannya kembali lagi, salah satunya Inkafeni.
Inkafeni datang dari luar kota untuk menikmati olahan bebek goreng favoritnya.
Wanita asal Gemolong, Sragen, Jawa Tengah itu mengaku sudah tiga kali datang ke Bebek Ledok.
"Yang (tempat) baru ini baru sekali. Kalau yang (tempat) lama itu dua kali," ungkap Inkafeni.
Bumbu hingga kelembutan daging bebek yang membuat Inkafeni hingga tiga kali mendatangi rumah makan berkonsep Joglo itu.
"Bumbunya meresap. Dagingnya juga lumayan lembut. Porsinya juga banyak," pungkasnya.
(Tribunnews.com/Yurika)