Laporan Wartawan TribunLombok.com, Ahmad Wawan Sugandika
TRIBUNLOMBOK.COM, KOTA MATARAM - Cuaca buruk dengan angin kencang dan hujan deras di Kota Mataram tak melulu membawa musibah.
Bagi Desi (23), cuaca ekstrem ini membawa berkah dari menjamurnya 'jamur hutan.'
Seorang ibu rumah tangga asal Lembar ini menjajakan jamur hutan di tepi Jalan Lingkar Kota Mataram.
Jamur yang dijualnya bukanlah hasil budidaya, melainkan yang tumbuh liar dan berkembang sekali dalam setahun di hutan saat musim hujan.
Baca juga: VIRAL Warga di Lombok Bikin Surat Perjanjian Bermeterai Soal Batas Cari Tengkong atau Jamur
Desi menjual dua jenis jamur yang cukup populer di masyarakat Lombok, yaitu jamur bulan dan jamur ayam.
Jamur-jamur ini dikumpulkan oleh para pencari jamur termasuk suaminya.
"Setiap musim hujan. Dari hutan," ucap Desi menjelaskan soal jamur dagangannya, saat ditemui, Rabu (21/1/2026).
Ia menambahkan bahwa tidak semua orang bisa dengan mudah menemukan jamur ini karena keberadaannya bergantung pada keberuntungan.
“Enggak ada tips. Kita ada nyari aja rezeki mungkin ya... belum tentu dapat," tambahnya.
Dalam menjalankan usahanya, Desi bertindak sebagai pengepul sekaligus penjual.
Ia mengambil jamur dari para pencari dengan harga Rp15.000 per piring.
Kemudian dia menjualnya kembali dengan harga Rp20.000 hingga Rp25.000 per piring, tergantung besar kecilnya ukuran.
“Orang cari kita ambil yang satu piring ini 15 (ribu), kita jual 20 (ribu)," jelasnya.
Setiap harinya, Desi membawa sekitar dua baskom berisi ratusan jamur untuk dijajakan.
Berkat ketekunannya, ia mampu meraup omzet hingga Rp300.000 per hari.
Meski berasal dari Lembar Lombok Barat, Desi sengaja menempuh perjalanan jauh ke Kota Mataram untuk berjualan.
Alasan utamanya adalah tingkat persaingan yang lebih rendah dibandingkan di daerah asalnya.
"Kalau di Lembar kebanyakan orang jual di sana," ungkap Desi.
Di Mataram, ia berjualan bersama empat orang rekan lainnya yang juga berasal dari Lembar.
Lapak dagangannya mulai dibuka sekitar pukul 10.00 atau 11.00 WITA dan biasanya sudah mulai habis terjual saat waktu Asar tiba.
Jika ada jamur yang tidak laku terjual hingga sore hari, Desi memilih untuk membawanya pulang untuk dikonsumsi sendiri bersama keluarga.
(*)