Laporan Wartawan TribunSolo.com, Anang Ma'ruf
TRIBUNSOLO.COM, SRAGEN - Di balik hiruk pikuk Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, terselip kisah pilu seorang perantau yang berjuang sendirian demi keluarga tercinta.
Kisah ini viral di media sosial.
Ia adalah Endang Saputra (41), pria asal Banten yang merantau ke Sragen untuk menafkahi istri dan anaknya yang masih berusia enam bulan.
Sudah sembilan bulan lamanya Endang menjalani hidup sebagai penjual parfum keliling.
Setiap hari ia menyusuri jalan-jalan di Sragen, menawarkan botol demi botol parfum dengan harapan ada pembeli yang singgah.
Namun, hidup sebagai sales parfum tak selalu ramah.
Penghasilan Endang tidak menentu, bergantung pada target penjualan.
Bahkan untuk kebutuhan sederhana, ia kerap harus berhemat.
Apalagi untuk pulang kampung, dia tak punya biaya dan membuatnya tak bisa mudik.
Tapi, awal tahun 2026 menjadi titik balik bagi Endang.
Pertolongan datang dari sosok yang tak pernah ia duga sebelumnya, seorang perempuan muda bernama Rindi Cantika (23), pemilik konter ponsel di wilayah Sragen Kulon.
Pertemuan keduanya bermula sederhana.
Endang datang ke konter Rindi untuk memperbaiki ponsel miliknya yang rusak.
Saat itu, kerusakan pada tombol volume masih bisa diperbaiki.
Namun, beberapa hari kemudian Endang kembali.
Kali ini, ponsel tersebut benar-benar tidak bisa digunakan lagi.
“Pertama datang itu awal bulan ini. Datang lagi beberapa hari kemudian, tapi ternyata HP-nya sudah tidak bisa diperbaiki. Di situ saya merasa kasihan,” kata Rindi dihubungi TribunSolo.com, Rabu (21/1/2026).
Percakapan demi percakapan pun terjalin.
Dari situlah Rindi mengetahui ponsel tersebut merupakan fasilitas kerja dari perusahaan tempat Endang menjual parfum.
Baca juga: Ibu Balita Pengidap Sakit Langka di Karanganyar Live TikTok Berjam-jam, Cuma Dapat Rp25-30 Ribu
Tanpa ponsel, Endang kesulitan sekadar untuk berkomunikasi dengan keluarga di Banten.
Rindi pun tergerak.
Ia merekam kisah Endang dan mengunggahnya ke akun TikTok miliknya, @Riiindi.
Tak disangka, video tersebut menuai perhatian luas dari warganet.
Rasa empati mengalir deras di kolom komentar.
Melihat antusiasme itu, Rindi membuka donasi pada 14 Januari 2026.
Tiga hari berselang, tepat pada 16 Januari 2026, donasi yang terkumpul sudah mencapai Rp15,969 juta.
“Angka itu muncul tiga hari setelah open donasi. Saya kaget sekaligus terharu,” ujar Rindi.
Seluruh donasi tersebut, kata Rindi, diserahkan sepenuhnya kepada Endang.
Ia menegaskan, bantuan itu adalah amanah dari para donatur.
“Semua kami berikan ke bapaknya. Ini amanah dan harus sampai,” tegasnya.
Dana donasi tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan mendesak:
Selama berada di Sragen, Endang hampir setiap hari datang ke konter Rindi, bahkan bisa tiga hingga lima kali.
Bukan untuk memperbaiki ponsel, melainkan untuk meminjam jaringan demi melakukan panggilan video dengan keluarganya.
“Setiap hari video call, biar anaknya nggak kangen. Katanya pengin cepat-cepat pulang karena anaknya masih kecil,” tutur Rindi.
Dengan mata berkaca-kaca, Endang akhirnya bisa pulang ke Banten pada 16 Januari 2026.
Perjuangan sembilan bulan di tanah rantau terbayar dengan pelukan istri dan bayi kecil yang selama ini hanya ia sapa lewat layar ponsel.
Donasi hingga kini masih dibuka oleh Rindi, dan seluruhnya akan tetap diserahkan kepada Endang Saputra. (*)