TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Punya singkong atau ubi kayu di rumah, tapi bingung mau diolah menjadi makanan apa?
Biasanya singkong diolah menjadi samilan manis getuk, camilan gurih keripik atau direbus lalu digoreng dan disantap dengan sambal.
Atau jadi pelengkap makan sup, yakni sup ubi yang cukup populer di Sulawesi.
Adapula yang hanya dikukus sebagai pengganti nasi, mengingat singkong kaya karbohidrat dan sumber energi.
Di Sulawesi Tenggara (Sultra), khususnya Pulau Buton, Kota Baubau, ada camilan khas bernama Tuli-Tuli, berbahan dasar singkong.
Rasanya sedikit gurih, dengan ciri khas rasa singkong.
Kata "Tuli-tuli" bukan merujuk terkait gangguan pendengaran, melainkan istilah lokal gorengan berbentuk angka 8 yang dibuat dari ubi kayu parut kering (Kaopi).
Baca juga: Kasoami Makanan Khas Sulawesi Tenggara, Jadi Alternatif Pengganti Nasi Bagi Masyarakat Muna
Camilan ini cocok disantap saat meminum teh atau kopi.
Cara Buat Tuli-Tuli
- Singkong diparut dan dikeringkan secara alami, yakni dijemur di bawah sinar matahari.
- Ayak parutan ubi kayu yang dikeringkan (Kaopi), untuk menghasilkan adonan yang lebih halus dan mudah dibentuk.
- Kaopi dicampur dengan air hangat dan sedikit garam sebagai oerasa utama.
- Adonan Kaopi diuleni hingga rata, memastikan air dan garam meresap sempurna ke dalam serat singkong.
- Setelah mencapai konsistensi yang pas, adonan kemudian dipipihkan, digulung perlahan sampai berbentuk tabung panjang lalu dibentuk menyerupai angka 8 secara manual.
Baca juga: Menikmati Kelezatan Lapa-Lapa Makanan Tradisional dari Kepulauan Buton dan Muna Sulawesi Tenggara
- Kaopi kering sisa ayakan juga digunakan saat membentuk adonan agar tidak terlalu lengket di tangan. Selain mencegah lengket di tangan, penambahan Kaopi kering juga membuat hasil akhir lebih renyah saat digoreng.
- Adonan yang telah dibentuk diletakkan terpisah agar tidak saling menempel sebelum proses penggorengan.
- Wajan berisi minyak panas disiapkan, satu per satu Tuli-tuli dimasukkan dengan hati-hati.
- Proses penggorengan dilakukan dengan api sedang agar tidak cepat gosong di luar namun mentah di dalam.
- Saat permukaannya berubah warna menjadi keemasan, pertanda Tuli-tuli sudah matang dan siap diangkat.
Hasil akhir dari Tuli-tuli yang ideal adalah tekstur yang kokoh namun tidak keras, dan bentuk angka delapan yang utuh.
Tidak ada saus atau sambal yang menyertai saat penyajian, karena camilan ini memang dinikmati dalam bentuk aslinya.
Sejarah Tuli-Tuli
Beradasarkan sejarah dan asal usul makanan khas Tuli-Tuli ini kerap hadir sebagai bagian dari sajian khas, menandakan penghormatan terhadap warisan leluhur.
Dianggap simbol kebersamaan dan kesederhanaan, karena sering disajikan saat berkumpul bersama keluarga atau teman di sore hari.
Dahulu, Tuli-tuli dibuat sebagai alternatif makanan pokok saat beras sulit didapat, karena ubi kayu lebih mudah ditanam dan diolah.
Saat ini, masih dilestarikan. Terus diwariskan secara turun-temurun, terutama di kalangan ibu rumah tangga.
Tuli-tuli bukan hanya makanan ringan, tapi simbol dari kenangan, warisan, dan rasa kebersamaan.
Keunikan bentuk angka delapan melambangkan keberlanjutan dan filosofi keseimbangan hidup.
Meskipun bahan dan prosesnya sederhana, makna Tuli-tuli jauh lebih dalam dari sekadar rasa.
Bahkan menjadi jajanan di Kota Baubau, yang bisa kita dapatkan secara mudah di pedagang kaki lima. Tuli-tuli dijual Rp5 ribu per 4 buah.(*)
(TribunnewsSultra.com/Harni Sumatan/Amelda Devi Indriyani)