TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kasus gugatan atas dugaan penelantaran anak yang menyeret Denada masih jalani proses sidang perdata di Pengadilan Negeri Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (22/1/2026).
Konflik keluarga ini melibatkan Denada dengan pria yang mengaku anak kandungnya, Ressa Rizky Rosano (24).
Baca juga: Ressa Rizky Rosano Merasa Jadi Anak Terbuang, Sebut Denada Pernah Tawarkan untuk Dirawat Orang Lain
Namun dalam sidang ini, Denada kembali mangkir. Ia hanya diwakili tim kuasa hukumnya yang baru diganti. Sementara Ressa hadir didampingi tim pengacaranya.
Ketidak hadiran Denada pun membuat pihak Resaa Rizky Rosano meradang dan naik darah, karena gugatan mereka dianggap disepelekan.
"Pastinya ketidak hadiran Denada membuat kami sangat kecewa. Karena mereka sebelumnya meminta mediasi di luar persidangan, tapi tidak terwujud. Giliran sidang tidak hadir, mana itikad baiknya," kata Ronald Armada dalam wawancara virtual, Kamis malam.
Pihak Ressa memberikan ultimatum keras kepada Denada. Jika tidak ada itikad baik dalam mediasi, mereka siap membongkar seluruh fakta dan aib di persidangan terbuka.
Ronald menyayangkan sikap Denada yang dinilai tidak memanfaatkan forum mediasi yang bersifat tertutup, untuk menyelesaikan masalah secara kekeluargaan.
"Kalau memang mereka sudah enggak ada itikad, berarti pihak tergugat sudah siap untuk membedah perkara ini hingga sampai ke manapun. Artinya di ruang publik," ucapnya.
Baca juga: Denada Ingin Damai di Luar Pengadilan, Benarkah Tanda Ressa Diakui sebagai Anaknya?
Ronald mengingatkan Denada bahwa sebagai public figure, sang artis memiliki risiko besar jika aib keluarga terbongkar di pengadilan yang terbuka untuk umum.
"Jadi kalau memang mereka sudah siap, Insyaallah kami lebih siap. Kalau peristiwa hukum ini sudah pure bisa diketahui oleh publik sampai membuka aib ke mana-mana, ya jangan salahkan kami," jelasnya.
Ronald menyebut bahwa kunci penyelesaian masalah ini sebenarnya sederhana. Akan tetapi, semua dibuat rumit oleh Denada sendiri.
"Sederhana kok sebetulnya, entry pointnya adalah permintaan maaf. Ini orang enggak merasa bersalah kan kalau begitu? Itikad baik tidak ada, masa minta maaf tidak mau," ungkapnya.
Pihak Ressa menegaskan bahwa mereka siap bertarung di meja hijau dan membuktikan segala dalil, termasuk soal sengketa mobil dan dugaan penelantaran anak diduga dilakukan Denada.
"Kalau siap dengan risikonya ya monggo ayo. Saya juga siap dengan risikonya kok. Kalau saya mau ada laporan polisi, entah pencemaran nama baik, saya siap!" ujar Ronald Armada.
"Kami membuka ini agar mendapatkan social justice. Biar masyarakat yang menilai siapa yang benar," tambahnya.
Ronald menceritakan alasan dirinya mendampingi Ressa untuk menggugat Denada ke Pengadilan, karena adik Denada yang membuat ulah lebih dulu.
Ronald menceritakan kalau Ressa hidup dengan Dino Rossano dan istri yang dianggap sebagai ayah dan ibunya, padahal mereka adalah Paman dan Tante dari Ressa.
"Resaa menganggap mereka Ayah dan ibu, padahal Paman dan tantenya. Nah orang yang dianggap orang tuanya Ressa, adalah orang tua saya," kata Ronald.
Ronald menegaskan bahwa ada rasa sakit hati mendalam yang dirasakan oleh keluarganya, pemicunya adalah insiden yang terjadi di Banyuwangi, Jawa Timur.
Dimana ibunda Ressa (mertua Ronald) tiba-tiba didatangi polisi atas laporan dari pihak keluarga Denada.
"Saya sebagai anak menantunya, sakit hati ketika ibu saya, mertua saya didatangi polisi, dituduh melakukan penggelapan mobil," tegas Ronald Armada.
Ronald menceritakan kronologi kejadian yang membuat ibunya sampai jatuh sakit. Saat itu, ia sedang berada di Surabaya ketika menerima telepon dari mertuanya yang menangis sesenggukan.
"Mertua saya telepon sambil menangis, sesak napas. Beliau bilang, 'Le, Mama didatangi polisi. Mama dilaporkan katanya melakukan penggelapan mobil'. Kaget saya!" ungkap Ronald.
Setelah ditelusuri, laporan tersebut ternyata dilayangkan oleh Muhammad, adik laki-laki Denada. Pihak Denada menuduh ibunda Ressa menggelapkan mobil yang STNK-nya atas nama Muhammad.
Padahal, menurut Ronald, mobil tersebut sehari-hari digunakan dan dicicil oleh Ressa.
"Itu yang bikin saya jengkel, yang bikin saya marah. Enggak tambah terima kasih, malah dilaporkan polisi. Kan lucu," ungkapnya.
Meski laporan polisi (LP) tersebut akhirnya tidak berlanjut karena diselesaikan secara kekeluargaan berkat hubungan baik Ronald dengan pihak kepolisian setempat, luka hati keluarga Ressa sudah terlanjur menganga.
Sikap pihak Denada yang dinilai arogan dan menantang untuk memviralkan kasus ini akhirnya membuat Ronald mengambil langkah tegas.
"Adiknya (Denada) bilang, 'Ya sudah viralkan'. Ya sudah saya datang. Akhirnya saya ajukan gugatan. Karena saya jengkel, itu faktanya senyata-nyatanya," ujar Ronald Armada.
Sebelumnya, Denada melalui kuasa hukumnya Muhammad Iqbal mengurai kekecewaan ibu anak satu tersebut.
Ia tak memungkiri kliennya kecewa pada sosok Dino Rossano Hansa yang merupakan paman dan satu-satunya adik dari ibu kandungnya.
"Mbak Denada kemarin sangat menyesalkan terkait permasalahan ini. Penggugat dua kan masih paman, masih adiknya mamanya dan satu-satunya yang masih ada," ujar Iqbal, dikutip dari YouTube Insertlive, Kamis (15/1/2026).
Menurut Iqbal, Dino seharusnya menjadi sosok ayah baginya.
"Seharusnya dia jadi ayah terhadap Mbak Denada meskipun tidak secara langsung ya kan bisa dimintai nasihatlah," imbuhnya.
"Mamanya udah nggak ada, Omnya kan bisa dianggap sebagai ayahlah intinya. Kok malah gini," beber Iqbal lagi.
Pihaknya menyoroti sikap paman Denada menanggapi masalah ini.
"Bukan masalah penyelesaiannya, lebih ke sikapnya ini loh," tambah Iqbal.
(Ari).