TRIBUNJATIM.COM - Inilah kisah Michael Octavian (16), manusia silver yang kini jadi model profesional.
Dulu ia sering berada di perempatan lampu merah di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat.
Namun, kini Michael menapaki lantai catwalk dengan bayaran yang fantastis.
Bagaimana awal mula hidupnya berubah?
Baca juga: Sehari Bisa Dapat Rp120 Ribu, Lita Tak Malu Jadi Manusia Silver, Pendam Impian Kerja Pramugari
Hidup Michael berubah 180 derajat setelah bertemu dengan seorang pengusaha barbershop.
Yogi Ang, pemilik Captain Barbershopid itu melihat potensi besar di balik lapisan cat perak yang menutupi wajah Michael.
Saat itu pemuda yang akrab disapa Mike ini yang sedang bekerja seperti biasa menjadi manusia silver, ditawarkan untuk di-makeover dan dijadikan konten oleh pemilik Captain Barbershop.
Rambut Michael yang kusam dipotong dengan gaya modern yang menonjolkan fitur wajahnya yang tegas.
Ia ditangani oleh pengarah gaya yang mengganti baju lusuhnya dengan pakaian high-end.
Hasilnya mengejutkan banyak orang.
Michael ternyata memiliki struktur tulang wajah yang sangat kuat (strong jawline) dan postur tubuh yang proporsional, kriteria utama yang dicari dalam dunia modeling internasional.
Video makeover oleh tim Captain Barbershop pada Juli 2024 mengungkap wajah fotogeniknya di balik cat perak, menyebar cepat di media sosial.
Netizen kagum dengan postur 181 cm dan karisma alaminya, membuka pintu kolaborasi brand fashion lokal.
“Aku ada (di konten) Captain Barbershop untuk bikin video make over,” kata Mike, saat menjadi bintang tamu di acara Pagi Pagi Ambyar TransTV, Rabu (21/1/2026), dilansir dari Grid.id via TribunSumsel.
Tak berselang lama, ternyata penampilan Mike itu menarik perhatian beberapa agency modelling.
Pintu menuju kesuksesan bagi Mike di bidang fashion justru terbuka lebar.
Tepatnya, di tahun 2024, kesempatan besar datang kepada Mike, saat jenama Signore mengajaknya berkolaborasi.
Mike mendapatkan tawaran untuk berjalan di panggung fashion, membawa nama besar desainer kenamaan.
“Video aku viral, ada agency yang tertarik dengan Mike. Pas video viral itu, aku lagi minta-minta di lampu merah, ada yang videoin,” kata Mike sambil tertawa.
Kesempatan ini tentu menjadi karpet merah bagi Mike yang merupakan pendatang baru di dunia modelling dan fashion.
Hal ini sekaligus mengenalkan Mike lebih jauh ke skena fashion lokal dan sejak saat itu, kariernya terus berkembang.
Bahkan, kini Mike tergabung dalam Humann Management.
“Gak sangka banget, aku gak tau video aku viral. Ada banyak teman support aku,” katanya.
Sekarang, jam terbang Mike sebagai seorang model juga meningkat.
Sambil menunduk malu, ia mengaku sudah pernah dipercaya untuk berjalan di runway bergengsi digelar di sebuah mal eksklusif di Jakarta.
“Aku sudah jalan di panggung Plaza Indonesia Fashion Week dan (pakai baju dari) desainer. Awalnya tegang, hati mah senang bisa jalan di panggung itu, tapi dengkul bergetar,” canda Mike.
Sebelumnya, Mike terang-terangan hanya bisa menghasilkan uang puluhan sampai ratusan ribu per hari saat menjadi manusia silver.
“Rp80-100 ribu sehari,” kata Mike. “Pernah (hampir kena razia Satpol PP) tapi lari,” ujar Mike sambil tertawa.
Baca juga: Bocah Manusia Silver Nangis Dimarahi Ibu Gegara Hasil Mengemis Kurang, Dinas PPPA Beri Teguran
Kekhawatiran ibunda Mike tentu sangat beralasan.
Ia tak ingin hal buruk terjadi pada putranya, toh Mike masih memiliki orangtua lengkap yang bekerja, ayahnya bekerja sebagai sopir dan sang ibu berdagang ikan asin di pasar tradisional.
“Mike pertama (jadi manusia silver) umpet-umpetan dari mama papanya, saya dagang ikan asin di pasar, saya dengar ada razia, takutnya Michael (ketangkap) tapi ternyata dia kabur,” kata ibunda Mike, Susan.
“Saya marahin, gak usah (jadi manusia silver lagi) kita juga masih bisa (biayain) sedikit-sedikit, tapi mungkin dia mau mandiri,” kata Susan sambil menangis.
Kini, sambil malu-malu, Mike bisa mendapatkan bayaran besar untuk sekali tampil.
Hal ini membuat sang ibu haru sekaligus bangga.
“Alhamdulilah iya (bayaran berkali-kali lipat),” kata Mike .
Sejak kecil, Lita (20) bercita-cita jadi pramugari, profesi yang baginya memadukan keanggunan dan kebebasan.
Namun, Lita tak pernah menyangka ia akan mencari rezeki dengan menjadi manusia silver.
Ia pun terpaksa memendam keinginannya menjadi pramugari.
Keterbatasan ekonomi membuat sekolahnya tersendat.
Orang tuanya berpindah-pindah tempat tinggal, memutus ritme pendidikan yang dibutuhkannya.
"Mama pindah ke kampung, ke Jakarta, bolak-balik jadi terhambat sekolahnya," tutur Lita perlahan, Kamis (11/12/2025), dikutip dari Kompas.com.
Baca juga: Keberadaan Ibu yang Suruh Anak Jadi Manusia Silver Dicari Satpol PP, Komnas Anak Duga Eksploitasi
Kala usia 17 tahun, ia terseret pergaulan yang membuatnya hamil di luar nikah.
Sejak itu, mimpi berseragam pramugari menguap, digantikan tanggung jawab sebagai ibu muda.
Kini, ia lebih banyak menunduk bila mengenang cita-cita yang pernah dijinjingnya dengan bangga.
"Saya jujur aja kalau belum punya anak, saya pengin sekolah, pengin mengejar cita-cita lagi gitu jadi pramugari," ujarnya.
Dengan postur tubuh tinggi dan langkah penuh percaya diri, ia pernah yakin takdirnya suatu hari akan membawanya menyapa penumpang di ketinggian udara.
Kini gadis yang dulu bermimpi terbang tinggi, harus berpijak kembali pada tanah dengan cara yang tak pernah ia bayangkan.
Pandemi Covid-19 menjadi titik balik lain dalam hidupnya.
Setelah sempat bekerja di toko dan konveksi, Lita terkena PHK.
Suaminya hanya mengandalkan penghasilan sebagai juru parkir, yang kerap kali bahkan tak cukup untuk makan sehari-hari.
Kontrakan kecil mereka tetap harus dibayar.
Anak dan ibunya tetap harus disokong.
Di tengah kebingungan, Lita melihat tetangganya, Hendrik, pulang dengan tubuh tertutup cat silver, tetapi membawa uang lebih banyak dari biasanya.
"Pas dia nyilver, kita tanya emang dapatnya gede, dia bilang iya gede, coba aja," kata Lita.
Dari sebuah keputusasaan kecil itulah, Lita akhirnya berdiri di depan cermin lusuh kontrakannya dan menorehkan cat berwarna perak ke wajah, leher, tangan, dan kakinya.
Ia duduk di depan kontrakan semi permanen yang dindingnya mulai kusam dimakan waktu di sebuah gang sempit di Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Tangannya menggenggam kuas kecil, sementara aroma cat sablon berwarna silver perlahan memenuhi udara pagi.
Dalam percobaan pertamanya sebagai manusia silver di lampu merah Pluit, ia pulang membawa uang yang cukup membuatnya menangis, bukan karena bangga, tetapi karena lega.
Sejak hari itu, cat silver menjadi 'seragam barunya'.
Baca juga: Suami Terpaksa Jadi Manusia Silver Demi Dapat Uang Rp70 Ribu Sehari, Ngaku ke Istri Kerja Sopir
Di lingkungan kontrakan yang berdempetan dengan rel kereta Kampung Bahari, profesi manusia silver telah menjadi semacam perkumpulan tak resmi.
Kakak, ponakan, dan belasan tetangga Lita kini ikut menekuni hal serupa.
"Di sini kalau lagi banyak mah bisa 13–14 orang," ucap Lita.
Setiap pagi, mereka duduk berjejer di depan pintu kontrakan, mencampur cat sablon dengan minyak sayur, lalu melumurinya ke seluruh tubuh.
Wajah-wajah yang semula cerah berubah menjadi topeng logam yang dingin.
Lita sendiri sulit dikenali setelah tubuhnya tertutup warna perak.
Mereka kemudian berjalan menyusuri pinggir rel, mencari kontainer yang bersedia memberi tumpangan menuju lampu merah Emporium Pluit, 'ruang kerja' tak resmi tempat mereka mengais rezeki.
Dengan ember putih yang ia sodorkan pada pengendara, Lita berharap ada seribu atau dua ribu rupiah yang jatuh ke tangannya.
"Kalau ada kerjaan lain juga saya enggak mau (jadi manusia silver), siapa sih yang mau dicat-cat kayak orang gila begini," kata Lita.
Namun, realita lebih kuat dari rasa malu.
Baca juga: Satpol PP Kaget Didatangi Manusia Silver Minta Ditangkap, Ternyata Kangen Istri yang Terjaring
Setiap hari, Lita mendapatkan Rp50.000 hingga Rp120.000, uang yang digunakannya untuk makan, kontrakan, dan kebutuhan anaknya.
"Kalau dibilang cukup enggak cukup, dicukup-cukupi, mau gimana lagi," katanya.
Di balik semua itu, ada seorang ibu bernama Sadiah (63) yang setiap malam memanjatkan doa.
Ia tahu kehidupan anak dan cucunya keras, terlalu keras untuk tubuh muda yang seharusnya meraih mimpi, bukan menahan panas cat dan tatapan pengendara.
"Aduh bukan sedih lagi, kalau ada kerjaan yang layak mah mendingan yang lain."
"Siapa orang tua yang enggak mau lihat anaknya enggak senang kan? Enggak ada," kata Sadiah.