SURYA.co.id – Nama Kms Haji Abdul Halim Ali atau yang akrab disapa Haji Halim dikenal luas sebagai salah satu pengusaha besar Palembang.
Sosoknya disegani, jejak bisnisnya panjang, dan kiprahnya meninggalkan pengaruh nyata bagi kota ini.
Namun, di balik reputasi besar itu, ada satu kisah yang jarang dibicarakan.
Sebuah cerita sederhana tentang kepercayaan, tentang kalimat singkat yang diam-diam menjadi fondasi kokoh bagi kerajaan bisnis yang ia bangun.
Bagi Haji Halim, pondasi itu bukan modal besar atau jaringan elite. Pondasi itu bernama Nyimas Hj Aminah, sang istri yang setia mendampingi hidup dan perjuangannya.
Dalam sebuah wawancara yang pernah disampaikannya pada 23 Februari 2023, Haji Halim mengungkap satu momen krusial yang mengubah arah hidupnya.
Bukan rapat bisnis, bukan kontrak besar, melainkan satu kalimat penuh kepercayaan dari sang istri.
"Ibu haji ini (Nyimas Aminah) nyerahin pabrik bapaknya 'kau pimpinlah', ada uwaknya juga belum menikah ngasih aku saham kosong pimpinlah pablik, akhinya aku bikinlah Sentosa Jaya," kata Haji Halim kala itu, dikutip SURYA.co.id dari Sriwijaya Post.
Kalimat “kau pimpinlah” terdengar sederhana.
Namun dalam dunia bisnis yang keras, penuh ego dan pertaruhan, kalimat itu adalah bentuk trust total.
Kepercayaan tanpa syarat, tanpa prasangka, dan tanpa keraguan.
Di titik inilah, Nyimas Hj Aminah bukan hanya hadir sebagai pasangan hidup, tetapi sebagai penopang psikologis dan moral.
Ia meyakinkan orang tuanya, membuka jalan, dan menyerahkan kepercayaan penuh pada sang suami untuk memimpin usaha keluarga.
Nyimas Hj Aminah tidak berdiri di depan kamera, tidak tampil dalam jajaran direksi, namun kehadirannya terasa nyata sejak fase paling awal.
Dari kepercayaan itulah, Haji Halim membangun Sentosa Jaya, yang kemudian menjadi bagian dari perjalanan panjang bisnisnya.
Baca juga: Harta Kekayaan Haji Halim Crazy Rich Palembang yang Meninggal Dunia, Ini Deretan Bisnisnya
Kisah mereka adalah cerita zero to hero versi nyata, bukan tentang lonjakan instan, melainkan pertumbuhan yang dibangun dari kesetiaan, dukungan emosional, dan keyakinan bersama.
Tak hanya di ranah bisnis, figur Nyimas Hj Aminah juga dikenal luas sebagai pribadi yang hangat dan dermawan. Kesaksian datang dari lingkungan terdekatnya.
"Pak Haji dan Cik Minah, sering berbagi ke tetangga, terutama di bulan puasa," ujar Abdurachman, tetangga di Jalan Dr M Isa No 1, kediaman KMS H Halim.
Kedermawanan itu menjadi cermin bahwa kesuksesan bagi mereka bukan sekadar akumulasi aset, tetapi juga kebermanfaatan sosial.
Nyimas Hj Aminah lebih dulu berpulang pada Rabu (11/12/2024) di RS Siti Fatimah Palembang.
Ia meninggalkan enam anak dari pernikahannya dengan Haji Halim:
Dua tahun setelah kepergian sang istri, Haji Halim menyusul pada Kamis (22/1/2026) di usia 88 tahun.
Ia menghembuskan napas terakhir di RSUD Siti Fatimah Palembang setelah menjalani perawatan intensif di ruang CVCU.
Kabag Humas dan Protokol RSUD Siti Fatimah, Sella Okarina, membenarkan kabar tersebut.
"Memang benar meninggalnya di RSUD Situ Fatimah, H Halim meninggal sekitar pukul 14:23 WIB. Terakhir tadi dirawat di ruang CVCU," ujarnya.
Jenazah Haji Halim kemudian dibawa ke rumah duka sekitar pukul 15.21 WIB menggunakan ambulans RSUD Siti Fatimah, diiringi kendaraan keluarga.
Kisah Haji Halim dan Nyimas Hj Aminah meninggalkan pelajaran sederhana namun mendalam. yakni kesuksesan besar sering lahir dari hubungan yang matang secara emosional.
Bagi pasangan muda yang ingin membangun bisnis bersama, ada beberapa pelajaran penting:
Kalimat “kau pimpinlah” bukan sekadar izin. Ia adalah bentuk cinta yang diwujudkan dalam kepercayaan.
Dan dari sanalah, sebuah dinasti bisnis Palembang pernah tumbuh, diam-diam, namun berdampak besar.