Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Restoran Merambah Rasa menawarkan pengalaman berbeda dalam menikmati hidangan Nusantara.
Berada di Jalan Rancakendal No.9, Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kota Bandung, tempat ini lokasinya cukup hidden gem.
Meski demikian, jaraknya cukup strategis dari Terminal Dago yakni 2 KM dengan estimasi waktu delapan menit bila menggunakan sepeda motor.
Selain itu, tempat ini bisa jadi salah satu pilihan strategis untuk hidden escape atau pelarian tersembunyi. Pasalnya, suasana di kawasan ini berada di dataran tinggi dengan suasana sejuk yang menyelimuti.
Area ini dipilih karena dinilai memiliki daya tarik dari sisi suasana, udara, dan kedekatannya dengan kawasan pariwisata.
Konsep yang diusung Merambah Rasa bukan sekadar makan, melainkan berbagi.
Sajian dihidangkan untuk disantap bersama di tengah meja, menyerupai tradisi makan keluarga atau komunitas.
Setiap menu diracik dengan pendekatan yang tidak biasa. Bahan-bahan lokal dipelajari ulang, diolah melalui riset panjang, lalu disajikan dengan sentuhan baru tanpa meninggalkan karakter aslinya.
Salah satu menu yang mencuri perhatian adalah olahan pete. Bahan yang kerap memicu pro dan kontra ini disajikan dengan cara berbeda.
Pete diiris tipis, dimasak dengan bumbu rempah, dan diolah hingga aroma khasnya tidak lagi mendominasi.
“Rasanya mirip kacang. Rasa kecut dari pete nyaris tidak terasa,” kata Rizal, salah satu pengunjung, Sabtu (24/1/2026).
Menu pete ini dibanderol dengan harga sekitar Rp148 ribu.
Meski demikian, nilai tersebut sebanding dengan proses dan kualitas bahan baku yang digunakan.
Moch Sandy, Vicaris Advisory Ops Specialist Consultant Merambah Rasa, menjelaskan, soal harga, pihak restoran menegaskan kualitas menjadi prioritas.
Dikatakan Sandy, beberapa bahan baku didatangkan langsung dari daerah asal karena karakter rasa tidak bisa disamakan.
“Satu bahan seperti santan atau minyak saja, kalau asalnya beda, hasil olahannya juga beda,” katanya.
Menurutnya, restoran ini menyasar segmen keluarga dan komunitas.
Karena itu, konsep penyajiannya tidak menggunakan satu piring berisi menu lengkap, melainkan sistem memilih sesuai selera.
Pengunjung bisa menentukan sendiri kombinasi makanan, mulai dari karbohidrat, protein, hingga sayuran.
“Misalnya ingin nasi dengan kerecek, lalu tambah sayur ares. Sayur ares ini kita ambil dari Lombok, dari batang pohon pisang,” ujarnya.
Model sajian ini memungkinkan makanan disantap bersama.
“Satu meja bisa berbagi, cocok untuk keluarga atau komunitas,” kata Sandy.
Sementara itu, Satrio Bayu Hadi, FB Holding Manager Merambah Rasa, menyebut restoran ini lahir dari perjalanan panjang pihaknya menjelajahi berbagai daerah.
Menu yang disajikan terinspirasi dari hasil riset kuliner di berbagai daerah di Nusantara.
Dia mencontohkan, pihaknya melakukan riset di Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara Barat.
"Oleh karena itu, Merambah Rasa mengusung konsep dekonstruksi. Setiap hidangan dipelajari dari bahan dasar, bumbu utama, hingga teknik pengolahan, lalu diterapkan ke bentuk atau protein lain," kata dia
Dia mencontohkan, bumbu sate rembiga khas Lombok yang diolah menjadi nasi goreng, atau sate bulayak yang proteinnya diganti.
Bahkan, ada rencana menyajikan bahan pangan yang belum umum di Bandung, seperti burung emprit dari Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
“Secara rasa kami ulik, lalu disesuaikan dengan apa yang kami temukan di lapangan,” ujarnya.
Guna menjaga konsistensi rasa dan kualitas, Merambah Rasa membangun sistem dapur terpusat atau central kitchen.
Racikan bumbu dibuat di dapur produksi sebelum disajikan, melalui proses uji kualitas berbulan-bulan.
Muhammad Taufiq dari FoR Brand Consultant menambahkan, menjaga keaslian rasa menjadi tantangan tersendiri karena bahan baku berasal dari berbagai daerah. Namun melalui kurasi vendor dan standar produksi yang ketat, kualitas tetap dijaga.
Di tempat yang sama, Aulia Akbar, FoR Brand Consultant Merambah Rasa mengatakan, setelah perjalanan di Jawa dan Lombok. Ke depan memungkinkan merambah ke sajian Sulawesi, Kalimatan dan Sumatera.
“Merambah Rasa kami posisikan sebagai perjalanan, bukan produk akhir,” kata Aulia.
Dengan begitu, menurutnya, sebuah perjalanan rasa yang terus berkembang mampu menjaga eksistensi di tengah geliat food and beverage.